Waduk Wonorejo dan Ranu Kumbolonya Tulungagung

Pesona keindahan alam Kota MarmerMasa Kajian dan Praktik Lapangan (KPL) sudah berakhir. Mendapatkan penempatan sekolah yang jauh di luar Kota Malang merupakan sebuah tantangan dan kesempatan tersendiri untuk mendapat pengalaman lebih. Perbedaan budaya juga tak luput untuk diselami agar bisa bertahan. Di luar itu, tak salah jika turut mengeksplor keindahan alamnya. Di sela-sela padatnya jadwal mengajar, saya dan teman-teman memanfaatkan waktu luang untuk berkunjung ke salah satu wisata di kota penghasil marmer ini.
Tepat seminggu setelah hari pertama masuk KPL (14/08), selepas sarapan kami berdelapan mengawali perjalanan dari salah satu rumah teman kami yang berada di lokasi Tiudan. Melewati persawahan dan rumah-rumah warga sampailah kami di Desa Wonorejo, Kecamatan Pagerwojo. Tak butuh waktu lama, kami menemukan pintu masuk yang seakan memberikan ungkapan selamat datang. Empat orang penjaga memberikan sambutan hangatnya ketika kami membayarkan Rp5.000,00/orang.

IMG20160814084729
Kami melanjutkan perjalanan. Melewati jalan yang naik turun. Pepohonan di sisi-sisi jalan menambah kesejukan di daerah pegunungan itu. Sejenak kami sudah melabuhkan motor kami di area parkir. Betapa eloknya ketika mata menangkap genangan air tenang yang luas bersanding dengan langit yang tak kalah luas. Sayangnya, langit yang biru tertutup oleh awan. Saya hanya bisa berimajinasi. Andaikan cuaca sedang cerah, pastinya menyenangkan ketika menyaksikan hamparan air yang luas bersaing dengan langit biru yang cerah.

DSC_0236
Mengedarkan pandangan mata, saya menangkap tulisan besar yaitu “Bendungan Wonorejo”. Suatu hal yang mengejutkan, ternyata di desa yang letaknya dua belas km dari pusat kota ini menyuguhkan waduk terbesar di Indonesia juga di Asia Tenggara. Waduk yang dinamai berdasarkan nama desa ini dibangun pada tahun 1992, namun baru diresmikan pada tahun 2001.
Cuaca yang mendung tak menyurutkan semangat kami. Berjalan menyusuri jembatan sisi waduk. Mengabadikan momen dengan kamera yang dibawa. Sejenak kami terdiam. Menikmati keindahan waduk yang tak bosan untuk dipandangi. Bukit-bukit dan pegunungan berdiri kokoh menambah eloknya pandangan. Terlihat beberapa orang membawa pancing untuk menangkap ikan di sudut lain waduk. Entah kenapa rintik gerimis membuat suasana menjadi syahdu. Seakan menentramkan hati. Membelai kami untuk meninggalkan rutinitas yang penuh dengan bahan pembelajaran, rubrik penilaian, dan perangkat mengajar lainnya.
Hal yang sama seakan terjadi pada pengunjung lain. Beberapa orang menikmati suasana. Ada beberapa keluarga yang kembali dari ujung jembataan sambil bersenda gurau. Ada lagi sepasang suami istri yang tersenyum riang sambil menuntun balita mereka untuk belajar berjalan. Ada juga yang menaiki skateboard atau separu roda. Sungguh merupakan tempat yang nyaman untuk sekadar menyegarkan pikiran bersama keluarga atau teman.
Sebenarnya ada terowongan, namun sayangnya tidak semua orang boleh memasuki terowongan ini. Harus izin terlebih dahulu pada petugas yang berjaga.

DSC_0132
Tak puas rasanya, rekan kami mengajak untuk berpindah ke spot lain. Tak cukup jika berjalan kaki sehingga kami kembali melajukan motor untuk sampai di tempat tersebut. Butuh waktu sekitar lima menit barulah kami mencapai lokasi parkir yang baru. Tak perlu beli tiket masuk lagi, hanya biaya parkir saja. Namun yang perlu diketahui, harga parkir tersebut sama dengan tiket masuk. Tak apalah, demi memuaskan keinginan hati kami memasuki gapura pintu masuk. Lucu rasanya mendengar nama tempat yang kami masuki sekarang. Kebanyakan orang menyebutnya Ranukumbolo-nya Tulungagung. Tempat ini dinamakan Ranugumbolo. Mungkin karena spot-nya hampir mirip dengan Ranukumbolo.
Hawa semakin sejuk ketika kami menuruni tangga dari gerbang masuk dari kayu. Pepohoan pinus yang berjajar rapi menyegarkan mata. Tanah yang becek sehabis hujan terasa menelan separuh dari sepatu atau sandal yang kami gunakan. Tak ayal jika kaki terasa berat yang membuat kami berjalan dengan lambat. Sampai akhirnya kami berhenti di sebuah gubuk kayu dengan atap sekam padi. Menikmati bekal makan siang yang dibawa dari rumah menjadi pengakrab suasana di antara kami. Sebagian besar kami baru mengenal saat dimulainya masa KPL ini. Namun tak butuh waktu lama untuk bisa saling melempar senda gurau dan tertawa bersama. Setelah makan, kami berdiam sejenak. Sambil membiarkan pencernaan kami mencerna makanan yang baru ditampungnya, kami memperhatikan ada pusaran sampah di salah satu ujung waduk. Bukan plastik atau kertas, melainkan sampah kulit kayu yang mengelupas dari pohon-pohon pinus yang entah mengapa sampah itu hanya berputar di tempat, tak mengalir sampai ke tengah waduk. Kami pun saling bertanya, namun tak menemukan jawabannya.

DSC_0183
Setelah cacing-cacing di perut berteriak kalau mereka kenyang, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju spot yang dikatakan mirip dengan Ranukumbolo. Sesampainya di tempat, entah itu mirip Ranukumbolo atau bukan, karena memang saya belum pernah melihat Ranukumbolo secara langsung. Namun itu bukanlah masalah besar bagi kami. Kami tetap menikmatinya tanpa absen untuk jeprat-jepret setiap spot dan momen.
Kami juga memasang hammock yang kami sewa seharga Rp5.000,00 di gerbang masuk. Hammock adalah tempat tidur gantung yang biasa digunakan pendaki menaiki gunung. Kami mengikatkan tali ujung hammock di pohon pinus. Lalu merebahkan punggung di atasnya. Semilir angin yang berhembus lembut membelai ujung kerudungku. Dengan perut kenyang sambil menikmati pemandangan yang eksotis, suasana yang tenang hampir saja membuat saya terlelap. Andaikan ada remote untuk mengendalikan waktu, pasti saat itu akan saya tekan tombol pause. Ingin berlama-lama menikmati suasana. Namun keinginan itu tak terkabulkan. Kami beranjak meninggalkan tempat tersebut karena cuaca semakin mendung
Mendapat kesempatan untuk mempraktikkan teori yang didapat di bangku perkuliahan sebagai bekal masa kerja merupakan suatu pengalaman yang berharga. Di samping itu, mendapat teman-teman baru, suasana yang baru, dan pengenalan budaya yang baru menjadi cuplikan kenangan dalam hidup. Begitu juga Waduk Wonorejo dan Ranugumbolo yang menambah indahnya kenangan selama di Tulungagung. Terima kasih Tulungagung.Maria

Bagikan informasi ini: