Balutan Budaya dalam Trend Fashion 2017

Perhelatan  bergengsi kembali mewarnai gedung Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang (UM)  pada Minggu (05/11). Pasalnya desainer muda jebolan Tata Busana UM menggelar “Grand Show Bhinneka Trend Fashion 2017”. Bekerjasama dengan University Tekhnoloy Mara Malaysia yang diwakilkan langsung oleh Dr. Asliza Aris sebagai programe coordinator of fashion design. Menampilkan tren desain nusantara yang dikemas secara modern dari berbagai daerah yang ada di Indonesia, seperti Jawa, Bali, Sumatera, Sulawesi, Papua, dan Kalimantaan.
Mengusung tema “Bhinneka” berarti adanya berbagai macam budaya  yang berbeda dari pulau-pulau besar yang ada di Indonesia. Hal inilah yang melatarbelakangi kreasi gelar cipta busana yang mengintegrasikan modern culture tanpa menghilangkan karakteristiknya. Alhasil, delapan sub-tema mewarnai kegiatan  fashion show, yakni Royaume yang menonjolkan Jawa, Vigilant menampilkan keelokan Bali, Fulimoluccas memamerkan Maluku, Carvacritetter yang mempresentasikan Sulawesi, lalu Numericraft menyuguhkan keunikan Papua, selanjutnya Namisoa memamerkan Nusa Tenggara Timur, dan Maharupatera membawakan karakter Sumatera, serta Neodynamic untuk Kalimantan. Acara dibuka dengan ditandai  hadirnya  Dr. Andoko, ST. MT., sebagai Dekan Fakultas Teknik (FT), Agoeng Soedir Poetra sebagai koreografer pagelaran, Dra. Endang Prahastuti, M.Pd. sebagai Ketua Program Studi (Kaprodi) Tata Busana, Dra. Esin Sintawati, M.Pd. sebagai Ketua Jurusan Teknologi Industri (TI), dan Dra. Sri Eko Puji Rahayu, M.Si. sebagai dosen pembimbing, serta Nurul Hidayati, S.Pd., M.Sn. sebagai dosen pembina perencanaan pameran hingga penanggung jawab acara “Bhinneka”, Agus Sunandar, S.Pd, M.sn.
Hebatnya, selain membuat baju, desainer juga harus aktif dalam kepanitiaan. Selain itu, setiap mahasiswa yang mengikuti pagelaran diwajibkan membuat dua baju, yakni ready to wear dan avantgrade. Namun, hal tersebut tidak lantas membuat acara kurang maksimal. Justru melahirkan kesuksesan dengan hadirnya guest star Vidi Aldiano. Acara berlangsung sukses, meski proses pengerjaan pagelaran lebih singkat dibandingkan tahun lalu. Uniknya, di setiap keluarnya model untuk memeragakan busana juga diselingi tarian modern tradisional terlebih dahulu untuk mewakili sub-tema busana yang diperagakan. Selain itu, rangkaian acara menarik lainya adalah pengumuman bagi desainer dengan kategori The Best of The Best.
Kali ini peraihan gemilang tersebut diperoleh dari tim Namisoa yang memfokuskan pada tema Cryptic Irredescent pada Trend Fashion 2017 Grey Zone. Ciri khasnya terdapat pada craft yang membentuk kain berupa sisik, serta penekanan karakter komodo yang dikombinasikan dengan kain tenun khas Nusa Tenggara, anyaman, ayam hutan, dan pasir pantainya yang putih. Semua di kombnasikan jadi satu. Filosofi itulah yang menghantarkan desain busana Maddi oleh Yushatea Doro Putri sebagai The Best of The Best.
“Sempat H-1 penilaian baju saya kekurangan bahan, sedangkan bahan harus dibeli di Surabaya. Saya langsung ke sana dan malamnya menyelesakan jahitan untuk besoknya pemotretan. Tapi tetap saja tidak terkejar dan harus mengikuti pemotretan susulan,” ujarnya sembari mengingat perjuangan membuat karya luar biasa. Perempuan dua puluh tahun itu juga menambahkan bahwa busana yang ia buat terinspirasi dari karakter komodo sebagai predator yang ditakuti. Selain itu, ada pesan yang ingin disampaikan dalam karyanya yakni perwujudan sosok ratu yang ditakuti dan dihormati oleh rakyatnya. Tetapi sang ratu memiliki hati lembut seperti bulu yang ada pada desain baju.Iven

Bagikan informasi ini: