BAWA “BEKISAR MERAH” KE PENTAS BERKELAS

 

 

Novel Bekisar Merah karya Ahmad Thohari ini menginspirasi para pemain seni di Teater Pelangi, mereka berupaya untuk menuangkan cerita dalam novel menjadi sebuah drama teater yang berkelas. Teater Pelangi yang berada dibawah naungan HMJ Sastra indonesia UM ini diikuti banyak mahasiswa dan tidak melulu mahasiswa Fakultas Sastra. Akhir Pekan ini Teater Pelangi mempersembahkan pentas produksi yang ke-23 berjudul “Bekisar Merah, Enigma Cinta Lasi”.

“Pementasan ini diadakan untuk memperingati ulang tahun ke-23 Teater Pelangi yang merupakan teater pertama di UM, acara ini sebenarnya diadakan setiap tahun sekali, tapi tahun ini kami mengusung konsep yang berbeda yaitu di awali dengan adanya festival monolog mahasiswa yang diikuti 22 peserta, kemudian diadakan pentas teater ini mbak hehehe… ” tutur Ekol Pambudi sebagai pemimpin produksi. Acara ini diadakan dua hari pada hari rabu dan kamis, 8-9 Maret lalu. Dalam dua hari itu diadakan dua kali pementasan dengan tema dan pemain yang sama. Acara dimulai pukul 19.00 sampai dengan selesai pementasan.

“Konsep panggung yang melingkar sengaja dibuat untuk memudahkan penonton melihat dengan jelas pementasan tersebut, 1000 tiket terjual selama dua hari, satu harinya sekitar 400an penonton, peminatnya banyak mbak dari jurusan lain. Bahkan banyak mahasiswa dari UNESA, jogja, solo, dan pasuruan” tambah Ekol. Tugas sie dokumentasi untuk mempublikasikan ke seluruh kampus sehingga menghasilkan penonton dari kalangan mahasiswa yang beragam. Sebelum diadakan pementasan produksi ini, para pemain Teater Pelangi mengikuti Festival Teater Mahasiswa Seluruh Indonesia (FESTAMASO) dan berhasil mewakili UM dan Jawa Timur kemudian lolos ke Makassar. Anggaran dana yang dibutuhkan dalam pementasan produksi ini berkisar antara 4 juta, yang bersumber dari Fakultas.

Acara yang diadakan di gedung Sasana Budaya UM ini disutradarai oleh Izzul Mutho’ dan naskahnya ditulis oleh Wildan Jayus T.R. Pementasan ini dipersiapkan sejak November 2016 dan para pemain wajib berlatih setiap hari. Ekol menambahkan “Sebenarnya susah mengurus mahasiswa yang selalu berbeda pendapat dan berbeda kesibukan, tapi saya berusaha menempatkan diri saya diposisi mereka untuk lebih mudah memahami karakter setiap pemain yang berstatus mahasiswa tersebut, oiya untuk panitia ini banyak yang dari alumni teater pelangi dari berbagai perguruan tinggi, jadi sistemnya kita keterbukaan hehehe..”.

“jadi begini, novel Bekisar Merah ini bercerita tentang pasangan suami istri yaitu Lasi dan Darsa. Darsa beruntung karena Lasi adalah perempuan tercantik di desa tersebut. Mereka sudah menikah selama 4 tahun, suatu hari Darsa jatuh dari pohon kelapa kemudian Darsa mengalami impoten kemudian pijat kepada bunek yang mempunyai anak perawan tua, impoten Darsa bias sembuh apabila melakukan hubungan suami istri tidak dengan istrinya maka bunek menyuruh Darsa berhubungan suami istri dengan anak bunek tadi, lalu Lasi tau kemudian Lasi marah kepada Darsa dan jadilah malapetaka”  tutur Ririn Irmawati yang berperan sebagai Bunek.

Penonton sangat antusias, banyak yang menghayati cerita sampai menangis. Ini menandakan pementasan produksi Teater Pelangi berlanjalan dengan lancar dan menarik. “pementasannya bagus,  cuman isinya nggak sama, yang ini lebih singkat, alurnya singkat. Untuk pendalaman peran cukup bagus, keren pokoknya. Semoga Teater Pelangi terus maju hehehe” ungkap Ninda sebagai penonton dari UNESA. Mahasiswa UNESA datang ke Sasana Budaya UM satu angkatan dalam progam pendidikan S1 Pendidikan Bahasa Indonesia untuk mengapresiasi prosa dari novel Bekisar Merah.

Bagikan informasi ini: