Polemik Legalitas Rokok di Area Kampus

Suasana liburan masih terasa, terhitung seminggu setelah libur panjang. Seluruh penjuru Universitas Negeri Malang (UM) kembali riuh. Senin sore yang tak biasa, (29/08) Gedung Sasana Budaya terlihat ramai. Pasalnya, UKM Gerakan Mahasiswa Anti Napza (German) mengundang seluruh perwakilan ormawa UM dalam rangka Forum Group Discussion (FGD) yang mengangkat tema “Jungkat-Jungkit Rokok”. Acara ini dihadiri pula oleh Wakil Rektor (WR) III, Dr. Syamsul Hadi, M.Pd, M.Ed. Teknisnya, setiap perwakilan dipertemukan sebagai perantara bagi mahasiswa dalam membahas legalitas rokok di area kampus UM.


Diskusi dimulai sekitar pukul 19.00 WIB, dipimpin oleh seorang moderator dengan beberapa kelompok forum diskusi. Setiap regu terdiri atas anggota dari beragam organisasi. Hal tersebut bertujuan agar setiap angota dapat berbaur dan berbagi pemikiran. Suasana diskusi semakin terlihat keseruannya dikarenakan tempat duduk anggota forum didesain membentuk lingkaran dengan kursi mengelilingi meja yang berjumlah sembilan kubu.
Sesi pertama FGD adalah diskusi kecil dari setiap regu dengan waktu yang telah ditentukan. Diskusi kecil membahas mengenai data berupa fakta dari UKM GERMAN. Namun, data ini tidak mutlak dijadikan patokan, bahkan peserta diskusi dapat merujuk dari referensi lain. Berdasarkan hasil survei dapat diketahui bahwa mahasiswa yang terganggu akibat rokok sebanyak 87%, 13% tidak terganggu, mahasiswa yang diam saja sebanyak 5%, dan yang menyindir 5%, mirisnya tingkat mahasiswa untuk mengingatkan perokok aktif masih 0%. Bahasan diskusi masih berkutat tentang hak perokok aktif untuk dapat mengaktualisasi dirinya tanpa mengganggu perokok pasif sehingga perokok pasif bisa terhindar dari perokok aktif. Sesudah waktu yang telah ditentukan, semua meja wajib mengemukakan pendapat. Suasana bergulir memanas karena setiap tim dari sembilan meja mempertahankan pendapat masing-masing. Moderator mencoba memecah ketegangan dengan menampung semua pendapat lalu melanjutkan sesi kedua, yakni diskusi besar.
Diskusi besar tidak serta-merta menjadi jalan keluar yang terbaik. Salah satu meja bahkan ada yang sampai angkat tangan tidak mau memberikan pendapat untuk masalah rokok yang ada di universitas. Tapi hal itu tidak membuat meja lainya bungkam, semuanya kembali menelaah solusi dan pendapat yang telah dilontarkan. Hingga pada sesi terakhir, yaitu pencarian solusi, semua meja kembali menjalin perdebatan. Dialog silang pendapat pun kembali mewarnai diskusi malam itu. Selepas ormawa bergulat pendapat untuk saling tukar pikiran, mereka berunding mencari kemufakatan. Menghasilkan buah pikiran berupa solusi terbaik dari polemik legalitas rokok di area kampus.
“Setidaknya goal setting dari acara FGD ini adalah adanya kebijakan dari universitas untuk melindungi perokok pasif dan ada ruangan bagi perokok aktif, sehingga terciptai suasana yang saling menghargai,” ujar Wahyudi, Ketua Umum UKM German di sela-sela acara berlangsung.
Acara berlanjut hingga hampir tengah malam, tepat pukul 10.30 WIB hasil diskusi dibacakan. Fokus pada solusi yang telah disarankan yakni legalitas rokok di dalam kampus sebenarnya legal namun bersyarat. Maka dari itu, terdapat sebuah petisi yang ditandatangani oleh seluruh ormawa untuk diserahkan pada pimpinan. Isi petisi kesepakatan hasil FGD menyepakati bahwa perlu adanya perlindungan perokok dan nonperokok di dalam kampus. Selain itu, perlu disediakan area khusus perokok dan atau area bebas rokok di dalam area kampus.Iven

Bagikan informasi ini: