Inovasi Kurikulum untuk Kelenturan Pendidikan: Menjawab Tantangan Zaman

 

Oleh A.J.E Toenlioe

Perkembangan ilmu dan teknologi, serta perubahan sosial yang pesat, menyebabkan masa depan sulit diduga. Kurikulum perguruan tinggi (PT), yang semula diyakini mampu menghasilkan lulusan sesuai realitas sosial, ternyata tak cukup menghasilkan lulusan yang mampu beradaptasi dalam perubahan  masyarakat.  Diperlukan pendekatan baru dalam menata kurikulum PT untuk menjawab tantangan zaman.
Masalah relevansi kurikulum PT di Indonesia dengan perubahan sosial mungkin juga bersumber dari hulu pendidikan. Mungkin terdapat ketidaktepatan dalam pengelolaan pendidikan pada jenjang sebelum PT: SD, SMP,  SMA. Tetapi apapun sumber penyebabnya, PT di Indonesia tidak dapat tinggal diam. Inovasi adalah niscaya, kalau PT ingin fungsional dalam menjawab tantangan zaman. Inovasi PT untuk dua tujuan sekaligus, yakni mengantisipasi kemungkinan kesalahan  pengelolaan pendidikan di hulu dan menjawab perubahan sosial yang sulit diduga di hilir.
Bertolak dari kerangka berpikir di atas, melalui kerja sama dengan Islamic Development Bank (IDB), UM sedang memproses inovasi kurikulum. Inovasi yang ditawarkan di sini adalah perluasan pendekatan kompetensi menjadi pendekatan kapabelitas, serta  pendekatan kapabilitas disinergikan dengan pedekatan transdisipliner, menjadi kurikulum Kapabilitas-Transdisipliner.
Sebagai sistem, kurikulum terdiri atas komponen isi, strategi, dan evaluasi. Oleh karena itu, inovasi akan menyangkut semua komponen kurikulum. Kurikulum kapabilitas-transdisipliner berbicara tentang penataan isi kurikulum, yakni menggunakan dua pendekatan sekaligus: pendekatan kompetensi dan pendekatan mata pelajaran. Sedangkan dalam hal strategi perkuliahan, strategi yang dipandang relevan adalah strategi yang disebut Pembelajaran Berbasis Kehidupan (PBK). Dengan demikian, selain diharapkan akan dihasilkan lulusan yang memiliki basis kemampuan inti tertentu, juga memiliki kemampuan untuk bereksplorasi menjawab tantangan zaman.
Inovasi kurikulum UM dilakukan, paling tidak, di atas tiga landasan: landasan filosofis, landasan sosial, dan landasan psikologis. Pada landasan filosofis, inovasi dilakukan di atas pandangan bahwa manusia adalah makhluk individu yang unik, makhluk sosial yang mutlak saling bergantung, makhluk susila yang memiliki potensi membedakan baik buruk, serta makhluk religi yang memiliki potensi untuk menyadari adanya Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam hal landasan filosofis, perhatian ditekankan pada pengembangan hakikat manusia sebagai makhluk individu, mengingat aspek individualitas manusia kurang mendapat perhatian dalam penyelenggaraan pendidikan. Penganekaragaman pilihan  mata pelajaran  sebagai implikasi dari pandangan bahwa setiap manusia unik, pelaksanaannya belum memadai pada semua jenjang pendidikan, termasuk PT.
Pada landasan psikologis, inovasi  dilakukan  di atas pandangan bahwa pendidikan adalah proses perubahan tingkah laku (behaviorisme), sekaligus sebagai aktualisasi diri (humanisme). Dalam landasan tersebut, perhatian ditekankan pada pendidikan sebagai proses aktualisasi diri, karena pendidikan selama ini dikelola amat behavioristik. Dengan demikian, diharapkan akan terjadi sinergi proporsional antara dua aliran besar psikologi tersebut dalam pengelolaan pendidikan.
Pada landasan sosial, kesalingtergantungan manusia meliputi historis, antropologis, geografis, politis, ekonomis, dan sosiologis. Selain landasan filosofis, psikologis, dan sosial, inovasi kurikulum juga mengacu pada prinsip-prinsip dalam pengembangan kurikulum, yakni prinsip relevansi, kontinuitas, fleksibilitas, efektifitas, dan efisiensi. Secara khusus, prinsip fleksibilitas mendapatkan penekanan dalam inovasi kurikulum UM,  karena inovasi hanya mungkin terjadi dalam iklim yang fleksibel.       Sementara di pihak lain, puluhan tahun pendidikan negeri ini dikelola amat sentralistis, menghasilkan masyarakat yang sulit keluar dari zona nyaman. Tanpa fleksibilitas yang memadai,   implemetnasi prinsip-prinsip lain akan ikut tereduksi.
Terkait struktur kelembagaan, di tingkat universitas,  inovasi dilakukan dengan menata ulang arah pengembangan UM, agar memberikan ruang yang memadai bagi upaya inovasi kurikulum. Di tingkat fakultas, inovasi dilakukan dengan merumuskan ulang arah pengembangan fakultas, serta menata ulang matakuliah yang dipandang relevan untuk mendukung inovasi di tingkat prodi. Inovasi pada tingkat prodi dilakukan dengan merumuskan ulang arah pengembangan prodi, dengan mengacu pada arah pengembangan fakultas, serta menata ulang matakuliah yang dipandang relevan untuk mendukung inovasi lintas prodi.
Upaya inovasi baru dimulai. Mari kita dukung, karena inovasi adalah sebuah keniscayaan, jika kita tak ingin dilindas perubahan zaman. Salam inovasi, selamat membaca.
Penulis adalah dosen Teknologi Pendidikan FIP dan Ketua Penyunting Majalah Komunikasi

Bagikan informasi ini: