Jadi Menteri, Berangkat dari Sini !

Oleh : Ardi Wina Saputra

Pendidikan di Indonesia baru saja digemparkan dengan kebijakan pergantian menteri yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo. Salah satu menteri yang diganti adalah Menteri Pendidikan Anies Baswedan. Menteri muda yang belum genap menjabat satu periode ini digantikan oleh sosok yang sudah tak asing lagi bagi para akademisi di Kota Malang. Siapa lagi kalau bukan Prof. Dr. Drs. H. Muhadjir Effendy, M.Si. Muhadjir merupakan dosen di beberapa perguruan tinggi ternama di Kota Malang, termasuk Universitas Negeri Malang (UM). Selain itu, dia juga pernah menjabat sebagai rektor di Universitas Muhammadiyah Malang selama tiga periode berturut-turut. Setiap tugas yang diberikan padanya selalu membuahkan hasil membanggakan. Kepiawaian tersebut yang membuat presiden melirik Muhadjir untuk mengemban amanah melaksanakan tugas memimpin pendidikan di negeri ini. Namun siapa sangka, di balik kesuksesan dan keberhasilannya itu, Muhadjir mengawalinya dari tempat ini, dari lembar demi lembar halaman majalah ini, Majalah Komunikasi UM.
Ketika Muhadjir terpilih menjadi menteri pendidikan, berbagai media massa baik lokal maupun regional menyorot kiprahnya sejak muda hingga sekarang. Sungguh menakjubkan, menteri berusia 61 tahun itu ternyata merajut asa dari Majalah Komunikasi UM. Saat berkarya di UM, Muhadjir membutuhkan wadah untuk menuangkan pemikirannya yang kritis dan bernas. Itulah sebabnya ia mendirikan Komunikasi UM. Saat muda dulu tak ada yang mengira, Muhadjir akan sesukses sekarang. Ia bahkan sama seperti kita, menjadi mahasiswa kampus ini dan menulis segala pemikirannya di majalah kampusnya sendiri. Hanya satu yang ada dalam pikirannya, yaitu setia pada dunia jurnalistik dan tulis menulis.

Jurnalis Kampus
Keberhasilan Muhadjir Effendy menjadi menteri harusnya mampu mendongkrak semangat para jurnalis kampus. Selama ini tak jarang orang masih menganggap remeh bahkan memandang sebelah mata, seorang jurnalis kampus. Bahkan tidak jarang posisi mereka ini seringkali disepelekan oleh teman-temannya sendiri. Menjadi jurnalis kampus memang tak segagah jurnalis resmi yang bekerja di media massa tekenal. Sebenarnya apabila dipandang dari sisi materialis, maka jadi jurnalis kampus sebenarnya tak seberapa bayarannya. Seringkali habis untuk transport, wawancara, atau untuk membeli sebungkus nasi, dan sebotol air mineral ketika lelah sepulang meliput berita. Jurnalis kampus yang bergerak di bidang pers mahasiswa (persma) malah lebih mandiri untuk menghidupi medianya. Tak sedikit dari mereka yang iuran atau mencari sponsor demi menerbitkan karya-karya jurnalistiknya. Sungguh sangat tidak mengenakkan, bukan?
Di balik jerih payah perjuangan para jurnalis kampus, ada keuntungan yang berlipat-lipat jauh lebih mahal dibanding bayaran yang mereka terima per bulan. Keuntungan yang kasat mata, yang tak bisa ditukar dengan uang, bahkan tak terjamah secara fisik. Keuntungan tersebut adalah pengalaman yang tak dapat dibeli dan tak ternilai dengan lembaran uang setebal apapun. Pengalaman yang membuat seorang jurnalis kampus tiga puluh tahun silam mampu duduk di kursi kementerian tahun ini. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, mengapa harus jurnalistik?
Jurnalistik sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Produk utama dari jurnalistik adalah berita dan setiap orang butuh berita. Itulah sebabnya jurnalistik menjadi sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Seiring perkembangan zaman, masyarakat tidak hanya ingin menjadi konsumen dalam dunia jurnalistik. Tidak sedikit dari mereka yang ingin ikut terlibat dan ambil bagian dalam memproduksi berita. Pepy Nugraha, salah satu jurnalis senior harian Kompas menyebut fenomena ini sebagai fenomena Citizen Reporter atau jurnalisme warga. Kesadaran menjadi jurnalis yang baru muncul dua dekade terakhir, nyatanya sudah dimiliki oleh Muhadjir sejak tiga dasawarsa silam. Sadar akan kebutuhan itu, Muhadjir pun mempelopori beridirinya majalah-majalah kampus di Kota Malang. Sungguh ajaib, majalah-majalah tersebut tetap kokoh hingga sekarang. Perkembangan zaman tidak membuatnya mati, namun justru semakin hidup dan menghidupi nalar para pembacanya.
Menjadi jurnalis juga membiasakan seseorang untuk mampu berpikir kritis. Segala kejadian yang terjadi di depan matanya dilihat menggunakan kacamata jurnalistik, sehingga fakta memiliki rasa. Tony Wagner dalam bukunya yang berjudul Global Achievment Gap menyebutkan bahwa pada dasarnya terdapat dua hal utama yang dimiliki oleh masyarakat yang tinggal di negara maju, yaitu kesadaran berpikir kritis dan imajinasi tinggi. Kedua, prasayarat ini nyatanya ada dalam dunia jurnalistik. Ketika seorang jurnalis menulis berita, maka dia harus kritis untuk memilih dan memilah sudut pandang mana yang kelak disajikan dalam kolom berita miliknya. Selain kritis, jurnalis juga dituntut untuk memiliki imajinasi yang tinggi. Ia harus mampu merekonstruksi kembali serpihan-serpihan fakta yang ada dalam kepalanya sehingga menjadi satu kesatuan yang padu dan harmonis untuk ditulis kembali menjadi sebuah berita.
Dua kunci utama itulah yang ternyata dimliki oleh Muhadjir ketika ia masih muda. Menjadi wartawan kampus membuatnya mampu mengasah kemampuan berpikir kritis serta mengembangkan imajinasinya. Tidak hanya berhenti di situ, jurnalistik bagi Muhadjir laksana candu yang membuatnya terus dan terus menulis. Itulah sebabnya tak jarang kita melihat tulisan Muhadjir dimuat di koran-koran, baik lokal, regional, maupun nasional. Kemampuan itu juga dimiliki oleh mahasiswa UM. Tak jarang, saya temui tulisan para civitas academica UM memenuhi kolom-kolom media massa, mulai dari lokal hingga nasional. Kampus UM sendiri juga turut mengapresiasi setiap tulisan yang dimuat di media massa, itulah sebabnya warga UM semakin giat menulis. Meskipun demikian, apresiasi berupa materi sebenarnya bukanlah hal utama. Pengalaman untuk berani berpikir kritis dan kemampuan imajinasi yang terus menerus terasah adalah kunci dari semuanya. Langkah yang dilakukan oleh Muhadjir sebenarnya sama seperti langkah yang dipijak oleh mahasiswa kampus ini yang mengabdikan dirinya dalam bidang jurnalistik. Oleh sebab itu, janganlah mahasiswa patah arang dalam menulis. Sadarlah bahwa kita sekarang sedang berangkat dari langkah yang sama, menyusuri tapak serta pijakan yang dulunya telah diukir sebelumnya oleh Muhadjir. Semoga kelak kita tetap setia menapaki langkah demi langkah hingga bermuara pada kesuksesan yang kita impikan. Bahkan jangan heran apabila ada salah satu atau salah dua dari kita yang duduk di singgasana Pak Muhadjir saat ini. Hal itu sangat mungkin, karena pada dasarnya, saya, Anda, dan Pak Muhadjir berangkat dari sini, dari lembar demi lembar di majalah ini. Majalah Komunikasi UM.
Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Sastra Indonesia dan Juara I Kompetisi Majalah Komunikasi UM Kategori Opini

Bagikan informasi ini: