sentuh pendidikan Daerah Terpencil dan Anak Jalanan

Malang, sebuah kota yang dikenal banyak orang dengan keanekaragamannya, baik dari sisi budaya, masyarakat, maupun sosial.  Sebuah kota yang dikenal pula sebagai salah satu kota pendidikan, hal ini dikarenakan Malang memiliki banyak perguruan tinggi negeri maupun swasta yang terkenal hingga seluruh Indonesia dan menjadi salah satu tujuan pendidikan. Di balik itu semua, Malang tak luput dari berbagai permasalahan. Salah satu permasalahan yang cukup mendasar yaitu tentang pemerataan pendidikan. Meskipun mendapat gelar sebagai kota pendidikan, namun permasalahan pendidikan belum mampu teratasi seluruhnya, terutama di wilayah pinggiran kota ataupun yang berada di pelosok desa yang juga termasuk wilayah Kabupaten Malang.


Tentu Universitas Negeri Malang (UM), selaku kampus yang memiliki sumbangsih besar terhadap pendidikan Indonesia cukup berperan penting dalam mengatasi masalah tersebut. Mungkin kita sudah tak asing lagi dengan program yang digalakkan oleh beberapa kampus pendidikan, yaitu Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T). Program ini mengirim sarjana terbaiknya untuk mengabdi di daerah yang masih membutuhkan sentuhan pendidikan.
Selain itu, ada pula gerakan mahasiswa UM lainnya yang peduli akan pendidikan dan ikut andil dalam pemerataan pendidikan, khususnya di Kota Malang. Salah satunya adalah program bakti sosial yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Teknologi Pendidikan. Mereka menghabiskan sebagian waktunya untuk mengabdi di wilayah Bajulmati, Kabupaten Malang yang dilaksanakan dari tanggal 15 sampai 19 Desember 2017. “Kami memilih wilayah Bajulmati karena di daerah tersebut merupakan salah satu wilayah yang pendidikannya sangat tidak diperhatikan, pendidikan yang kita lihat selama ini di kota belum menyentuh hingga wilayah sana,” ungkap Agus, Ketua Pelaksana.
Ada beberapa kegiatan utama yang diadakan, yaitu mengajar ke sekolah memang membutuhkan. Selain itu, mereka juga melatih guru-guru yang berada di wilayah tersebut untuk mengenal teknologi komputer guna dijadikan sebagai salah satu fasilitas yang digunakan untuk membantu kemajuan pendidikan di wilayah Bajulmati. Tidak cukup sampai di situ, mereka juga melakukan penanaman bakau di wilayah pesisir Bajulmati. “Kami juga melakukan penanaman bakau di sepanjang hulu sungai, sempat kejadian banjir besar beberapa tahun di wilayah ini karena hutan bakau yang rusak,” tambah mahasiswa Jurusan Teknologi Pendidikan angkatan 2015 ini.
Gerakan sosial lainnya juga dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan  (FIP) yang bertajuk “FIP Mengajar”. Sedikit berbeda dengan HMJ Teknologi Pendidikan yang memfokuskan pada pemerataan pendidikan di wilayah yang tertinggal, gerakan sosial yang dikoordinasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan (BEM FIP) ini berfokus pada anak jalanan. Dalam kegiatan kali ini, BEM FIP melaksanakan rangkaian kegiatan untuk mengajar anak jalanan yang dilaksanakan setiap Minggu pada bulan November hingga Desember. “Yang kami ajarkan pelajaran sekolah sama sopan santun, soalnya lingkungan di sini keras dan kebanyakan anak-anak di sana butuh kasih sayang lebih,” jelas Dimas Jabbarrianto, selaku penanggung jawab kegiatan FIP Mengajar. Dia juga berharap agar mahasiswa, khususnya warga Fakultas Ilmu Pendidikan UM, tidak hanya terfokus pada kegiatan yang berada dalam kampus saja, tetapi juga lebih peka terhadap kondisi lingkungan di masyarakat yang sebenarnya. Karena mahasiswa pada hakikatnya mengabdi kepada dan untuk masyarakat, bukan hanya sibuk berkegiatan di kampus.Rodli

Bagikan informasi ini: