Kurikulum Baru Harapan Baru: Beri Ruang Mahasiswa Kembangkan Passion

Dukungan Islamic Deve–lopment Bank (IDB) bagi pengembangan empat perguruan tinggi sebagai pusat unggulan daya saing bangsa berlaku efektif sejak 19 Mei 2016. Melalui program ini, Universitas Negeri Malang (UM) bermaksud untuk mengembangkan UM sebagai pusat unggulan inovasi belajar. Program yang dicanangkan dibagi menjadi dua klaster besar, yakni hard program berupa pembangunan twin tower gedung kuliah bersama di timur Gedung Pendidikan Profesi Guru (PPG), serta soft program berupa peningkatan jumlah penelitian dan publikasi ilmiah melalui hibah penelitian, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang meliputi studi doktor di luar negeri serta pelatihan di tingkat internasional dan nasional untuk dosen dan tenaga kependidikan serta pengembangan Kurikulum Berbasis Kehidupan untuk program studi sarjana (prodi S-1).
Sebagai langkah awal bergulirnya proses pengembangan kurikulum berbasis kehidupan tersebut, Senin (22/05) diadakan Rapat Kerja Analisis Kebutuhan Pengembangan Kurikulum di Aula Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran (LP3). LP3 sebagai pelaksana kegiatan mengundang para Wakil Dekan I dan para pakar kurikulum dari masing-masing fakultas di lingkungan UM. Pada pertemuan tersebut, Tim Ahli Panitia Pengembangan Kurikulum membahas mengenai paradigma belajar berbasis kehidupan yang dipimpin oleh Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd. serta materi Learning Innovation Series – Curriculum Development oleh Prof. Dr. Waras, M.Pd. Rapat ini juga diagendakan pada Senin (29/05) dan Senin berikutnya (05/06).

Terkait Revitalisasi LPTK

Wakil Rektor IV UM, Drs. I Wayan Dasna, M.Si, M.Ed., Ph.D. menyampaikan bahwa disetujuinya program pengembangan kurikulum oleh IDB dikarenakan program ini terkait dengan revitalisasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). Ia juga menambahkan, para dosen yang diundang dalam kegiatan ini merupakan pakar dari masing-masing fakultas yang dapat memberi masukan bagi pengembangan kurikulum UM mendatang. “Harapan kami dari sekian diskusi yang telah dilakukan dapat menjadi pedoman pengembangan kurikulum,” ujar Dasna sebagaimana disadur dari um.ac.id. Output yang akan dihasilkan dari kegiatan ini adalah pedoman pengembangan kurikulum serta pengembangan kurikukum tingkat prodi. Setelah output pertama jadi, tim diharap melanjutkan dengan pengembangan kurikulum di tingkat prodi. “Bapak ibu akan menjadi narasumber di masing-masing prodi, jurusan, dan fakultas berdasar pedoman pengembangan kurikulum yang kita miliki,” katanya kepada peserta rapat kerja. Lanjut Dasna, dari diskusi yang dilakukan nantinya harus dapat menghasilkan pengembangan kurikulum di masing-masing fakultas pada tahun 2018. “Proses pengembangan ini nantinya juga akan meminta persetujuan dalam rapat pimpinan dan senat UM,” tambahnya.
Menurut Ketua LP3, Dr. Sulton, M.Pd., pada awalnya pengembangan kurikulum ini hanya meliputi enam belas prodi, kemudian berkembang 32 prodi, dan saat ini telah menjadi seluruh prodi yang nantinya kurikulumnya akan diperbarui. “Program ini akan melibatkan seluruh program studi yang ada di UM, baik yang kependidikan maupun non-kependidikan,” terang Sulton sebagaimana dilansir dari um.ac.id. Hal ini artinya semua program studi yang ada di UM nantinya akan mengalami pembaharuan kurikulum. “Pembaharuan kurikulum ini diprogramkan sampai tahun 2019,” terangnya. Sulton meminta dukungan penuh fakultas dan prodi akan terealisasinya program pengembangan kurikulum ini. “Saya berharap agar para pakar dari fakultas yang diundang bisa memberikan saran dan masukan untuk program pengembangan kurikulum ini,” harap dosen Teknologi Pendidikan FIP ini.

Empat Ciri Utama Kurikulum Baru

Sulton menjelaskan bahwa kurikulum hasil pengembangan akan memiliki empat ciri utama. “Pertama kurikulum kita selalu mendasarkan pada KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia, red.),” ujarnya. Kedua, lanjut Sulton, pengembangan kurikulum ini selalu mendasarkan pada Panduan Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi yang ditetapkan oleh Kemenristekdikti. Ciri ketiga ialah kurikulum UM memiliki pendekatan kompetensi, serta kurikulum yang dikembangkan mempunyai pendekatan kapabilitas. “Pendekatan kapabilitas ini nantinya akan menggunakan LBL (Life-Based Learning, red) dalam proses pembelajarannya,” lanjut Sulton. Dari sisi manajemen kurikulum, UM menggunakan pendekatan komprehensif-transdisipliner. Sehingga pada tahun 2019 UM diproyeksikan untuk mengalami transformasi yang sangat mendasar sebagai dampak dari program ini, yakni perubahan kurikulum yang mengubah paradigma expert-centered learning dan work-based learning menuju life-based learning.

Mengapa Kurikulum Baru?
Waras menjelaskan ada lima alasan mendasar yang melatarbelakangi pengembangan kurikulum program studi S-1 tersebut. “Pertama, akibat revolusi pengetahuan yang membuat dunia menjadi padat pengetahuan,” ujar Waras. Jutaan entitas pengetahuan baru dari setiap bidang keilmuan hadir di depan mata. “Industri pengetahuan berkembang secara eksponensial,” tambahnya. Kedua, dahsyatnya konvergensi ilmu pengetahuan dan teknologi. “Semakin kuatnya interaksi antardisiplin ilmu dan teknologi membuat pertumbuhan disiplin-disiplin baru,” sebut Ketua Indonesian Consortium for Learning Innovation Research (I-CLIR) tersebut.
Ketiga, pertumbuhan pengetahuan dan konvergensi ilmu pengetahuan memunculkan bentuk dan jenis pekerjaan baru, dan profesi berubah sedemikian cepatnya. “Perubahan yang terjadi sering tidak terduga dan (sifatnya) turbulens,” tambah Waras. Bahkan, World Economic Forum (2016) menyebutkan 35% core skills yang berlaku saat ini akan usang pada tahun 2025 mendatang.
Keempat, implikasi dari revolusi pengetahuan dan pertumbuhan jenis pekerjaan baru, serta lapangan kerja yang turbulens. “Mahasiswa perlu memiliki kecakapan abad XXI, yaitu kapabilitas pada bidang keahliannya, di antaranya berpikir kritis, kreatif, inovatif, dan pemecah masalah, cakap dalam berkomunikasi, bekerja sama, resourceful, digital literate, serta memiliki integritas dan karakter global citizen,” urai guru besar kelahiran Blitar tersebut. Dalam sepuluh tahun ke depan, lanjut Waras, diperkirakan akan terjadi 14,2 juta tenaga ahli akan migrasi antarnegara di kawasan Asia Pasifik.
Kelima, Waras menyebut bahwa anak-anak yang duduk di bangku sekolah dan perguruan tinggi sekarang ini adalah generasi langgas (tidak terikat pada sesuatu, pakem, atau orang tertentu). Dapat dikatakan demikian karena mereka akrab dengan teknologi informasi, kritis, kreatif, dan tidak gampang menerima peran tertentu. “Sekitar 30-40% dari anak-anak zaman sekarang menginginkan mengukir dirinya sebagai pencipta profesi, menjadikan hobi sebagai pekerjaan tetap, dan memulai bisnisnya dari dalam dirinya sendiri,” tutur Waras. Realitas-realitas seperti itulah yang mendorong redesain kurikulum pendidikan tinggi.

Membangun Lanskap Belajar Modern
Kurikulum merupakan bagian aktivitas UM sebagai pusat inovasi belajar. Inovasi belajar melibatkan sekurang-kurangnya empat isu, yaitu pengembangan kurikulum, kekayaan sumber belajar yang terorganisasi, dan big data sebagai tulang punggung pendidikan, strategi dan pendekatan belajar, dan infusi ilmu teknologi ke dalam aktivitas kurikuler. Mendasarkan pada realitas kekinian, Waras mengutarakan pendidikan tinggi tidak bisa lagi menggunakan pendekatan linier dan rutin, akan tetapi harus melakukan lompatan inovasi, terutama kurikulum dan aktivitas kurikulernya. “Tujuan pengembangan kurikulum salah satunya adalah untuk membangun lanskap belajar modern yang inspiratif dan menantang semua mahasiswa dalam menyiapkan diri mereka untuk masa depan,” kata dosen yang pernah berkiprah sebagai ketua penyunting Koran Komunikasi IKIP Malang tersebut.

Dinamis dan Modern
Disinggung mengenai perubahan lain yang menjadi dampak berkembangnya kurikulum ini, Waras menegaskan tidak ada perubahan bentuk. “Sifatnya saja yang berubah menjadi dinamis dan fleksibel, sesuai dengan asas belajar berbasis kehidupan,” jelasnya. Mahasiswa, tambahnya, diberi otonomi mendesain belajar sesuai dengan passion masing-masing, dan yang lebih penting adalah mampu melayani kebutuhan pengembangan diri mahasiswa tersebut. Waras juga memaparkan sebuah riset dilakukan oleh WISE (2014) yang menyebutkan bahwa 83% ahli menyarankan kurikulum masa depan adalah tailored dan personalised content. “Dengan demikian, layanan kurikuler tidak sepenuhnya bersifat one size fits all, akan tetapi ada ruang otonomi mahasiswa memilih sajian kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pengembangan diri mereka,” tutur dosen Teknik Mesin ini.
Transdisipliner Mewadahi Passion
Waras menjelaskan ada beberapa hal yang harus dipersiapkan untuk menuju kurikulum berbasis lingkungan. “Melalui inovasi belajar, UM sedang melakukan riset dan pengembangan dengan tajuk kurikulum transdisipliner,” ujar Waras. Kajian ini bertujuan menemukan dan mengembangkan model desain kurikulum transdisipliner yaitu infusi teknologi informasi ke dalam kurikulum, terutama pengembangan sistem manajemen kurikulum; dan studi karakteristik belajar mahasiswa untuk mengembangkan sistem layanan kurikuler. “Selain kajian-kajian tersebut, juga sedang didukung dengan penelitian dan pengembangan sumber belajar, dan riset strategi serta pendekatan belajar yang semua berjumlah dua puluh judul penelitian tersebar di berbagai bidang studi,” paparnya. Studi ini juga diperkuat oleh tiga perguruan tinggi anggota konsorsium riset inovasi belajar, yakni Universitas Jember, Universitas Mulawarwan, dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Senada dengan ciri-ciri kurikulum yang disebutkan Sulton, Waras juga menuturkan jika transdisipliner tidak akan bertabrakan dengan KKNI. “KKNI adalah levelisasi kualifikasi sesuai dengan jenjang pendidikan nasional, sedangkan transdisipliner adalah konvergensi horizontal antardisiplin ilmu. Keduanya adalah dimensi yang berbeda,” tutur guru besar yang dikukuhkan pada 27 Februari 2017 tersebut.
Pergerakan belajar lintas disiplin yang dilakukan oleh mahasiswa atas dasar passion dalam bidang tertentu inilah yang membuat belajar lebih bermakna, penuh dengan penghayatan, dan menumbuhkembangkan kreativitas dan inovasi mahasiswa. “Hasil pengembangan kurikulum ini rencananya akan diterapkan pada semua program studi dan tidak ada perbedaan antara prodi pendidikan dan non-kependidikan,” tegasnya. Pola kurikulernya tidak berbeda. Namun yang membedakan antarprodi adalah tingkat keluasan ruang interaksi antardisiplin. “Ada prodi yang memiliki ruang interaksi antardisiplin luas dan sebaliknya,” ungkap Waras.
Dengan adanya perubahan kurikulum ini, mahasiswa dapat mengembangkan keinginan untuk melengkapi kompetensi yang dimiliki, yang tidak hanya dipenuhi dari prodi di mana mahasiswa tersebut berasal, tetapi juga dari prodi atau fakultas lain. Untuk itu keterbukaan dari masing-masing prodi dalam memberikan kesempatan mahasiswa prodi lain untuk mengambil matakuliah di fakultasnya menjadi sangat penting.

Proses dan Tahapan Pengembangan
Tahapan pengembangan kurikulum meliputi studi literatur dan kajian empirik, dilanjutkan pengembangan model desain kurikulum, mendesain kurikulum, studi pilot, strukturisasi kurikulum baru, dan penelaahan akademis untuk pengambilan dan penetapan kebijakan implementasi, implementasi di 57 program studi kependidikan, dan evaluasi. Adapun tim multidisiplin ini adalah para ahli perwakilan dari semua fakultas berjumlah sekitar empat puluh orang, mahasiswa sebagai subjek utama, dan teknisi ilmu teknologi. Tim pengembang bekerja di bawah steerring committe para pimpinan dan pada akhirnya sebelum menjadi kebijakan universitas mendapat pertimbangan dari Senat Akademik Universitas. “Tim bekerja sejak akhir 2016. Akhir 2017, prototipe hasil studi pilot diharapkan sudah final report, dan 2018 memasuki tahap implementasi,” jelasnya.
Keunikan pada kurikulum ini terletak pada pemberian porsi lintas area belajar, yaitu antardisiplin atau lintas disiplin. Waras menjelaskan bahwa hal ini berfungsi untuk memunculkan perspektif yang lebih luas dan baru, serta pemahaman yang mendalam atas hubungan-hubungan dari suatu isu yang kompleks. “Aktivitas belajar yang seperti itulah yang akan memunculkan dan mengembangkan kapabilitas seseorang, inovasi, dan kreativitas mahasiswa,” tambah dosen yang menempuh seluruh pendidikan tingginya di UM ini.

Menghadapi Kendala
Ketika disinggung mengenai kendala yang dihadapi tim penyusun kurikulum, Waras mengutarakan bahwa pada awalnya, kehadiran inovasi dan apalagi agak bersifat lompatan di mana-mana selalu saja menimbulkan pesimisme di beberapa pihak. Namun, dengan seringnya dilakukan dialog terbuka di banyak kesempatan, belakangan makin banyak dan luas pemahaman publik. “Pada dasarnya, sebagian besar audience dalam banyak kali pertemuan optimis rencana ini akan membawa perubahan mendasar “skenario” pendidikan tinggi,” tutupnya.

Kata Mereka
Rencana perubahan kurikulum ini mendapat respons positif dari mahasiswa berbagai fakultas. Chrisfania Putri misalnya, mahasiswi prodi S-1 Pendidikan Tata Busana ini mengapresiasi rencana penerapan kurikulum transdisipliner selama ada korelasi dengan prodi yang diambil. “Misalnya seperti saya, anak Tata Busana mengambil kelas di prodi Manajemen, bagus kan, soalnya bisa buat bekal wirausaha nanti,” ujar mahasiswi tingkat akhir tersebut. Senada dengan yang disampaikan Chrisfania, David Kristanto merasa senang jika nanti kurikulum ini diterapkan. “Pasti banyak mahasiswa yang sebenarnya ingin mengembangkan ilmunya di luar prodi,” tambah mahasiswa prodi S-1 Pendidikan Geografi tersebut. Ia juga menambahkan bahwa semakin tambah semester, semakin tambah pula matakuliah yang bersifat pilihan.
Sementara itu, Nurul Izzah berpendapat bahwa pengembangan tersebut akan bagus jika dapat menambah peluang lulusan suatu prodi diterima di suatu bidang pekerjaan. “Universitas memang harus lebih banyak mendengarkan pendapat dari mahasiswa tentang kebutuhannya. Pastinya akan berdampak pada penyusunan jadwal matkul yang akan semakin rumit,” kata mahasiswi S-1 Administrasi Pendidikan ini. Tambahan pendapat juga berasal dari Muhammad Chairil. Ia mengutarakan bahwa dirinya ingin mendalami bidang Biologi karena di prodinya ada matakuliah yang membahas tentang tenaga listrik biomassa. “Nah mungkin dari situ, saya bisa mendapat ide tentang inovasi tenaga listrik lain,” ujar calon sarjana Teknik Mesin tersebut.Maulani/Arvendo

Bagikan informasi ini: