IMAN DALAM PENGEMBARAAN, BERTAHAN ATAU GOYAH?

oleh Siti Faizatun Nisa’

Judul buku     : Bumi Cinta
Pengarang     : Habiburrahman El-Shirazy
Penerbit         : Santri Group
Tahun terbit     : 2013
Tebal buku     : 540 halaman

Habiburrahman El-Shirazy atau biasa dikenal dengan Kang Abik merupakan salah satu penulis novel kenamaan Indonesia. Karya-karya Kang Abik hampir seluruhnya masuk ke dalam deretan novel best seller. Ulasan tentang cinta yang dikemas dengan nuansa religi kental berhasil menempati ruang tersendiri di hati para penikmat novel Indonesia. Menilik beberapa karya sebelumnya (Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih), novel Bumi Cinta ini terasa berbeda. Perbedaan yang cukup mencolok terletak pada alur cerita dan pemilihan latar. Bumi Cinta diterbitkan sebelum Ayat-ayat Cinta 2 yang juga mengambil latar di Eropa, sehingga di antara “kawan semasanya”, Bumi Cinta dapat dikatakan sebagai karya yang memiliki konsep baru.
Bumi Cinta berlatar tempat di ibukota Rusia, Moskwa, tempat yang cukup “menantang” bagi para perantau muslim. Bagaimana tidak, jika flashback kepada sejarah panjang Rusia, negara ini pernah dikuasai oleh suatu rezim pencetus komunisme dunia, Lenin. Jalan cerita yang tersaji dalam Bumi Cinta terbilang baru dengan pengisahan tentang perjalanan panjang sang tokoh utama yang cukup menggoyahkan iman. Karya-karya Kang Abik sebelum Bumi Cinta justru menampilkan proses peneguhan iman melalui fasilitas-fasilitas keagamaan yang cukup memadahi sebab kebanyakan berlatar di Negara Timur Tengah.
Novel ini berkisah tentang seorang pemuda bernama Ayas yang tengah melakukan penelitian di Moskwa untuk memenuhi tesis magisternya. Kota tersebut ternyata mengantarkan Ayas kepada pengalaman-pengalaman baru yang sangat berbeda dengan yang ia dapat selama menempuh S-1 di Timur Tengah. Salah satu pengalaman mengejutkan yang mengawali novel ini adalah hadirnya dua sosok perempuan bernama Linor dan Yelena. Dikisahkan bahwa dua orang wanita jelita tersebut ternyata merupakan teman seatap Ayas dalam sebuah apartemen. Yelena yang seorang pelacur terkenal adalah seorang Atheis alias tidak mengakui keberadaan Tuhan. Keterkejutan Ayas belum berhenti sampai di situ, Linor ternyata justru seorang agen zionis yang memiliki misi besar untuk menyebarkan dan memertahankan agamanya, Yahudi. Tidak hanya Linor dan Yelena, muncul pula tokoh bernama Anastasia Palazzo, gadis cerdas yang cantik dan baik serta seorang pemeluk Kristen yang taat. Anastasia terang-terangan mengaku menaruh hati pada Ayas.
Novel ini cukup tebal namun akan selalu menimbulkan rasa penasaran karena jalinan ceritanya yang kuat dan rapi. Karakter “malaikat” khas Kang Abik masih sangat mendominasi tokoh utama, meski berlatar di Eropa suasana religius mungkin masih tetap akan melekat di benak para pembaca. Akankah Ayas mampu bertahan di lingkungan yang sangat asing? Mampukah Ayas berdamai dengan keadaan yang dipenuhi dengan orang-orang yang tidak sepaham dengannya? Pembaca mungkin akan mengerutkan dahi ketika menjumpai ujung cerita. Akhir perjalanan para tokoh tidak dijelaskan secara gamblang di dalam novel.
Akhir kata, menurut peresensi novel Bumi Cinta patut dibaca oleh para remaja dan pemuda. Khususnya mereka yang ingin mencari jati diri secara spiritual, sesuatu yang banyak dilakukan oleh kalangan remaja yang memasuki dunia perkuliahan. Juga mereka yang ingin menaklukan dunia baru demi meraih cita-cita dan mewujudkan idealisme.
Penulis adalah mahasiswa  S-1
Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial,
Universitas Negeri Malang

Bagikan informasi ini: