Mahasiswa IKM UM Borong Gelar Juara

idak tanggung-tanggung, mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) kembali menyabet tiga juara sekaligus dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Public Health Competition 2017. LKTI tersebut diadakan oleh Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (ISMKMI) yang digelar di Universitas Veteran Bangun Nusantara, Sukoharjo, Surakarta, Jawa Tengah.
Tim UM berhasil memborong tiga juara pada Jumat (05/05). Mereka ialah Gita Farah Meidiana dan Zainur Ridho Wahyu Ismail yang mengangkat tentang aplikasi kesehatan android dan berhasil menyabet juara pertama, kemudian juara kedua mengangkat tentang biskuit sehat low cost bergizi tinggi dari kelor yang digagas oleh Afifah, M. Dwi Hidayatullah, dan Ranisa Wijayanti, serta juara tiga diraih Arinda Eka Putri Suharsanto dan Nur Fuadati Shofriah yang mengangkat alat pendeteksi demam berdarah secara mandiri.
Ide tersebut berawal dari kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Seperti juara pertama ini membuat reminder kesehatan yang terintegrasi dengan BPJS. “Ditujukan untuk mengajak pemakainya mengingat kesehatannya sendiri,” ujar Gita seperti yang dilansir Malang Post. Gita menambahkan, “Aplikasi ini akan mengingatkan upaya hidup sehat berdasarkan data riwayat penyakit yang sudah dilaporkan BPJS.” Aplikasi berbasis android tersebut bekerja sebagai pengingat pola hidup sehat dengan berbasis data yang disinkronkan dengan data riwayat kesehatan BPJS. Selain itu, ada alarm yang mengingatkan pengguna mengenai olahraga rutin, makan buah, dan sayur serta cek kesehatan secara rutin. Sementara itu, tim runner up membuat biskuit dari daun kelor untuk meningkatkan gizi balita. “Karena yang paling rentan terkena gizi buruk adalah balita. Awalnya daun kelor ini hanya dianggap daun magic, yang mana hanya digunakan untuk mengobati orang yang mau sakaratul maut. Padahal kandungan gizi daun kelor lebih tinggi ketimbang susu,” papar pria yang akrab disapa Dayat ini. Terakhir, juara ketiga mengagas tentang pen yang dapat mendekteksi penyakit demam berdarah secara mandiri.
Dari sembilan tim UM yang lolos abstrak, lima tim UM berhasil masuk di babak final full paper. Lima tim UM tersebut harus mengalahkan tim dari Universitas Airlangga, Universitas Diponegoro, Universitas Udayana, dan Universitas Jember.
Sebelum mereka mempresentasikan gagasan mereka, mereka berlatih presentasi dengan dijuri oleh salah satu dosen Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) dan  Komunitas Markas Prestasi. Sejak awal pula mereka sering melakukan sharing antartim. “Suasananya dibuat lebih ketat daripada presentasi sesungguhnya. Tingkat kritisasinya lebih tinggi,” ujar laki-laki asal Palembang tersebut.
Dosen Jurusan IKM juga memberikan penghargaan. “Misal kamu lolos nasional 10 tim itu kamu udah nilai A. Ada juga dosen yang bilang kamu lolos 10 besar saja minimal A-, sampai kamu juara dapat nilai A,” ungkap mahasiswa angkatan 2013 tersebut. Hal itu menjadi suntikan semangat mereka untuk memenangkan lomba itu.Shintiya

Bagikan informasi ini: