Kesetaraan Sekolah Inklusi di Indonesia

Setiap warga negara, tidak memandang ras, agama, suku, gender, keterbatasan fisik mental berhak memperoleh layanan pendidikan dan perlindungan dari diskriminasi. Jumat (24/O2), Fakultas Pendidikan Psikologi (FPPsi) mengadakan kuliah tamu yang membahas tentang isu-isu anak berkebutuhan khusus mulai pukul 08.00 sampai 10.00 WIB. Acara ini dihadiri sekitar 135 Mahasiswa Psikologi dari angkatan 2014 sampai 2016. Materi disampaikan oleh Nurul Saadah Andriani, SH., Direktur Sentra Advokasi Perempuan dan Anak (SAPDA) sejak tahun 2004. Beliau juga aktif menjadi narasumber terkait hal tersebut, baikdi  tingkat  nasional maupun internasional.

Lingkungan menjadi sangat penting untuk menggali potensi anak, terlebih pada anak yang berkebutuhan khusus. Seringkali sekolah tidak mampu menerima kehadiran anak karena sumber daya manusianya belum tersedia. Hal inilah yang kemudian membuat Nurul giat menyosialisasikan mengenai pentingnya didirikannya sekolah inklusi. “Melalui sekolah inklusi, harapannya anak berkebutuhan khusus dapat berkembang mengenali potensinya dengan mengamati teman-teman di sekitarnya tanpa adanya kelompok-kelompok yang kesannya mendikriminasi,” jelas wanita yang sedang melanjutkan studi hukum program pascasarjana di Universitas Gajah Mada (UGM) ini. Namun hal ini bukan berarti Sekolah Luar biasa (SLB) sudah tidak lagi dibutuhkan. Anak-anak berkebutuhan khusus yang memang membutuhkan layanan lebih banyak mungkin akan lebih tepat untuk ditempatkan di SLB. Tujuan yang diharapkan tetap sama, yaitu anak dapat bersosialisasi, berkomunikasi, serta mendapat penerimaan dari teman-temannya.foto 3

Setara tidak harus sama. Setara artinya memberikan layanan dengan porsi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu. Hal inilah yang menjadi landasan dasar dalam mendirikan sekolah inklusi. Pendidikan dikemas dalam bentuk keberagaman. “Kuliah tamu kali ini temanya menarik, menggerakkan hati untuk membantu melayani anak-anak berkebutuhan khusus, terlebih dalam status yang melekat pada diri saya sebagai calon psikolog,” ungkap Nindita Amadea, Mahasiswa Psikologi angkatan 2014.Maul

Bagikan informasi ini: