Urban Pop: Dari Hobi Jadi Bisnis

Suasana temaram menjelang senja terasa syahdu. Rintik gerimis menumbuhkan kesejukan. Membuat enggan berdiri dari sofa yang terletak di sebuah ruangan tepi jalan. Ruang segi empat dengan lampu-lampu menggantung di atasnya. Sumpit dan garpu beradu di atas sajian makanan yang disantap oleh pengunjung. Alunan musik melantun memenuhi ruangan. Terlihat sebuah layar segi empat berwarna hitam menampilkan gadis-gadis cantik yang menari mengikuti dentuman musik. Tak lelah rasanya mendengar sapaan hangat pramusaji yang mengatakan“Annyeong haseyo”Untitled
Benar. Aku berada di sebuah kafe Korea yang terletak di Jalan Maninjau Raya 85 Sawojajar. Plakat Urban Pop terpampang di muka. Urban yang memiliki makna daerah pinggiran kota dan pop yang diambil dari Korean Pop (k-pop). Sebuah kafe yang tak jauh beda dengan kafe-kafe di Malang, jika dilihat dari luar. Namun ketika melangkah masuk, serasa terlempar jauh ke negeri asing. Seperti berada dalam drama-drama Korea dengan artis Lee Min Ho ataupun Park Shin Hye.
Sambil menunggu si pemilik datang, aku pun memutuskan untuk mencicipi beberapa nama makanan khas Korea yang berderet di menu. Kimbap dan Jajangmyun memecah di lidah. Butuh waktu untuk menyesuaikan dengan citarasa yang tersaji. Terlihat beberapa pengunjung dengan style Korea bercanda riang. Beberapa anak muda berseragam sedang belajar bahasa Korea dengan seorang wanita muda berambut pirang. Wanita muda itu fasih dan telaten mengajarkan kata dan kalimat kepada mereka.
Si pemilik datang ketika langit sudah gelap. Ia memperkenalkan dirinya. Deasy Riski Fitriani, seorang mahasiswa Pascasarjana Jurusan Sastra Inggris, Universitas Negeri Malang. Tak butuh waktu lama, ia pun bercerita mengenai perjalanannya.
Awal mulanya, ia menyukai band-band Korea yang biasa disebut dengan k-pop. Itu merupakan hal yang populer saat ia masih menempuh pendidikan sarjana (2010). Lalu ia memutuskan untuk bergabung dalam sebuah klub yang dinamakan Indrea Klub. Klub yang didirikan oleh native dari Korea ini mengajarkan segala hal tentang negaranya. Terlebih lagi tentang budaya dan bahasanya. Tak heran jika Deasy cepat menguasai bahasa Korea karena ia berhadapan langsung dengan pengajar asal Korea.

10947181_10204254808438615_6981349870174835604_n
Selama bergabung di Indrea Klub, ia bertemu dengan seorang mahasiswi Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) angkatan 2011, Adisa Betari. Disitulah mereka saling berbagi hobi dan kesukaan terhadap boyband Korea.  Sempat mereka pergi mengunjungi Korea untuk berlibur bersama. Menikmati keindahan Seoul dengan makanan khasnya. Kemudian tercipta ide untuk mendirikan sebuah kafe bernuansa Korea.
Kafe ini berdiri pada pertengahan tahun lalu (Mei 2015). Tepatnya saat Deasy telah menyelesaikan program sarjananya. Ia ingin beristirahat selama setahun sebelum melanjutkan ke program magister. Bersama partnernya, Disa, ia mempersiapkan segala kebutuhan dan keperluan yang dibutuhkan. Seperti penuturannya yang menyatakan “Disa merupakan orang yang lebih banyak andil dalam pendirian kafe ini. Tempat ini sebenarnya adalah milik Disa,” ungkapnya.
Mendirikan usaha sendiri tak akan luput dari resiko yang besar. Terlebih lagi jika usaha yang dibangun terletak di daerah perantauan. Banyak pertanyaan yang muncul. Apakah usaha akan berjalan lancar? Apakah modal yang diinvestasikan bisa kembali? Juga apakah usaha tersebut bisa bertahan menghadapi pesaing? Banyak lulusan yang lebih memilih untuk melamar pekerjaan ke perusahaan-perusahaan besar dengan gaji yang pasti. Namun tidak untuk perempuan asal Madiun ini. Ia tetap menggenapkan tekad dan niat untuk menggengam resiko dan menjadi pebisnis.
Bakat dan keinginan kuatnya seakan menjalar dari keluarganya yang suka berbisnis. Jatuh bangun menjalankan usaha menjadi cambuk untuk menjadi lebih tegar.  Sempat gagal saat mendirikan usaha gerai minuman di Malang tak membuatnya kapok. Ia mengabaikan rasa takut gagal lagi dan tetap semangat menyalurkan hobi menjadi sebuah bisnis. Alhasil, kafe tersebut selalu ramai oleh pengunjung.

5
Tak puas menjadi bussiness woman, perempuan kelahiran 27 Maret 1993 ini juga belajar beladiri Muay Thai, seni beladiri yang belajar dari negara Gajah Putih–Thailand. Selain itu dia juga menjadi guru privat. Ia mengajarkan bahasa Inggris, bahasa Korea, juga bahasa Indonesia untuk orang Korea. Sebenarnya padatnya kegiatan yang dijalani membuatnya kerepotan membagi waktu. Kewajiban paling utama adalah menyelesaikan tanggung jawabnya sebagai mahasiswi pascasarjana. Namun seakan keras kepala pada dirinya sendiri, ia mengaku “Sayang jika punya ilmu namun tidak dibagi, jadi walaupun sibuk, saya tetap memenuhi permintaan orang Korea yang benar-benar ingin belajar bahasa Indonesia” tuturnya. Tak sengaja berbicara tentang guru privat, ternyata yang mengajar bahasa Korea awal lalu kepada anak muda berseragam adalah Disa. Menyesal rasanya tak bisa berbincang dengannya. Hanya cerita dari Deasy yang membuat percikan kagum pada sosoknya.

2
Dialog pun terus berlanjut. Rasa penasaran terus saja menguap. Dari awal perjalanan, kesulitan, sampai pada strategi yang dipilih. Karena Deasy dan partnernya, Disa, masih belajar untuk berbisnis, maka mereka merekrut manajer yang bisa mengaturl manajemen kafe. Selain itu, mereka merekrut pegawai dari dancer yang sudah memiliki penggemar. Ini merupakan salah satu strategi pemasaran yang dijalankan. Dengan kata lain, kafe tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi pecinta Korea saja. Namun juga bagi anak muda yang ingin menikmati waktu santai sekadar nongkrong ataupun diskusi.
Menu yang disajikan tidak murni asli dari Korea. Deasy memadukannya dengan citarasa Indonesia. Karena tidak semua orang terbiasa dengan makanan khas asli Korea. Orang Indonesia akan menganggap makanan Korea itu hambar. Begitu juga orang Korea yang menganggap makanan Indonesia terlalu asin atau manis. Seperti yang dikatakan Deasy, “Makanan asli Korea itu terasa hambar. Tidak seperti orang Indonesia yang suka bermain bumbu di makanannya” ujarnya. Tak bisa dipungkiri, citarasa yang berbeda menghasilkan makanan khas yang berbeda.
Itulah perjalanan dari seorang gadis muda yang asal Madiun. Ia merantau untuk menempuh pendidikan. Namun, ia juga memberanikan diri menjadi wirausahawan. Walaupun sempat jatuh, namun ia berhasil bangkit lagi. Menyalurkan apa yang ia suka menjadi sebuah peluang bisnis. Sampai pada akhirnya usahanya kini selalu ramai oleh pengunjung. Ilmu dan pengalaman berhasil ia kantongi. Memiliki kesukaan atau hobi di luar pendidikan yang ditempuh bukan merupakan hal yang pantas diremehkan. Jika hal itu bisa ditekuni dan menjadi peluang untuk menjadi lebih maju, mengapa tidak.Maria

Bagikan informasi ini: