Bawa Hafiz Quran Termuda di Dunia, Ulama Mesir Kunjungi UM

Membaca Alquran merupakan salah satu ibadah yang wajib hukumnya bagi umat Islam. Tidak hanya membaca, menghafalkannya pun mendapat keutamaan. Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Daud, Rasulullah bersabda “Di antara perbuatan mengagungkan Allah adalah menghormati orang Islam yang sudah tua, menghormati orang yang menghafal quran yang tidak berlebih-lebihan dalam mengamalkan isinya, dan tidak membiarkan Alquran tidak diamalkan serta menghormati kepada penguasa yang adil.”


Universitas Negeri Malang (UM) sebagai salah satu perguruan tinggi negeri yang mengedepankan pengembangan keimanan dan ketakwaan sivitas akademika, melalui Yayasan Masjid Al Hikmah, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Badan Dakwah Masjid (BDM) Al Hikmah, dan Alquran Study Club (ASC) mengundang salah seorang hafiz (penghafal) Alquran yang cukup tersohor di kalangan umat Islam, yakni Syekh Dr. Kamil El-Laboody dari Mesir, Jumat (27/01) selepas salat Jumat. Pada kesempatan yang dibungkus dalam acara kuliah tamu tersebut, Syekh Kamil juga membawa serta seorang anaknya yang juga hafiz Quran, Syekh Tabarak Kamil El-Laboody.
Syekh Kamil membuka kuliah tamunya dengan mengulas bahwa segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah dan ada di dunia ini memiliki hikmah. “Namun tidak semua orang mampu bersyukur atas hikmah yang ada, dan bahkan berani tidak beriman,” urainya. Oleh karena itu, sambungnya, Alquran diturunkan selain sebagai pedoman hidup manusia juga sebagai media agar manusia dapat mengambil hikmah dari segala penciptaan.
Selanjutnya, ia memperkenalkan anak pertamanya, Syekh Tabarak. Ia mulai menghafal Alquran sejak usia empat tahun dan telah menyelesaikan hafalannya dalam kurun waktu 1,5 tahun. “Selain itu, ia juga saya ajari untuk mempelajari asbabun nuzul (sebab turunnya ayat) yang dihafalkan, serta hadits-hadits yang berkaitan dengan ayat tersebut,” sambung ulama kelahiran Tanta, Mesir, 4 Januari 1976 ini.
Dalam kuliah tamu yang disajikan dengan bahasa Arab dan diterjemahkan menjadi bahasa Indonesia tersebut, beberapa orang dari ratusan jamaah yang hadir mencoba untuk mengetes hafalan surat yang dimiliki Syekh Tabarak. “Beberapa surat seperti Al Maidah memiliki banyak awalan ayat yang sama seperti ‘yaa ayyuhal ladzi’, sehingga perlu dibaca kata-kata setelahnya juga agar mengerti ayat nomor berapa yang ditunjuk,” ujar Syekh Kamil. Syekh Tabarak sangat lancar menjawab soal-soal yang diberikan oleh jamaah.
Ditanya mengenai tips agar memiliki anak yang hafiz, ia menjawab bahwa hal tersebut telah ia rencanakan dengan istrinya, Dr. Rasya Abdul Mun’in El-Gayyar sejak sebelum kehamilan. “Ketika kehamilan istri saya juga sering membacakan surat Al Baqarah dan Ali Imran, begitu juga ketika sedang menyusui dan menggendong,” kata dosen di Batterjee Medical College, Jeddah, Arab Saudi ini. “Saya juga memberikan hadiah ketika anak-anak berhasil menambah hafalan Alqurannya, yakni dengan mengajak jalan-jalan atau membelikan sesuatu,” tambahnya. Perlu diketahui Syekh Kamil memiliki tiga orang anak, dua laki-laki, dan satu perempuan. Syekh Tabarak memiliki adik yakni Yazid Tamamuddin El-Laboody yang dinobatkan sebagai hafiz termuda di dunia yang mampu mengkhatamkan Alquran pada usia 4,5 tahun. Begitu juga dengan adik mereka yaitu Zeenah El-Laboody, yang berhasil menghafal Alquran dalam jangka waktu kurang dari lima tahun.
Salah seorang jamaah menanyakan tentang apakah orang Arab lebih mudah menghafal Alquran ketimbang orang Indonesia. Jawaban sebaliknya justru dilontarkan oleh Syekh Kamil. “Anak-anak Arab umumnya memulai menghafal ketika masih balita, sehingga hanya menirukan orangtuanya meskipun tanpa mengerti artinya. Orang Indonesia akan lebih mudah karena ia harus mengerti ayat yang dihafal sekaligus artinya, apalagi sekarang ada Alquran yang terjemahannya per kata,” urainya.
Metode mendidik Syekh Kamil agar anaknya dapat menghafal Alquran sangat menginspirasi banyak orang, sehingga membuatnya menyusun sebuah buku dan membuka sekolah-sekolah hafiz di berbagai belahan dunia. “Selain di Mesir, sekolah yang saya dirikan juga terdapat diantaranya di negara Arab Saudi, Oman, Malaysia, dan Indonesia,” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa di Indonesia sudah beberapa kota yang dikunjunginya untuk mengadakan pelatihan-pelatihan hafiz Quran. “Kemarin saya baru ke Sidoarjo, dan di Malang sini sudah ada empat titik sekolah penghafal Alquran,” ujarnya. Salah satu siswa binaannya yang cukup berhasil adalah Fawwaz asal Sidoarjo, yang merupakan finalis kompetisi Hafiz Indonesia RCTI 2016.Arvendo

Bagikan informasi ini: