Jatuh Bangun Gapai Bangku Kuliah

Terlihat dari bilik jendela dengan kaca yang buram dan pintu ruang E8 202 B yang tertulis Animasi di bawahnya. Ada Dzinnu Roini yang duduk dengan antusias mendengarkan ekspositori dari dosen. Kuliah minggu pertama di semester dua. Barangkali ia sedang mencerna dan menggambarkan banyak angan di kepalanya tentang kehebatan dosen pengampu mata kuliah Nirmana 3 Dimensi atau berkeliaran dengan imajinasinya sendiri. Dzinnu, panggilan akrabnya ketika di kampus saat ini. Perawakannya tenang dan hanya sesekali berbicara ketika menurutnya penting saja. Namun, di balik pembawaannya yang demikian, ia mampu mengalahkan rongrongan pemikiran yang terdahulu ketika masih duduk di SMK.


Ia merupakan siswa aktif di sekolahnya yang pernah mengemban amanah besar sebagai Ketua OSIS pada zamannya. Tidak dapat dipungkiri pula, konsistensinya dalam kemampuan berdiplomasi dan bersikap terbuka pada teman-temannya, perlahan tapi pasti, dapat melahirkan satu per satu prestasi di perkuliahan. Dzinnu, sebagai mahasiswa baru di Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) mampu menyabet IP 3,93. Angka fantastis untuk bisa dibanggakan dengan latar belakang mahasiswa penerima Bidikmisi. Ia mulai menyerap segala materi yang bukan hanya tersimpan dalam memori saja, namun mulai terpatri dan mendarah daging dalam dunia desain, khususnya animasi. “Sebenarnya aku suka banget dan tertarik dengan dapur animasi, karena aku ingin memunculkan beberapa karakter yang islami namun juga bisa diterima oleh kalangan luas. Bukan hanya tokoh spiderman saja yang bisa diingat dan dibanggakan oleh orang-orang di seluruh negara,” begitulah impian mahasiswa pecinta futsal ini.
Walaupun masih semester awal, karyanya tidak kalah bagus dengan yang lain. Hanya membutuhkan sedikit polesan dan ketekunan, serta intensitas jam terbang untuk membuat karyanya lebih bernyawa.  Salah satu karya animasi yang telah dihasilkan, yakni Sickles the Cycle of Capitalism. Bercerita mengenai keserakahan penguasa dan para pemberi modal dengan pembangunan pabrik dimana-mana yang secara otomatis menghasilkan limbah pengubah ekosistem, serta memunculkan dinamika dalam sistem kemasyarakatan. Paket animasi tersebut mampu memikat Ima Kususmawati H., ` S.Sn., M.Ds., selaku dosen pendampingnya. Hanya tinggal menunggu karya-karya berikutnya yang tidak hanya bisa dinikmati estetikanya, tetapi juga memiliki nilai moral dan kehidupan yang bisa dipetik.
Lelaki asli Lamongan ini tak hanya tertarik dengan dunia animasi dan desain-desain yang lain, tetapi juga dunia kepenulisan dan religi. Sejak SMK, ia bergabung di Majelis Kajian Islam atau MKI yang berlanjut hingga kini, terutama MKI di wilayah Malang. Dzinnu telah berusaha menyeimbangkan kehidupan antara dunia dan keyakinannya untuk beragama. Berada di lingkungan keluarga yang sederhana sejak kecil tak memutuskan semangatnya untuk menimba segala ilmu yang dianggap bermanfaat. Begitu pula ia juga mencari-cari kebenaran mengenai hukum-hukum agama untuk ia yakini dan amalkan hingga kini. Hal baik tersebut juga tak luput ia realisasikan dengan sebuah tulisan, bukan hanya desain semata sebagai bidang keahliannya.
Di semester-semester berikutnya, Dzinnu memiliki mimpi untuk bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis (UKMP) UM yang tentunya bukan hanya sekadar wacana belaka. Ia ingin mendalami dunia kepenulisan karena melihat hasil cerita-cerita pendek yang telah dibuat dan tak ada satu pun yang rampung untuk bisa dinikmati secara utuh. Harapan Dzinnu untuk memiliki wadah bukan tanpa alasan. Kita tunggu saja karya-karya bombastis darinya. Bukan hanya hasil karya tulisan, namun juga animasi, bukan hanya animasi, tetapi juga substansi dakwahnya.
Berbekal semua perjalanan dan pengalaman yang telah ia lewati, ia tuangkan dalam sebuah rangkai kata nun indah. Deretan kata dan kalimat yang mampu memikat para juri di ajang kompetisi “Kisah Inspiratif Mahasiswa Bidikmisi UM”. Ia mampu menggulingkan ribuan peserta yang sama-sama menyusun bait-bait dari kehidupan dan perjuangan meraih kursi perkuliahan dengan biaya nol. Dzinnu berhasil menjadi jawara untuk kali ini. Para juri terpikat dengan gaya tulisannya yang khas dan cerita pengalaman yang dikemas secara unik dan apik.
Mungkin tak jauh beda dengan cerita dari teman-teman yang lain, perjuangan jatuh bangun untuk bisa mencicipi yang namanya SKS maupun IPK. Dzinnu yang berkali-kali ditolak di berbagai perguruan tinggi kini telah menjadi mahasiswa DKV UM. Berada di kampus ini, ia memiliki banyak alasan walaupun tanpa ia sadari. Ketika ditanya, Dzinnu menjawab bahwa ia masuk ke sini dengan tes yang sederhana. Di balik itu semua, ketika melihat kisah yang ia tulis semasa menjadi Ketua OSIS, namun tidak mendapat kesempatan untuk mengikuti seleksi SNMPTN karena kebijakan dari sekolah, padahal itulah yang sangat ia harapkan. Betapa terpukul dirinya. Tetapi dengan segara ia bangkit untuk memiliki keinginan keras agar bisa berkuliah. Karena ia tak ingin seperti saudaranya yang tidak memiliki kesempatan untuk mengenyam bangku kuliah walaupun sebenarnya selalu juara 1 dari SD sampai SMA. Ia tak ingin mengulangi sejarah keluarganya hingga ia memiliki tekad untuk bisa berkuliah tanpa membebankan orangtua.
Selamat datang pioner pejuang negeri ini! Kita nanti setiap karya-karyamu yang bermanfaat.Arni

Bagikan informasi ini: