Seminar Nasional PPG 2016: Guru Ibarat nahkoda

P ada era globalisasi seperti saat ini, para guru sebagai ujung tombak pendidikan dituntut untuk bekerja secara profesional dalam menanamkan nilai-nilai karakter yang luhur untuk membangun kepribadian para peserta didik. Para guru juga dituntut untuk menerapkan nilai-nilai karakter tidak hanya bagi peserta didik, namun juga pada dirinya sendiri sebagai pendidik yang menjadi panutan di lingkungannya.
Untuk menciptakan guru profesional dan berkarakter tersebut, Pusat Pengembangan Pendidikan Profesi Guru Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran (P4G LP3) UM mengadakan Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru 2016, Kamis (24/11) di Graha Cakrawala. Seminar dengan tema “Membangun Guru Profesional Berkarakter di Era Globalisasi” ini dihadiri sekitar 1.006 orang yang terdiri atas guru, mahasiswa internal UM termasuk mahasiswa PPG, dan alumni dari program Sarjana Mengajar-Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) dari seluruh penjuru tanah air. Seminar tersebut juga dihadiri oleh para pejabat struktural di lingkungan UM.
Mewakili Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Sumarna Surapranata, Ph.D. menjelaskan bahwa pada era global seperti sekarang, masyarakat harus mengedepankan produktivitas agar dapat memenangkan persaingan. “Kualitas guru sangat penting, karena guru merupakan nahkoda dari jalannya sebuah kapal,” urainya. Ia juga menekankan terhadap pengembangan pendidikan vokasi utamanya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sangatlah penting untuk menciptakan generasi terampil. “Melalui Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK, pemerintah mengatasi kekurangan 91.000 guru SMK dengan berbagai macam metode,” tambahnya. Kekurangan puluhan ribu guru tersebut diatasi dengan dua cara, yakni alih fungsi guru normatif-adaptif menjadi guru produktif melalui program keahlian ganda, serta mengadakan kembali rekrutmen guru PNS untuk SMK negeri dan swasta.
Sementara itu, Direktur Pascasarjana UM, Prof. Dr. I Nyoman S. Degeng, M.Pd. yang didaulat menjadi pemateri selanjutnya lebih menekankan terhadap pembelajaran yang inovatif dan kreatif. “Kita ibaratkan para peserta didik itu adalah para pemain orkestra, guru adalah konduktornya, instrumen yang dimainkan adalah kurikulumnya, dan panggung adalah kelasnya. Semua berbeda-beda, namun dalam harmoni kebersamaan, guru dapat menjadikan sebuah kelas simponi yang menawan,” jelas Prof. Degeng sambil memutar video permainan sebuah orkestra yang indah. Menurutnya, kelas harus menjadi firdaus bagi para peserta didik, sehingga mereka betah dalam belajar.
Kepala Subdit Akademik Ditjen Belmawa Kemenrinstekdikti, Edi Mulyono, S.E., M.M. melontarkan wacana agar seleksi masuk pendidikan guru di perguruan tinggi harus ada tes psikologi. “Tujuannya adalah untuk mengetahui dan memastikan passion-nya menjadi seorang guru,” kata Edi. Ia membawakan materi tentang “Penyiapan Guru Profesi Berkarakter di Era Globalisasi”. Ketua panitia dari seminar tersebut, Dr. Makbul Muksar, M.Si. menjelaskan tujuan diadakannya seminar ialah sebagai wadah ilmiah dalam membangun diri para guru untuk lebih profesional dan berkarakter. “Yang ditekankan dalam seminar ini adalah bagaimana profil guru yang profesional dan berkarakter, serta peran pemerintah dalam hal ini Kemenristekdikti sebagai penyedia guru melalui kampus-kampus pendidikan, dan Kemendikbud dalam pengadaan (rekrutmen) guru menghadapi era global dan utamanya di kawasan Asia Tenggara dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN,” urai dosen Fakultas Matematika dan IPA tersebut.
Sementara itu, menurut salah seorang peserta, Farida Almeijani, S.Pd., sangat terkesan dengan adanya seminar ini. “Materinya sangat menarik, membuka wawasan kami agar dapat berusaha menjadi guru yang profesional,” ujar guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 21 Malang tersebut.
Selain seminar nasional, dalam kesempatan tersebut juga diadakan pameran foto karya alumni SM-3T dengan tema “Cerita dan Asa di Tapal Batas Negeri” di depan Graha Cakrawala. Diharapkan dari seminar dan pameran foto ini dapat menjadikan gambaran mengenai tantangan apa saja yang akan dihadapi guru di masa yang akan datang maupun masa yang tengah dihadapi. Arvendo

Bagikan informasi ini: