Menggapai Sisa Peradaban di Gunung Tambora

oleh: Nur Hadi*)

Pendahuluan

Akhir dari kegiatan penelitian tentang etnografi pendidikan komunitas adat di Desa Tambora, saya manfaatkan untuk mendaki gunung Tambora. Beberapa hari saya kaji masyarakat Tambora, rumah-rumah adat dalam bentuk rumah panggung masih ada, namun sebagian besar sudah beralih menjadi rumah-rumah tembok yang besar. Pengaruh modernitas sudah sangat deras masuk, dan mempengaruhi tradisi budaya masyarakat. Untuk mencapai Desa Tambora dapat dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan perjalanan udara sampai di Bandara Sultan Muhammad Salahuddin, Bima. Selanjutnya perjalanan darat menuju terminal Gante, Kota Dompu, dengan menumpang angkutan umum. Dalam perjalanan banyak kami jumpai para penjual jagung matang di pinggir jalan yang bersiap-siap mengemas barang dagangannya. Ketika kami singgung bahwa di Jawa orang berjualan jagung pada malam hari, sopir mengatakan bahwa disini orang jual jagung siang hari, kalau malam tidak aman, sehingga segera harus mengemas barang dagangan jika hari mulai gelap. Menginap dapat dilakukan di sekitar terminal Gante, ataupun langsung menuju daerah Kempo melewati Kecamatan Manggalawa, Doro Peti, Pekat, Doro Ncanga, Calabai, Kadompo, Kadindi dan Tambora. Sejak dari Kempo di sebelah kiri jalan membujur teluk Saleh yang sangat indah. Bentuk teluk yang memanjang seakan menemani perjalanan menuju Desa Tambora. Bekas-bekas letusan dahsyat Tambora menyisakan bentang alam yang luas berbentuk savanna dan stepa, khususnya di wilayah Pekat-Doro Ncanga.

Gunung Tambora memiliki sejarah letusan yang sangat dahsyat 10 April 1815, menewaskan lebih dari 91.000 jiwa. Gunung yang tingginya semula 4.300 meter dpl (tertinggi di Indonesia), akibat meletus tinggal 2.850 meter dpl. Letusan gunung ini terdengar sampai di pulau Sumatra dan Sulawesi, dengan kekuatan empat kali lebih kuat dari pada letusan gunung Krakatau, mempengaruhi cuaca global, membuat Eropa dan Amerika Utara mengalami musim dingin dan langit temaram selama tiga tahun berturut-turut, karena cahaya matahari tidak bisa tembus. Demikian juga di berbagai belahan dunia,  terjadi bencana kelaparan dan penyakit. Terdapat dua kerajaan di pulau Sumbawa yang terkubur bersama letusan itu: kerajaan Pekat dan Tambora, serta menghancurkan kerajaan Sanggar. Bekas-bekas letusan itu masih bisa dilihat dalam pendakian menuju puncak Tambora.

Untuk mendaki puncak Tambora terdapat tiga jalur pendakian: pertama lewat Doro Ncanga. Ini jalur yang terdekat dan termudah, biasanya dilakukan dengan menumpang Jeep dengan ongkos Rp 4.000.000,- sampai di puncak dan bisa dilanjutkan jalan kaki menuruni gunung melihat bentang alam di bawah. Jalur ini tidak saya sarankan, khususnya untuk mahasiswa yang masih cukup kuat fisik untuk mendaki, terlebih dengan membayar ongkos angkutan yang terbilang sangat mahal untuk kantong mahasiswa. Jalur Kedua adalah jalur yang kami lalui melalui Desa Tambora, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu. Jalur ini cukup menantang, dan bisa sampai di puncak tertinggi Tambora. Puncak tertinggi tidak bisa dilalui lewat Doro Ncanga, demikian pula dari puncak tertinggi tidak bisa menuju Doro Ncanga. Menteri ESDM Prof. Ir. Widjajono Partowidagdo, M.Sc, MSOR, MA, Ph.D, yang gugur ketika menuju puncak Tambora berangkat dari Doro Ncanga, namun sayang sebelum sampai puncak beliau gugur. Terdapat Prasasti peringatan gugurnya beliau dipasang juga di puncak tertinggi Tambora, dari jalur pendakian Desa Tambora-Dompu. Adapun jalur ketiga bisa ditempuh dengan base camp Kebun Kopi Desa Oi Bura, Kabupaten Bima. Jalur ini sebenarnya berimpitan dengan jalur pendakian lewat Desa Tambora-Dompu, namun masing-masing terdapat jalur sendiri-sendiri menuju Pos 1.

Perjalanan Mendaki Tambora

Minggu pagi, sekitar pk. 06.30 WITA, tanggal 21 Agustus 2016, saya dan Pak Ardyanto Tanjung (dosen Geografi FIS UM), mulai perjalanan naik gunung Tambora. Kami menggunakan jasa porter untuk mengangkut barang. Alat-alat masak, mie, telur, beras, dan lain-lain kami beli. Total semua biaya untuk kami berdua Rp 1,5 juta, termasuk sewa sebuah tenda. Semua barang itu kami beli dan sewa  dari mas Syaiful, pemilik tempat penginapan yang sekaligus menyediakan souvenir Tambora. Perjalanan mendaki Tambora lewat jalur Desa Tambora, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, akan selalu lewat tempat penginapan ini. Demikian juga pembayaran tiket masuk dilayani mas Syaiful, sambil beliau memberikan beberapa buku tentang flora-fauna dan sejarah gunung Tambora. Dari Base camp ini perjalanan cukup jauh. Tanah cukup landau namun berlumpur. Sebelum berangkat kami sarapan terlebih dahulu, serta membawa nasi bungkus untuk nanti makan siang di jalan. Perjalanan menuju Pos 1 kami tempuh sekitar sekitar 2,5 jam. Separuh dari perjalanan yang kami lalui naik cukup curam, sehingga napas kami terengah-engah. Di Pos 1 kami bertemu dengan rombongan yang kemarin sore berangkat. Mereka sedang makan bersama, semalam mereka nginap di Pos 1.

Kami tidak lama berada di pos I dan segera melanjutkan perjalanan menuju Pos 2 yang kami tempuh sekitar 2 jam. Letak Pos 2 berdekatan dengan sumber air. Di Pos 2 inipun kami tidak berhenti lama dan segera meneruskan perjalanan menuju Pos 3 yang juga kami tempuh dalam waktu sekitar 2 jam. Dari Pos 1 sampai Pos 3 jalanan cukup landai, namun sangat panjang. Karena panjangnya rute perjalanan, baru tengah hari kami sampai di Pos 3. Lewat tengah hari kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 4. Di sini tidak ada bangunan penanda pos. Hanya sebuah tulisan di salah satu pohon yang menunjukkan Pos 4. Terdapat beberapa pohon besar yang kokoh, sayang diberikan ukiran oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Di Pos 4 ini saya dan mas Tanjung berhenti untuk makan. Bekal nasi yang kami bawa dari Desa Tambora kami buka dan makan dengan lahap. Terasa perut sangat lapar dan haus. Porter kami minta meneruskan perjalanan menuju Pos 5 untuk mempersiapkan dan mendirikan tenda. Sesuatu yang sangat mengganggu di perjalanan dari Pos 2 sampai dengan Pos 4 adalah keberadaan tanaman jelatang mengandung racun, di mana pada bagian lembar daunnya terdapat semacam benang pendek yang amat tajam. Saya sendiri terkena “jarum” tersebut. Ketika lengan saya tersentuh, rasa pedih menjalar ke dalam lengan terasa badan agak meriang dan kaku di bagian lengan tersebut sampai waktu yang agak lama. Terkena pada siang hari saya merasakan sakitnya sampai malam hari. Disarankan untuk tetap bertahan menggunakan jaket yang menutup seluruh lengan dari mulai berangkat sampai ke puncak Tambora, sampai kembali pulang. Walaupun hawa terasa panas, sebaiknya jaket tersebut tetap digunakan, kecuali ketika beristirahat. Selain itu sepatu, celana panjang dan jaket yang kita gunakan akan basah oleh air embun yang ada di dedaunan yang kita lewati.

Selesai makan, kami segera menyusul porter menuju Pos 5. Sebenarnya masih ada kesempatan untuk menuju ke perhentian terakhir sebelum puncak, yaitu di lokasi yang oleh para pendaki disebut “makam” (sebuah tempat yang di dekatnya terdapat prasasti kecil penanda bahwa seorang pemandu telah meninggal pada 1 Pebruari 1980). Sebenarnya jarak tempuh dari Pos 5 sampai “makam” hanya sekitar satu jam, demikian pula dari “makam” menuju puncak juga sekitar satu jam perjalanan. Namun kami putuskan menginap di Pos 5 karena relatif masih dekat dengan sumber air, di samping kondisi tubuh yang sudah sangat lelah. Kami sempat masak mie dan membuat teh sebelum keadaan gelap.

Menuju Puncak Gunung Tambora

Rasanya tidur malam kami sangat sulit, karena sekujur tubuh yang sangat lelah, serta terdapat babi hutan yang mendatangi tenda kami, mencari sisa-sisa makanan. Beberapa kali porter mengusir binatang tersebut, namun kembali lagi. Pagi-pagi sekali sekitar pukul 02.30 WITA kami siap berangkat menuju puncak. Sebenarnya puncak Gunung Tambora ini hanya kelihatan sedikit dari Desa Tambora, jika keadaan langit sedang terang. Namun ketika memasuki jalur pendakian sampai dengan Pos 5 gunung Tambora tidak kelihatan. Perjalanan dini hari yang gelap, sangat tergantung pada lampu senter. Semua barang kami tinggal di Pos 5. Hanya barang-barang yang ringan dan sangat penting, seperti air minum, makanan kecil, topi, jaket, sarung tangan kami bawa. Sebisa mungkin ketika akan berangkat naik gunung kita menggunakan sepatu gunung yang tidak mudah rusak. Jalanan yang kami lalui naik dan menikung. Gunung Tambora ini tingginya tidak seberapa jika dibandingkan dengan gunung berapi yang lain, namun panjangnya luar biasa. Ini bisa dirasakan dari sejak memasuki gerbang masuk kawasan pendakian sampai Pos 5.

Menuju puncak gunung-gunung berapi yang tinggi di Indonesia, seperti Semeru, Rinjani, ataupun Kerinci, akan kita jumpai ciri-ciri yang sama: pohon yang semakin jarang, sampai pohon terakhir, dilanjutkan pada jalanan dengan alang-alang, pasir dan geragal yang sulit diinjak sampai puncak. Hanya bedanya ciri-ciri tersebut di Tambora semuanya berada dalam satu etape mulai kawasan Pos 5 sampai puncak dengan jarak yang relatif pendek. Ketika jalanan mulai kelihatan remang-remang, mulai kelihatan beberapa tenda di dekat “makam”. Para penghuninya kelihatan mulai persiapan pendakian menuju puncak. Lampu senter tidak lagi kami perlukan. Sebentar-sebentar saya menengok ke belakang, arah matahari terbit, takut keburu berlangsung sunrise sebelum kami sampai di puncak. Hawa terasa sangat dingin, dan yang lebih menyiksa angin bertiup sangat kencang, menjadikan rasa dingin amat menusuk tulang. Sungguh karunia Tuhan, kami sampai puncak dekat sebelum sunrise, dan sungguh keagungan Tuhan betapa indahnya matahari terbit dilihat dari puncak Gunung Tambora, dengan topangan bibir kawah Gunung Tambora. Subhanallah, kami berkesempatan menginjakkan kaki di atas bibir kawah gunung yang pernah meletus paling dahsyat di dunia era modern.

Kami ingat, ketika tempo hari naik pesawat, lewat di atas Gunung Tambora yang ditutupi awan, kelihatan kawah itu seperti sebuah stadion Sepakbola yang bulat dilihat dari atas. Kini kami melihatnya dari sisi atas samping dengan pancaran sunrise, sungguh menakjubkan! Kami dokumentasikan sekeliling puncak Gunung Tambora. Puncak yang kami injak ini adalah puncak tertinggi, karena ada puncak lain yang lebih rendah yang dapat dijangkau dari arah Doro Ncanga. Terdapat bendera merah putih dan tulisan puncak Gunung Tambora pada lempengan aluminium berwarna hijau bertuliskan: TAMBORA 2850, GREEN G – EARTH. Beberapa rekan yang semalam nginap di lokasi dekat “makam” kini berada bersama kami di puncak Tambora.

Setelah puas mendokumentasikan semua sudut puncak Tambora kami turun. Perjalanan turun lebih ringan, namun tenaga sudah sangat lelah. Jalanan dari geragal dan pasir yang sangat sulit didaki karena injakan kita akan hilang separuh, justru sebaliknya ketika turun. Dengan menggunakan tungkai kaki, kita dapat turun dengan cepat dan mudah. Dengan segera kita sampai di tempat  tiga tenda yang masih berdiri di lokasi dekat “makam”. Pemilik tenda ini masih di atas. Barang-barang yang berat seperti tenda, menurut kelaziman di berbagai pendakian di banyak gunung akan kita tinggal ketika menuju puncak. Di gunung kita harus berpikir dan berhati bersih, tidak ada rekan pendaki yang berpikiran kotor, seperti niat mengambil barang orang lain.

Hanya sekitar 30 menit dari puncak Tambora kami sudah melewati lokasi “makam” dan segera sampai di Pos 5 tempat kami semalam menginap. Porter tadi turun duluan untuk sekedar membuat minuman dan makanan (mie), serta mengemas tenda beserta peralatan yang lain. Setelah sedikit makan mie godok dan minum teh manis, kami segera melanjutkan perjalanan turun ke Pos 4. Baik di Pos 5 maupun Pos 4 tidak ada bangunan Joglo. Kami bertiga saling susul. Kaki saya sebenarnya sudah sangat lelah dan kesakitan, tapi saya paksanakan jalan. Sekitar satu jam perjalanan turun kami sampai di Pos 3. Disini saya sempat tiduran, air minuman sudah sangat menipis. Setelah rebahan sebentar perjalanan kami teruskan ke Pos 2. Jelang sampai di Pos 2 ini ada sumber air yang sangat jernih yang kami lalui. Saya sempatkan untuk minum sepuasnya, dan cuci muka, serta mengambil air untuk bekal turun, dan melanjutkan perjalanan menuju Pos 1. Sesuatu yang mengusik saya ketika kemarin akan naik di Pos 1, maupun saat turun, adalah adanya suara gergaji mesin yang sedang memotong pohon-pohon. Namun sampai saya berjalan ke puncak Tambora dan sampai kembali di Pos 1 saya belum pernah menjumpai adanya illegal logging yang saya curigai itu. Memang saya rasakan ada jalur-jalur pendakian tertentu yang ditutup. Terbersit keinginan untuk melewati jalur yang ditutup tersebut karena rasa penasaran. Walau ada perasaan takut, teringat bahwa di gunung tidak boleh berpikiran kotor dan berhati kotor. Namun kecurigaan itu tidak bisa dihilangkan karena suara mesin gergaji yang keras dan terasa di dekat kami. Karena merasa toh sudah ada di Pos 1, akhirnya saya pilih jalur yang ditutup, dan saya mendapati apa yang saya curigai. Nampaknya saya keluar jalur agak terlalu melebar ke wilayah Kabupaten Bima. Saya saksikan pemotongan pohon-pohon dengan gergaji mesin, dan sebuah truck yang siap mengangkut kayu-kayu gelondongan tersebut. Rupanya daerah perbatasan antara Kabupaten Bima dan Dompu memberikan kesempatan, dan merupakan daerah strategis untuk melakukan illegal logging.  Pemberlakuan status sebagai wilayah Taman Nasional Gunung Tambora oleh Presiden Joko Widodo, pada April 2015, nampaknya tidak cukup dipatuhi. Secara diam-diam sebagian bekas penebangan itu saya dokumentasikan. Sore hari kami sampai di base camp Desa Tambora. Mas Tanjung dari Pos 1 kembali ke Desa Tambora lewat Dompu, sedangkan saya lewat Bima. Mas Tanjung sempat khawatirkan saya akan tersesat jauh, namun ada keuntungan tidak sengaja yang saya peroleh, dengan illegal logging yang saya saksikan langsung.

*) Penulis adalah dosen jurusan Sosiologi, FIS-UM.

 

 

Kawasan savana menuju Desa Tambora. Pada latar belakang nampak Teluk

Saleh yang indah (Dok. Pribadi Nur Hadi, 2016)

 

 

 

Pemandangan di sekitar Pos 4: banyak pohon besar yang tumbuh kokoh,

Sayang banyak pula tangan jahil yang merusak, dengan mengukir batang

pohon tersebut (Dok. Pribadi Nur Hadi, 2016)

 

Penulis berada di Pos 5, menuju ke puncak

Gunung Tambora (Dok. Pribadi Nur Hadi, 2016)

 

Base camp terakhir menuju puncak gunung Tambora (Dok. Pribadi

Nur Hadi, 2016)

 

Kawah gunung Tambora saat matahari terbit, dilihat dari tepi kawah

(Dok. Pribadi Nur Hadi, 2016).

 

 

 

 

 

Kawah gunung Tambora, dilihat dari udara (Dok. Pribadi Nur Hadi, 2016).

 

Penulis berada di puncak Gunung Tambora (Dok. Pribadi,

Nur Hadi, 2016).

Batu peringatan atas gugurnya Menteri ESDM Widjajono Parto Widagdo,

M.Sc., MSOR, M.A, Ph.D. di gunung Tambora tanggal 21 April 2012,

diletakkan di samping tiang bendera puncak Tambora (Dok. Pribadi,

Nur Hadi, 2016).

Penulis berada di lingkungan puncak Gunung Tambora

(Dok. Pribadi Nur Hadi, 2016).

 

Para pendaki berada di puncak gunung Tambora (Dok. Pribadi Nur Hadi,

2016).

 

 

 

Bekas illegal logging di hutan Taman Nasional Gunung Tambora (Dok.

Pribadi Nur Hadi, 2016).

 

Bagikan informasi ini: