Mahasiswa FIK yang Sukses Berwirausaha

IMG-20170124-WA0017

Mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) UM tidak hanya terkenal dengan mahasiswanya yang rajin berolahraga dan penghasil banyak prestasi, ternyata mereka juga pintar dalam menghasilkan ladang usaha. Mereka tanpa ragu membangun usaha sendiri dengan semangat jiwa muda yang masih menggelora. Salah satu dari mereka yang mengambil langkah ini adalah Sheling Lipo Nagasibi.


Sheling Lipo Nagasibi, selain menjadi anggota BEM FIK, mahasiswa semester VI ini mencoba perolehan di dunia usaha ternak cacing, “Awal usaha ini dari hobi memancing saya yang membutuhkan banyak cacing dan cacing di desa susah didapat, lagi pula untuk memulai usaha ini hanya membutuhkan ketelatenan dan modal usahanya kecil. Jadi cocok buat saya yang masih mahasiswa, hehe..” ujar mahasiswa yang biasa dipanggil Lipo itu.
Usaha cacing ini dimulai sejak dia kuliah semester IV, usaha ini bisa dilakukan sembari tetap berkuliah karena perawatan cacing yang mudah, mulai dari pemberian makan dua-tiga hari sekali sampai pembuatan wadah cacing yang hanya memakai rak kayu selebar 3mx80cm. “Saya memanfaatkan limbah jamur dari budidaya jamur di lingkungan, kotoran sapi sebagai makanan cacing, dan semua itu saya peroleh secara gratis. Dengan adanya peternakan cacing ini saya mendapatkan laba sekitar Rp700-800.000/bulan, meliputi wilayah pemasaran Kecamatan Tugu, Trenggalek. Lumayan, kan,” pungkasnya. Penjualan dengan harga 1kg cacing senilai Rp50.000 membuat mahasiswa yang berasal dari Trenggalek ini ingin terus melebarkan usaha hingga ke luar daerah.
Selain Lipo, ada Yusiano, mahasiswa semester VI Prodi S1 Pendidikan Jasmani dan Kesehatan yang memiliki usaha florist atau toko bunga, usahanya bisa dikatakan sukses karena pemasarannya sudah merambah hingga luar Pulau Jawa. “Awalnya ini usaha turun temurun dari kakek saya, terus saya mencoba membuka florist sendiri. Bermodal kebun bunga milik sendiri saya dapat memanen bunga setiap hari dan mengirimnya ke Jogja hingga Kalimantan dan Sulawesi,” ujar mahasiswa asal Batu ini.
Yusiano memiliki dua pegawai untuk merawat kebun bunganya, pegawai tersebut bertugas memetik bunga dan membungkus bunga untuk kemudian dikirim ke berbagai langganan yang sudah pasti, dari peruntungan laba sekitar Rp1.200.000/bulan, Yusiano mampu menggaji pegawainya Rp50.000/hari setiap lima jam kerja. Hambatan dalam usaha ini ketika pelanggan sepi, tetapi petani selalu panen dan menyetorkan bunga ke toko, maka banyak bunga yang terbuang, sehingga menyebabkan kerugian. “Karena saya banyak mengirim ke luar kota maupun pulau, saya pernah ketipu ketika saya mengirim ke Pulau Bali senilai Rp3.500.000, tapi ya gimana lagi, namanya juga usaha pasti ada untung ruginya,” tuturnya. Setiap pengirimannya, dia selalu menggunakan jasa travel dan cargo.
Florist yang menanam lima macam bunga ini juga membatasi pembelian ketika stok di rumah tidak mencukupi. Bisa jadi karena gagal panen atapun terlalu banyak pesanan. ”Di musim penghujan seperti sekarang ini saya rugi banyak, karena bunga banyak yang busuk dan banyak yang terbuang ketika disortir, tetapi kerugian itu bisa ketutup dengan laba beberapa bulan ke depan. Kalau lagi musim menikah orderan saya banyak sekali,” ucap sang pemilik florist. Sebagai mahasiswa semester VI, dia selalu direpotkan dengan pesanan bunga yang terlalu banyak dari luar Kota Batu, sehingga sedikit menggangu aktivitas di kampus, tetapi selama dia bisa membagi waktu, masalah akan terselesaikan.Amey

Bagikan informasi ini: