Menjaga Kearifan di Era Gegar Budaya

oleh  Moch. Nur Fahrul

risis kearifan tampaknya sudah menjadi rahasia umum di Indonesia. Anehnya, hal ini bukan dianggap sebagai masalah serius yang harus segera dicarikan solusi. Kearifan memiliki makna yang lebih dalam dibandingkan dengan kebijaksanaan. Menurut saya, kearifan berarti mengenali, menjaga, dan membela. Kearifan ini menjadi salah satu upaya mawas diri yang penting dimiliki oleh setiap warga Indonesia dalam menghadapi zaman teknologi informasi yang serba instan dan fleksibel.
Pengalaman mengalami gegar budaya di Indonesia terjadi ketika saya mengunjungi Candi Penataran, Blitar. Candi Hindu-Buddha berusia ratusan tahun ini merupakan candi terbesar di Jawa Timur. Salah satu sudut candi ini ialah kolam petirtaan yang masih jernih dan menjadi habitat ikan-ikan koi asli. Entah bagaimana awalnya, para wisatawan kecenderungan melempar koin ke kolam itu agar keinginan mereka terwujud. Padahal ritual tersebut tidak pernah tercantum pada relief candi mana pun atau tertera pada prasasti mana pun. Tanda larangan melempar koin sudah dipasang, namun banyak wisatawan domestik yang tidak peduli dan tetap melempar koin. Keasrian situs sejarah terancam rusak karena perilaku tak bertanggungjawab semacam itu.
Setelah saya telusuri, ritual semacam ini biasanya dilakukan oleh wisatawan yang berkunjung ke kolam air mancur Roma, Italia. Ritual tersebut memang populer di beberapa film maupun novel. Barangkali orang-orang Indonesia ingin menirunya agar terlihat gaya dan sadar tren. Gegar budaya yang sama bisa dilihat pada taman-taman yang memasang teralis untuk gembok cinta. Budaya semacam ini memang populer di Korea, diadopsi begitu saja di sebuah taman Kota Malang. Adopsi budaya hanya berdasarkan tren memang tidak salah tapi jika tidak bijaksana malah hanya akan menimbulkan masalah.
Adopsi budaya tanpa disaring dengan arif bisa mengancam jati diri bangsa, dalam hal sederhana bisa membingungkan identitas diri. Segala yang berbau tren dianggap kewajiban. Posisi tren menempati nomor urut pertama dibandingkan kebutuhan primer itu sendiri. Penggila media sosial atau game online seperti PokemonGo rela menahan lapar hanya untuk mengisi paket data agar bisa terus berburu koleksi. Sebagian orang rela memangkas dana sehari-hari hanya untuk memuaskan nafsu tren kekinian. Seolah-olah tidak mengikuti tren berarti kiamat.
Hasilnya generasi muda bangsa menjadi latah teknologi dan informasi. Waktu mereka habis untuk mengutak-atik gadget daripada mengembangkan potensi diri. Anak muda sekarang lebih panik jika tidak membawa ponsel dibandingkan tidak membawa uang. Lebih cemas kehilangan ponsel dibandingkan kehilangan buku pelajaran. Manusia dewasa juga tidak beda jauh. Orangtua dan guru kerap bingung mengambil sikap karena menempati keadaan yang hampir sama.
Fenomena ini barangkali sudah dianggap kewajaran di mana-mana, padahal hasilnya tidak selalu baik. Jangan heran jika kebanyakan manusia seperti mereka cenderung apatis, individualis, serba terburu-buru, gegabah, dan arogan. Segalanya yang instan dan praktis selalu jadi pilihan. Ritual dan interaksi sosial menjadi hal yang tak beresensi, kebudayaan hanya dianggap sebagai perayaan tahunan dan hiasan saja. Jika kita sebagai individu tidak mengambil sikap arif, maka media massa yang akan menggiring pola pikir dan harapan warga negara.
Pendidikan karakter yang sempat dicanangkan barangkali menjadi salah satu solusi untuk mencegah fenomena tersebut berakhir tragis. Memuliakan manusia lewat pendidikan memang  perlu, namun apakah semua bisa diukur dengan skala, deskripsi dan angka-angka yang pasti? Perlu kajian lebih mendalam untuk melihat apakah tingkat rasa nasionalisme siswa hanya diukur dari pelajaran sosial saja? Padahal Indonesia ini sangat kaya alam dan budayanya, sungguh ironis jika tidak ada kearifan dalam mengajarkannya pada siswa. Sekolah jadi salah satu saluran utama dalam membentuk pribadi yang mampu menjaga kearifan selain lingkungan keluarga.
Sekolah dan keluarga dapat menjadi lahan dalam mengolah kembali kearifan setiap individu, bukan hanya yang muda tetapi yang tua juga. Kebiasaan berdiskusi dengan kepala dingin masih kurang menjadi ritual rutin dalam keluarga atau sekolah. Orang yang tua selalu ingin banyak bicara, sedangkan yang muda selalu malas mendengarkan. Kearifan tidak bisa dibentuk dengan cara seperti itu. Kearifan membutuhkan sosok teladan yang cocok, yaitu orangtua atau guru, namun justru kedua sosok teladan itu tidak bisa berusaha dicontoh sehingga membuat generasi muda lari dan mencari contoh lain.
Salah satunya mengadopsi budaya lain. Boleh saja mengagumi budaya luar tetapi mengenali budaya sendiri sebaiknya juga menjadi prioritas utama. Memahami budaya sendiri sebenarnya mengajarkan kearifan lebih banyak dari yang kita sadari. Barangkali tak banyak yang tahu bahwa Muhammad Yunus, pemenang Nobel Perdamaian 2006 lewat program bank desa yang digalakkannya bagi kaum miskin di Bangladesh justru terinspirasi dari sistem kredit bank tertua di Indonesia. Ada juga Lakhsmi Mittal, salah satu orang terkaya di dunia, justru memulai bisnis bajanya di Sidoarjo karena melihat pasar baja Indonesia yang lebih menjanjikan dibandingkan India. Dalam bidang pertambangan, Petronas Malaysia meraih banyak keuntungan setelah mengadopsi production sharing contract (PSC) dari Pertamina. Adopsi sistem itu menempatkan Petronas Malaysia sebagai salah satu perusahaan paling profit di dunia. Anehnya sistem asli Indonesia itu justru tidak bisa dimanfaatkan dengan baik oleh perusahaan Indonesia. Mengapa hal ini bisa terjadi? Kearifan menjadi bintang di balik layar kesuksesan tokoh-tokoh asing yang justru belajar banyak dari Indonesia. Kearifan menjadikan mereka pribadi yang tahan banting, peka terhadap peluang, reflektif, sehingga bijaksana dalam mengambil keputusan, sekaligus selalu siap berjuang untuk negara sendiri. Poin terakhir inilah yang membedakan pribadi unggul dalam setiap negara.
Jika saat ini banyak generasi muda yang berlomba-lomba belajar ke luar negeri, tampaknya harus kembali memperdalam wawasan tentang bangsanya sendiri. Masih banyak kearifan asli Indonesia yang justru dipelajari dengan baik oleh bangsa asing. Begitu juga generasi muda yang masih terpaku di Indonesia, jangan jadi katak dalam tempurung yang kehujanan informasi, tapi tidak termotivasi untuk membangun negeri. Kenali, pahami, dan gunakan kearifan negeri ini untuk kembali mengevaluasi diri agar bisa memperbaiki dan mengembangkan lebih banyak sektor dalam negeri.
Menjaga kearifan menjadi titik tolak sekaligus titik temu bangsa ini untuk kembali mengenali budaya sendiri dan bersatu untuk berkontribusi pada negeri. Arus globalisasi yang deras dan keras barangkali bisa jadi benih-benih penjajahan model baru yang kasat mata tetapi ada dan terlihat wajar. Segalanya memang membutuhkan materi tetapi kearifanlah yang mendekatkan kita dengan kebahagiaan. Jangan sampai kita lupa pada tujuan kita membela negera seperti pasukan Trunojoyo ketika melawan Belanda. Pasukan Trunojoyo memang selalu memenangkan pertempuran dengan Belanda. Ketika sudah mengepung benteng Belanda dekat Surakarta, Belanda justru menggunakan taktik lain dengan menganti meriam dan mesiu dengan emas dan koin uang. Pasukan Trunojoyo yang tergoda akhirnya terpecah karena ingin mengumpulkan pundi-pundi emas yang berceceran. Melihat pasukan Trunojoyo sudah kocar-kacir mencari emas dan koin, Belanda akhirnya menyerang dengan meriam sungguhan untuk mengalahkan pasukan Tronojoyo. Kearifan meneguhkan identitas kebangsaan kita sebagai bangsa yang gigih dan mawas diri. Identitas menjadi sarana yang paling tepat untuk menentukan langkah dan arah setiap individu. Tanpa identitas, hidup manusia hanya berkubang dalam lautan ritual semu dan ambigu. Krisis kebudayaan di Indonesia masih memiliki harapan untuk diselamatkan. Namun harapan itu seperti nyala lentera kecil yang rapuh, jangan dibiarkan terlalu lama. Kobarkan selagi bisa.
Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Jurusan Pendidikan Sejarah dan Harapan I Opini Kompetisi Penulisan Rubrik Majalah Komunikasi 2016

Bagikan informasi ini: