LITERASI TANGKAL HOAKS

Ada pepatah  mengatakan “Setiap orang hebat meninggalkan warisan dan warisan paling berharga mereka tertanam dalam buku yang mereka tulis’’.

Berungtunglah orang-orang yang senang membaca karena mereka akan mendapatkan warisan paling berharga dari orang-orang hebat. Pepatah tersebut juga memiliki makna tentang pentingnya kebiasaan membaca pada hidup seseorang. Bahkan Jacqueline Kennedy pernah mengatakan, “Ada banyak cara kecil untuk meluaskan dunia anak-anak. Cinta buku adalah yang terbaik dari segalanya”.
Sebagian besar masyarakat  bangsa Indonesia masih mengandalkan apa yang dilihat dan didengar dengan berpikir, sedangkan untuk bersikap dan bertindak masyarakat lebih memilih menonton televisi (TV) daripada mendengar radio atau membaca koran. Mayoritas masyarakat belum terbiasa melakukan sesuatu berdasarkan pemahaman dari membaca serta belum bisa mengaktualisasi diri melalui tulisan. Membaca dan menulis belum mengakar kuat pada masyarakat. Kondisi demikan tidak hanya bagi kalangan masyarakat umum semata, tetapi juga kaum terpelajar yang masih jauh dari budaya literasi.
Literasi adalah kemampuan menulis dan membaca, sedangkan budaya literasi dimaksudkan untuk melakukan kebiasaan berpikir yang diikuti oleh sebuah proses membaca dan menulis yang pada akhirnya proses kegiatan tersebut akan menciptakan karya dan pengetahuan. Dengan kata lain, melek pengetahuan serta bajik dalam mencari dan mengolah informasi. Maka orang yang menguasai literasi disebut kaum literat yang berarti orang yang mampu memahami dan menyadari secara cendekia dan bajik akan suatu informasi. Literasi sendiri mencakup semua golongan, mulai dari golongan masyarakat umum hingga kaum terpelajar. Literasi berguna dalam mencerdaskan kehidupan bermasyarakat dan tentunya memerangi berita atau suatu informasi yang tidak benar adanya (hoaks).
Salah satu penggiat budaya literasi yang juga penulis cerita pendek (cerpen) Aloer-Aloer Merah, Ardi Wina Saputra, S.Pd.,  mengatakan bahwa budaya literasi harus gencar digalakkan untuk semua golongan dan kalangan agar kehidupan ke depannya semakin baik. ‘’Intinya kita harus sering-sering membaca dan menulis. Kedua hal itu sangat besar membawa pengaruh terutama bagi diri kita sendiri. Dengan berliterasi, secara tidak langsung pikiran kita menjadi kritis, kreatif, dan tentunya inovatif dalam suatu hal,” ujar Ardi. Di waktu bersamaan, Ardi juga memberikan penjelasan tentang manfaat jika kita berliterasi, antara lain menjadi yakin terhadap kemampuan diri sendiri, kemampuan berinteraksi, berkembang dengan baik, berani untuk mengambil kegiatan yang bersifat positif dan membangun, serta bertanggung jawab terhadap kewajiban atau tugasnya.
Di kesempatan lain, guru besar Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (UM) yang juga kaum literat, Prof. Dr Djoko Saryono, M.Pd., juga menyatakan pendapatnya. “Di UM sendiri ada itikad baik untuk berliterasi. Salah satunya dengan adanya Kafe Pustaka. Di Kafe Pustaka ini kita bisa membangun literasi dan tradisi baca tulis. Adanya pertemuan, perbincangan yang membangun, kebersamaan, kekeluargaan, dan toleransi serta saling memahami. Sebab fondasi kemajuan bangsa-bangsa di dunia yang menghasilkan pikiran kritis dan kreatif sehinggga menghasilkan temuan terjadi di tempat-tempat seperti ini,” imbuhnya.
Beliau juga mengharapkan agar ke depannya budaya literasi terus berkembang dan semakin kokoh dan mantab karena tantangan ke depan juga semakin banyak. Selain itu, harus diimbangi pula dengan kualitas bukan kuantitas semata dengan dibuktikan oleh karya-karya yang baik. Adi

Bagikan informasi ini: