Puisi

Elegi Juru Warta

Oleh : Amalia Safitri Hidayati

Semalam,
seorang perempuan murka bergumam sumpah serapah
Ia mengaku telah menghabisi sang juru warta
Lalu ia bersaksi hanya korban politik sang bupati
Berita itu kemudian terkubur dalam-dalam, bersama kubur juru warta

Kuberikan kisahnya, ingatlah petang itu,
seorang juru warta terbaring di muka jalan
ia bermandi darah dan berhias bopeng luka
Lelaki itu mengejap-ngejapkan matanya
Inilah pertemuan malamnya dengan pencabut nyawa

Telah tertinggal olehnya sebuah keadilan, Paduka
Yang mati malam ini, terbang dengan sayap kirinya
menuju langit Paduka

Paduka, tengoklah negeriku barang sebentar,
kesahajaan zaman telah kabur!
Mereka sama berlumur darah,
Bersama tetes hujan, genderang perang, dan berita duka
Tentang lelaki yang menulis skandal bupati tadi
Ia terbaring menguburkan jeladri teka-teki

O, saentero negeri telah mahfum
Hukumku tumpul ke atas, menohok ke bawah

Seorang lelaki paruh baya dengan sayap kiri
Meninggalkan bau-bau gandasuli
Sang rembulan pucat pasi, pembela telah terbang tinggi
Ia bercahaya, berjaga di langit Paduka
Menanti kepastian hak sang juru warta

Penulis adalah mahasiswa Sastra Indonesia dan
Juara I Kompetisi Penulisan Majalah Komunikasi Kategori Puisi.

 

Wangsa Raja Bangsa

/1/
Sedatangnya Aswawarman,
Lengking nafiri dibunyikan tegas
Dewa-raja telah dinobatkan pada penyucian jiwa.
Dipuja laksana dewa matahari dan pembentuk batih
Secakap gajah dan sekuat kuda.
Bendera Kutai Martadipura berkobar pada tiang tertinggi.
Titisan Aswawarman telah lahir dari peradaban,
Mulawarman, Mulawarman
Sedatangnya, negeri bagai ambal sana sini
Tugu Brahmana, pelayaran dunia, dan kurban sapi dewa
Beginilah cara raja mendidik rakyatnya

/2/
Ihwal suatu peradaban di hulu Citarum,
Purnawarman telah menandai, mahkota emasnya
Ialah Dewa Wisnu, tameng segala ancam dan huru hara
Penghidupan Sungai Gomati dan Candrabraga,
Ialah penghidupan petani-petani jelata
Penghidupan dewa-dewa,
Abadi dalam prasasti-prasasti mulia.
Purnawarman, Purnawarman,
Di batu Ciauterun, telapak kakimu tetap bergetar.
Beginilah cara raja melindungi rakyatnya.
/3/
Dengarlah ujung barat sana, hikayat dari tanah Sumatera!
Sejarah Tiongkok mencatat dengan tinta emas,
Tentang hulubalang-hulubalang Sriwijaya.
Sebelum zaman kemerdekaan,
Otonomi sudah berjalan disini
Megamaritim dan upeti hasil bumi,
Ekspedisi penaklukan dan komoditas gaharu.
Serta, darimana kita mempelajari Budha?
Dari pendeta-pendeta Sriwijaya pula.
Beginilah cara raja mengatur rakyatnya.

/4/
Di tanah Jawa, pun ada cinta yang melegenda,
Asmara Ken Arok dan Ken Dedes,
Melahirkan benih pemimpin sukma cinta.
Ialah Raden Wijaya, mula babad Majapahit
Tak gentar seperti ombak, teguh seperti karang

Genderang perang mengerang-erang,
Ikrar-ikrar persatuan terkumandang
Di balik jubah kuasa Sang Maharaja,
Gajahmada berikrar Sumpah Palapa.
Sang patih penyambung lidah rakyat,
pengawal pemersatu nusantara
Beginilah cara raja menyatukan rakyatnya.

/5/
Zamanku kini telah tiba,
Kala wangsa raja-raja berganti nama.
Menjadi nepotisme sanak saudara.
Pemimpin tak lagi cakap dan intelektual
Gaya bicara hanya obral-obral kampanye dan bualan
Beginilah cara raja ‘sementara’ menyenangkan kami.
Raja-raja telah berganti strategi
bernama korupsi dan kolusi
Tanah negara dijual, harga beras dilambungkan
Beginilah cara raja mengenyangkan kami.
Gedung DPR dipertinggi, gubuk rakyat asyik digusur
Keadilan ditimbang-timbang tanpa pertimbangan
Cukong-cukong dipersilakan mengeruk kekayaan
Beginilah cara raja menyatukan kami dalam demonstrasi

Penulis adalah mahasiswa Sastra Indonesia dan
Juara II Kompetisi Penulisan Majalah Komunikasi Kategori Puisi.

 

Bagikan informasi ini: