Sang Organisatoris Pengoleksi Gelar Duta

 

 

Perempuan itu tidak lemah

Perempuan itu tangguh

Tidak banyak mengeluh

 

Itulah hal yang dituturkan oleh Hepy Mandiana Sari, penyandang Duta Hijab Radar Malang 2017. Gadis yang bukan lagi belia ini, telah menjelma menjadi sosok perempuan tegar dengan pikiran dewasa. Ia berpikiran melampaui umurnya yang menginjak 20 tahun. Menjadi percaya diri dan berani menunjukkan karakter dirinya bahkan di hadapan banyak orang bukan merupakan hal yang sulit untuk ia lakukan. Terbukti ia bisa menuntaskan segala tantangan di atas panggung Duta Hijab tanpa gemetar seujung jari pun.

Keberanian untuk unjuk diri dan karakternya yang tegar tak ia dapatkan hanya dengan menengadahan telapak tangan. Cerita dari perempan asal Gresik ini pun mengalir menembus mesin waktu ke masa saat ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Hepy, perempuan yang lahir pada 25 Januari 2017 ini memang suka berkecimpung dalam organisasi. Dia mengikuti Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) pada awal tahun pertamanya di sekolah SMP. Menginjak tahun kedua ia dipercaya untuk menjadi ketua OSIS. Tak puas hanya dengan kesibukannya, ia juga terjun dalam ekstra pramuka. Bahkan ia diamanati untuk menjadi ketua. Kali itu bidang akademiknya berjalan seimbang seiring dengan kegiatannya. Tak putus sampai disitu, saat memasuki Sekolah Menengah Atas (SMA) ia pun bergelut lagi dalam dunia OSIS. Ia dipercaya lagi menjadi Ketua OSIS.

Ditengah-tengah kesibukannya mengikuti berbagai macam organisasi, perempuan yang menggemari olahraga voli ini sempat mengikuti lomba kartini. Ia dipilih oleh salah satu guru untuk mengikuti lomba tersebut. Inilah awal mula ia menjajaki dunia entertain. Karena berhasil menyabet juara harapan 1, ia lalu mengikuti ekstra keputrian di sekolahnya.

Sebuah keputusan pastilah mempunyai resiko. Resiko yang mengekor dari kesibukan yang dijalaninya adalah nilai kademikmnya menurun. Ia berusaha keras untuk mengikuti ketertinggalannya di tahun akhir masa SMA. Melampaui sederetan ujian akhir sekolah merupakan masa-masa menegangkan yang menguras tenaga dan pikiran. Hingga akhirnya topi toga melambung di atas sumringahnya senyuman. Beban terasa berkurang namun tak terangkat penuh. Saat-saat dilematis pun menghampiri. Menentukan pilihan jurusan yang akan ditempuh empat tahun kedepan. Begitu juga yang dialami oleh Hepy. Perempuan yang menyukati makanan bebek ini sempat mengalami selisih pendapat dengan orang tuanya. Pilihan untuk mengambil kepolisian atau keperawatan terpampang di hadapan mata tanpa ada kemantapan hati. Jiwanya sebenarnya berada di jurusan sosial. Namun ia tetap mengucap bismillah di segala langkahnya walaupun itu untuk menuruti keinginan hati sang orang tua. Sampai pada takdir yang menuntunnya, akhirnya ia masuk dalam passion-nya di dunia sosial yaitu jurusan Pendidikan Hukum dan Kewarganegaraan.

Hepy menyadari jurusan yang ia masuki bukanlah jurusan yang melegakan hati orang tuanya. Hal inilah yang menggugah benak untuk mengembangkan kemampuan non akademik yang bisa membanggakan orang tuanya. Alasan untuk berkiprah di dunia entertain bukanlah suatu keputusan untuk senang-senang atau mengiktui arus remaja yang merasa ingin terkenal.

Niat bukanlah hanya sekedar angan-angan yang mengambang di awan, bukan hanya sekedar kata-kata yang berhembus di tengah angin. Ia berusaha mewujudkan keinginannya dengan  mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Ikatan Pecinta Retorika Indonesia (IPRI) untuk mendalami ketertarikannya di dunia entertain. Kemampuannya benar-benar terasah. Ia yang senang menjadi pembawa acara atau Master of Ceremonies (MC) ini belajar banyak hal tentang cara dan teknik. Hingga sekarang ia mendapatkan berbagai tawaran job dari berbagai kenalan.

Tipe organisatoris yang aktif tak bisa terlepas hanya dengan berganti seragam. Ia tetap saja berkelut di organisasi mahasiswa yaitu Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). Tak mudah untuk meyakinkan sang bunda agar mengijinkan aktif dalam organisasi. Namun tabiat keukeuh Hepy meluluhkan hati sang bunda. Akhirnya, dengan janji bahwa kemampuan akademiknya tak akan anjlok lagi, Hepy mendapat kepercayaan dari Ibundanya.

Gemblengan dari beberapa organisasi membuat perempuan ini bermental kuat dan berkarakter. Terbukti pada saat ia mengikuti Duta Wisata atau bisa disebut “Cak dan Yuk” Kota Gresik 2016. Tak sedikitpun ia merasa takut atau grogi. Segala macam masa karantina, tantangan, dan tes ia lampau dengan percaya diri. Juara 3 (wakil II) pun berhasl ia kantongi.

Tak lama setelah itu, berasal dari hasil stalking tentang kompetensi duta, ia menemukan kompetisi duta Hijab Radar Malang. Sempat ragu karena ia bukan berasal dari Malang. Namun dengan memegang kata bismillah ia tetap membulatkan tekadnya. Tanpa sepengetahuan orang tua, ia mendaftarkan diri dengan uang hasil MC. Ia takut memberikan harapan pada orangtuanya dan membesitkan rasa kecewa jikalau ia tidak dapat meraih juara. Tapi apalah daya, kompetisi dilaksanakan saat liburan semester. Mau tidak mau ia harus memberitahu orang tuanya.

Memanggul ijin dari orang tua, Hepy pun berangkat ke kota rantaunya. Mengurusi segala persyaratan sendirian karena memang dalam masa liburan. Selain itu, organisasinya sedang dalam acara sehingga teman-temannya berhalangan untuk menemani. Ia tak mengeluh, ia tetap tangguh mengiktui satu per satu tahapan yang harus dialui. Sesekali pikirannya gentar, mendapati banyanya peserta yang membludak. Namun hal ini tidak sedikitpun menggetarkan keberaniannya. Tes tulis dan dua kali wawancara ia lalui dengan usaha yang terbaik. Ketenangannya berhasil membawanya sampai pada tahap 40 besar dari 204 peserta.

Kompetisi unjuk bakat menjadi penyaring dari 40 besar ke pintu karantina finalis dua puluh besar. Sama seperti unjuk kebolehan pada saat duta wisata 2016 di Gresik, ia menampilkan lagu dengan tarian jawa. Ia mempelajari lagu jawa dari ibunya yang pintar nyinden. Memandangi kompetitor lain yang juga menampilkan bakat yang menarik membuatnya tak optimis untuk jadi pemenang. Rasa syukur menyelimuti hatinya ketika namanya berhasil masuk dalam 20 besar.

Pintu karantina terbuka lebar. Telepon genggam pun disita seakan benar-benar memutus semua komunikasi dengan dunia luar. Para peserta difokuskan mengikuti materi yang diberikan. Saling mengenal karakter satu sama lain dalam waktu tiga hari (24-26 Februari 2017) menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

Sampai pada waktu yang ditunggu (26/2/2017), berada di pelataran lantai satu Mall Olympic Garden (MOG), keduapuluh finalis melangkahkan sepatu hak tinggi di atas panggung yang dikhususkan. Memang mental sudah terasah, Hepy tidak sedikitpun merasa gentar dan gemetar menghadapi ribuan pasang mata yang tertuju padanya. Bak Putri Indonesia, ia memperkenalkan diri dan melantunkan setiap pemikirannya untuk menjawab pertanyaan dari penilai. Melihat peserta lain berhasil menjawab dengan sempurna membuat Hepy lagi-lagi tak optimis untuk menang. Namun ia tak pesimis untuk kalah. Ia hanya berusaha semaksimal mungkin.

Tibalah saat pengumuman 10 besar. Sayangnya pembawa acara tak menyebutkan namanya sehingga ia pun berbesar hati untuk turun dari panggung. Namun keheranan terjadi, semua panitia panik karena hanya ada 9 peserta yang berada di panggung. Seketika pembawa acara meminta maaf dan memanggil nama yang tertinggal yaitu Hepy Mandiana. Hepy tak percaya. Ibarat ia diayunkan ke bawah untuk diangkat ke atas. Ia berputar untuk naik ke panggung lagi. Bahkan juga tak percaya saat mahkota kemenangan juara satu dianugerahkan di kepalanya. Suatu hal yang pantas bagi Hepy untuk berbangga diri. Namun bukan menjadi pembatas untu terus mengasah diri. Ketangguhan untuk membagi tenaga ketika menjadi Duta Wisata Gresik 2016, Duta Hijab 2017, Ketua Bidang di HMJ, dan Ketua Sub bidang di IPRI serta job-job tambahan. Tidak banyak mengeluh atas segala program kerja yang dilakukan bahkan jika harus bolak-balik untuk rapat di Gresik. Bahkan untuk membagi waktu mengerjakan tugas sebagai bentuk tanggung jawab terhadap gelar utama yang disandangnya yaitu sebagai mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial.

Tak secuil hikmah yang ia dapatkan saat menjadi Duta Hijab. Kini ia memantaskan diri dengan tidak menggunakan pakaian yang kurang sopan, lebih mendalami tentang islam, dan juga lebih aktif dalam kegiatan social. Memang sesuatu yang diawali dengan niat yang baik maka akan berhikmah lebih baik pula. Hal yang lebih penting lagi, ia telah berhasil membuat orang tuanya ban gga Maria.

Bagikan informasi ini: