Autumn di Kaki Gunung Ungaran

Konsep ilustrasi Cerpen 222 copy

Oleh Dina Chirotul Ramadhani

Di bawah kaki langit yang heningnya begitu menenangkan-saat sang surya mulai merekahkan cahaya kemerahannya dari ufuk timur, masih lekat dalam ingatan Aleen bagaimana tangisnya pecah, meluap, meledak-ledak saat menyaksikan jasad sang suami terbujur kaku di pangkuannya penuh dengan lumuran darah. Gunung Ungaran. Meninggalkan indah detik-detik terakhir kisah cintanya bersama Li Wei sebelum suara tembakan terdengar dan tepat menembus dada kiri Li.
Awalnya Li Wei hanyalah seorang lelaki biasa yang memiliki usaha kecil di bidang tekstil. Ia lahir dan dibesarkan di Shanghai, sebuah kota pelabuhan kecil di Cina. Hidup penuh kesederhanaan dan kecukupan hingga pada akhirnya ia terpaksa hengkang dari negeri kelahirannya karena kondisi ekonomi Cina yang semakin memburuk setelah Perang Dunia II.
Di tengah hiruk pikuknya ekspansi Jepang ke Pasifik, Li ikut merantau bersama saudagar Cina lainnya menuju kota pelabuhan yang sangat ramai di seberang Semenanjung Malaya—Kota Semarang. Kota itu terletak di antara dua kota pelabuhan—Batavia dan Surabaya—yang juga sangat terkenal di kalangan pedagang. Bersamaan dengan dongeng harta karun kerajaan Eropa di negeri yang dikenal dengan sebutan “Atlantis” itu, ia membangkitkan harapannya untuk mulai merajut benang-benang keberuntungan. Dari Shanghai, ia berlayar dengan sebuah kapal dagang yang membawanya menyeberangi Laut Cina Selatan.
Sesampainya di Pelabuhan Laut Semarang, ia sangat terkejut melihat kota pelabuhan yang sedemikian ramai. Kapal-kapal dagang yang besar bersandar di hamparan tepi laut pelabuhan. Berbagai pedagang dari penjuru dunia seperti Belanda, Cina, Melayu hingga Arab pun ada di sana. Rempah-rempah adalah barang dagangan utamanya. Lada, pala, cengkeh, jintan, dan ketumbar melimpah ruah bagaikan seonggok emas yang keberadaannya begitu bernilai dan sangat diperhitungkan bagi para pedagang. Semilir angin harapan pun mulai mengisi rongga dada Li yang menganga selama belasan tahun.
Li mulai belajar berbisnis rempah-rempah dan menjadi penyuplai bahan baku rempah ke pusat-pusat pabrik di berbagai kota. Tak sampai di situ, Li juga mulai merambah ke bisnis tekstil karena kecintaannya pada dunia tekstil dari semasa kecil di Cina. Dalam darah Li memang mengalir deras sifat pekerja keras dari sang ayah. Ia takkan pernah berhenti sebelum apa yang ia inginkan berhasil terenggut. Ia pun meleburkan unsur kesenian Cina dan Jawa dalam kain batik produksinya. Selanjutnya ia membuka beberapa toko kecil di sekitar Semarang untuk mendistribusikan kain batik tersebut.
Bak gumpalan salju kecil yang jatuh mendinginkan hati, di tengah kesendirian yang panjang, kesibukan bisnis yang tak berjeda,  kerinduan akan rumah kecilnya di Cina semakin memuncak. Awal Oktober adalah saat-saat terindah di Cina di mana daun-daun hijau berganti warna menjadi kuning muda, kuning keemasan, kuning tua, merah muda, merah tua, merah keemasan, oranye, coklat muda, atau coklat tua dan mulai berguguran tertiup angin, melambai-lambai seakan mengucapkan selamat tinggal. Ia ingin segera pulang, berkumpul dengan keluarga dan sanak saudara di kampung halaman.
Namun saat ini ia masih belum puas dengan hasil rantauannya. Keuntungan dari bisnis rempah dan tekstil tidaklah cukup untuk membahagiakan keluarganya. Apalagi semenjak Kota Semarang digadaikan oleh pemerintah Susuhunan Surakarta karena telah berhutang dalam jumlah besar kepada VOC untuk biaya perang, pemerintah Belanda meraup begitu banyak pajak dan upeti dari para pedagang sehingga laba yang didapat semakin kecil.
Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah merupakan salah satu daerah distribusi kain batik produksi Li karena masyarakat Tuntang sering mengenakan batik dalam keseharian. Di sana ia berkenalan dengan seorang gadis—Aleen Cornor. Rona kulit kuning langsat membuatnya tak pernah disangka sebagai keturunan Belanda. Kecantikannya memancarkan kedamaian. Tatapan mata yang teduh, begitu jernih dan alami seindah pesona perempuan Asia sejati. Gadis sembilan belas tahun ini sangatlah ramah dan akrab dengan masyarakat Tuntang meskipun ayahnya—William Lucas Cornor—dikenal sangat bengis dalam memerintah tanah Jawa. Aleen adalah salah satu pelanggan setia Li. Ia sangat mencintai kesenian daerah terutama batik. Aleen selalu berkunjung ke toko Li setiap dua minggu sekali untuk membeli kain batik buatannya.
Pesona Aleen benar-benar telah meluluhkan rasa, menyentuh relung jiwa, menuai buah cinta Li. Setiap kali Aleen datang berkunjung, hatinya bergetar hebat. Syaraf dan otot seakan membeku saat menatap wajah gadis jelita itu dari jarak yang cukup dekat. Sudah berkali-kali ia mengalihkan pikirannya tentang Aleen, berkali-kali pula ia menepis jauh perasaan itu namun apa daya, ia telah tenggelam dalam lautan asmara.
Selama beberapa hari kemudian Li sengaja menutup toko untuk mencoba melupakan Aleen. Namun wajah bening Aleen bagai tak hilang dari pelupuk mata. Tutur suaranya yang lembut membuat hati Li semakin tertawan. “Inikah cinta? Beginikah rasanya? Terasa hangat mengaliri syaraf. Terasa sejuk di hati. Oh Tuhan, izinkanlah aku mencintainya.” Isak Li setiap tengah malam.
Hari selanjutnya Li mulai membuka tokonya kembali. Sudah ia sangka bahwa hari itu Aleen akan datang. Tak lama berselang, Aleen datang dengan didampingi pelayan pribadi yang sangat ia percaya. Setelah menentukan pilihan, Aleen akhirnya membeli tujuh helai kain batik. Saat Li membungkus kain itu, ia menyelipkan secarik kertas merah jambu di dalam lipatan kain. Kertas itu berisi ungkapan hati yang selama ini terpendam kepada Aleen.
Sesampainya di rumah, Aleen yang hendak melihat kain yang ia beli, jatuhlah kertas merah jambu itu. Segera ia mengambilnya dan mulai membaca.
Kepada Nona Aleen Cornor,
Tak pernah ku sangka sebelumnya, tak pernah pula aku merencanakannya. Semua ini bagaikan hembusan angin yang arahnya tak menentu. Tak bisa ditebak. Begitu pula hati ini. Sungguh aku tak berdaya. Rasa ini mengakar sedemikian kuat di dalam relung-relung hatiku. Berhari-hari sudah aku meratapi hal ini. Mengapa bisa terjadi? Setiap aku mencoba melupakanmu, setiap saat itulah gelora cintaku semakin membara, semakin deras mengalir bagai ombak badai di lautan. Aku mencintaimu Aleen.
Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Seperti itulah perasaanku padamu saat ini. Maafkan aku karena telah lancang membiarkan rasa ini bertahan begitu lama.
Li Wei
Hati Aleen tersentak. Gayung pun bersambut. Aleen ternyata juga mencintai Li. Begitu berbahagianya Aleen sesaat setelah membaca surat tersebut. Bunga-bunga cinta bermekaran dalam hatinya. Rasa cinta yang tak kalah besar membuatnya menulis surat balasan untuk Li.
Kepada Li Wei,
Aku telah mengetahui betapa dalam rasa cintamu padaku. Begitu mengharu biru hingga menyiksa batinmu. Tak bisa kuingkari, aku pun mengalami hal yang sama. Kaulah cintaku yang pertama. Selama ini aku sangat mengagumimu. Lewat kain batikmu itulah rasa ini berawal.
Lamarlah aku segera untuk mengobati kahausan jiwa ini dengan secangkir air cinta kita.

Aleen Cornor
Setelah tahu isinya seluruh tubuh Li seakan tak ada tulang yang menopangnya. Sungguh di luar dugaannya. Bahagia, heran, bingung, gundah, cemas larut menjadi satu dalam hatinya.
Tak terlalu lama setelahnya, Li memutuskan untuk melamar Aleen. Pagi itu, Li berjalan ke arah pusat kota Semarang. Tujuannya sangatlah jelas yaitu menuju rumah dinas Gubernur Jenderal William Lucas Cornor. Beberapa saat kemudian, ia telah sampai di hadapan sebuah benteng yang begitu megah dan kokoh sebagai penanda bahwa ia akan segera memasuki kawasan pemerintahan Belanda. Dua orang prajurit telah siap menghadang Li. Deruan hati, keinginan menggapai sebuah cinta telah memberanikan kakinya melangkah tanpa keraguan.
“Siapa kau?” tanya salah satu prajurit setengah membentak.
“Aku Li Wei, ingin bertemu Gubernur Jenderal William Lucas Cornor berkaitan dengan Nona Aleen Cornor.”
Sesaat kedua prajurit itu saling menatap seakan berbincang melalui batin mereka. Akhirnya mereka pun membuka gerbang besar itu. Salah satu dari mereka mengantar Li masuk, menuju sebuah bangunan megah bercorak arsitektur Belanda bergaya Indis yang melankoli. Melewati lorong-lorong panjang yang gelap. Sampailah di sebuah ruangan besar. Setelah beberapa saat menunggu, datanglah seorang lelaki berbadan tinggi tegap, berkumis tebal dengan mengenakan seragam Jenderal. Dia mempersilahkan Li duduk. Tanpa ditanya Li segera mengutarakan tujuannya untuk melamar Aleen.
“Perkenalkan Tuan, saya Li Wei. Tujuan saya datang kemari adalah untuk melamar putri Tuan yang bernama Aleen Cornor.”
“Melamar putriku katamu?” jawabnya sambil tertawa kecil.
“Kami saling mencintai satu sama lain. Izinkanlah hubungan cinta kita berlabuh ke sebuah pernikahan yang suci.”
“Apa kau bercanda? Tidak akan pernah kuserahkan putriku padamu! Orang pribumi sepertimu tak pantas bersanding dengan Aleen. Enyah kau dari tempat ini!”
Pembuluh otak Li nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin yang tak terkira. Begitu juga Aleen. Aleen yang mendengar percakapan ayahnya dengan Li di balik pintu, kakinya seperti lumpuh seketika karena tak mampu menahan nestapa jiwa.
Ayah Aleen menolak lamaran Li lantaran ia sangat membenci orang pribumi. Dianggapnya orang-orang pribumi hanyalah makhluk kelas rendah yang tak pantas mendapatkan kesetaraan dengan bangsa barat. Maklum saja, keluarga Aleen memang keluarga bangsawan terpandang. Ayahnya seorang gubernur Jenderal yang sangat terhormat di Belanda. Ibunya juga tak kalah terhormat, seorang lady berpendidikan tinggi, ekonom lulusan Prancis yang memegang jabatan penting dan sangat dihormati kalangan elit politik negeri kincir angin. Bila dibandingkan dengan Li, tentu bukanlah apa-apa. Li hanyalah seorang pemuda yang masih baru merintis bisnis kecil. Pendapatannya setahun pun tak sebanding dengan setengah gaji orangtua Aleen satu bulan saja.
Bermingggu-minggu setelah kejadian itu, Aleen tak pernah terlihat lagi berjalan-jalan di luar rumah. Begitu juga Li. Sampai akhirnya datanglah sepucuk surat Aleen yang diantarkan oleh pelayan kepercayaannya.
Kepada Li Wei,
Aku akan datang ke rumahmu malam ini. Bawalah aku bersamamu, pergi jauh dari sini. Aku sudah tak tahan merasakan gejolak jiwa yang membelengguku setiap saat. Aku sangat mencintaimu.
Aleen Cornor
Ketika tengah malam tiba, Aleen telah bersiap-siap kabur lewat pekarangan yang jarang dijaga oleh prajurit. Mengendap-endap mengenakan jubah hitam menuju rumah Li yang berada di seberang sungai. Saat akan melintasi jembatan, tiba-tiba seorang lelaki dari belakang mendekap Aleen dan menyeretnya menuju kegelapan.
“Siapa kau?” tanya Aleen dengan suara menjerit.
Jari telunjuknya menyentuh bibir Aleen. Ketika lelaki itu membuka penutup wajahnya, betapa terkejutnya Aleen bahwa lelaki itu adalah Li. Mereka berdua pun berpelukan di bawah sinar rembulan malam itu.
Keduanya pun bergegas pergi dengan menumpang pada sebuah truk bekas mengangkut sapi ke arah timur karena terpaksa tidak punya ongkos. Keesokan harinya, mereka tiba di Kecamatan Ungaran Barat. Selanjutnya mereka juga menumpang pada mobil pick up yang menuju ke arah barat.  Akhirnya sampailah mereka di sebuah desa yang berada di bawah kaki Gunung Ungaran.
Sementara itu, di kediaman Aleen, ayahnya sangat terkejut ketika mengetahui putri semata wayangnya itu telah menghilang. Tidak ada yang mengetahui kemana hilangnya Aleen, bahkan pelayan kepercayaannya. Teringatlah ia pada seorang pemuda yang waktu itu hendak melamar Aleen, tetapi ia tolak mentah-mentah. “Pasti dia pelakunya!”. Segera gubernur jenderal itu mengerahkan sebanyak seribu serdadunya untuk melacak keberadaan Aleen. “Bunuh lelaki itu!”
Begitu besar pengorbanan cinta mereka. Aleen Cornor yang awalnya seorang putri bangsawan, hidup dalam kehormatan dan kenyamanan, rela meninggalkan seluruh kemewahan hidupnya hanya demi cinta. Sama halnya dengan Li Wei. Seorang pemuda yang berjuang di negeri orang untuk menggapai hidup yang lebih layak bersama keluarga kecilnya di Cina pun harus rela terkorbankan demi cinta.
Di Desa Kalisidilah mereka memulai hidup baru sebagai sepasang suami-istri. Ruswati dan Sujono adalah nama samaran yang mereka gunakan agar terlihat membaur dengan masyarakat. Lembah-lembah membentang melekuk-lekuk seakan melukiskan garis hidup mereka. Di sana Li bekerja sebagai petani, sedangkan Aleen berjualan sayur di pasar. Hidup yang mereka lalui meski sepahit empedu masih terasa manis di hati.
Hari-hari mereka lewati dengan penuh cinta dan kasih sayang. Hingga suatu ketika, di sore hari, terdengar suara tembakan dari arah barat. Aleen yang sedang berjualan pun terkejut. Warga seketika berhamburan, berlarian menuju sumber suara. Ternyata tembakan itu berasal dari sawah yang ada di barat pasar. Saat Aleen tiba di sana, warga sudah bergerombol, melingkupi sesuatu. Setelah mendekat, ia melihat suaminya telah tergeletak di atas tanah dengan lumuran darah di dada. “Tidaak! Suamiku!” jerit Aleen sambil memeluk Li.
Di kaki langit sebuah senja yang menyiratkan cahaya keemasan, masih tajam mata Li menatap wajah sang istri yang penuh dengan linangan air mata. Hati Aleen dipenuhi rasa sesal yang mendalam. “Mengapa harus berakhir seperti ini?”. Li dibunuh oleh prajurit ayahnya saat menyiangi sawah. Sungguh! Aleen tak mampu menahan air matanya yang mengucur begitu saja.
Di bawah kaki Gunung Ungaran selepas kepergian Li, ranting pohon yang biasanya tertutup hijau daun kini tampak menjalar keluar seakan ada kelegaan, namun sepi.. Terang sinar matahari menembus sela-sela daun yang tersisa di ranting. Daun-daun berjatuhan dari tangkainya terhembuskan oleh angin yang membawa udara kegelisahan. Daun-daun yang jatuh akhirnya membentuk tumpukan yang berserakan di atas tanah menambah drama musim gugur yang melukiskan gejolak jiwa Aleen.
Ungaran, 7 September
Untuk kekasihku,
Manakala hati menggeliat mengusik renungan. Mengulang kenangan saat cinta menemui cinta. Suara sang malam dan siang seakan berlagu. Saat kau tak lagi di sisiku, bintang-bintang seakan meledak di kegelapan malam. Namun, di beningnya malam ini. Kala rembulan meremang sendu. Kurangkai bayangmu dalam angan. Kurengkuh dalam dekapan rindu. Biarlah kusimpan semua kenangan itu dalam hatiku—Aleen.
Penulis adalah mahasiswa Jurusan Matematika dan Juara II Kompetisi Penulisan Majalah Komunikasi Kategori Cerita Pendek

Bagikan informasi ini: