Omkara

Oleh : Iven Ferina Kalimata

Beraninya Chang menantang Awatara Wishnu, Sri Krisna. Sudah pasti Kepala Desa itu bukan seorang brahmana. Sedangkan Krisna saja lebih mementingkan sapi daripada mahluk lainnya termasuk brahmana.  Begitulah kata bapak yang tak pernah menjamah bangku sekolah selain pelatihan desa yang bertopeng bantuan. Sayangnya aku berlaga juga di sana.
“Sapinya dijual pada orang untuk keperluan kurban,” bapak selalu menyingung singkek penguasa desa. Mengeksploitasi pemberian khas desa untuk usaha tak terpuji melawan anutanya.
Saat itu cakrawala masih benderang mengusik pandangan dalam kesiluan. Setelah bapak menyelesaikan salat ashar, ia langsung bersiap dengan setelan khas seragam kerja kebanggaanya, kaos berlengan panjang bertuliskan merek produk pupuk terkenal, celana panjang yang bagian bawahnya dimasukkan dalam sepatu boot abu-abu. Penutup kepala dari anyaman kayu berbentuk kerucut tak luput dikenakan. Kendaraan dinas miliknya pun bertengger di pekarangan rumah sedari bertahun-tahun lalu. Maling saja enggan meliriknya apalagi seorang pembeli rongsokan pasti ogah memperdebatkan harga jika berminat membeli.
“Waluyo, ojo lali melok pelatihan!”
Pandanganku beralih pada sosok renta pemilik sawah yang digarap Bapak. Pak Mu’am mengingatkan untuk mengikuti pelatihan di kelurahan. Sudah menjadi kebiasaan setiap hari Sabtu dan Minggu kegiatan pengikisan buta huruf tersebut dilaksanakan. Bapak mengangguk sembari tersenyum maklum pada laki-laki tua itu lalu melihat ke arah emak, mengambil rantang berisi penyetan tahu kesukaanya. Entah itu kesukaanya atau alibi bapak menyenangkan emak. Tangannya cekatan meletakkan rantang di andhang yakni boncengan yang terdapat di sepeda dengan melilitkan karet berwarna hitam bekas ban dalam.
“Assalamualaikum,”
“Walaikumsalam,”
Aku dan emak menjawab salam bapak bersamaan. Emak kembali ke dalam rumah setelah mengelus rambutku. Aku masih sibuk menyiapkan bahan untuk pelatihan nanti di kantor desa. Jujur sebenarnya aku sama sekali tidak menyangka dengan janji bapak. Lamunanku mengusik secara tiba-tiba dan mendobrak kenangan lama atas tindakan bapak. Keresahanku mengembang lalu menyembul pemikiran laknat untuk menghujat tetangga sekitar rumah. Mengingat mulut mereka yang disalahgunakan untuk mencibir, menghardik, bahkan merendahkan ambisi bapak. Sekarang setimpal sudah, gundah yang kucengkeram kini terlepas bagai hembusan nafas.
Pernah suatu kali aku ngedumel di hadapan bapak. Aku meminta sekolah hingga tinggi meskipun otakku tak mencukupi. Aku menghasut bapak dengan mengatasnamakan cita-cita diiringi janji-janji manis untuk menguatkan bukti. Alhasil bapak menyanggupi meski alasan yang kuberikan tak terlalu logis. Rasa bersalah kian bertumpuk ketika tujuanku telah tercapai dengan mengorbankan peluh bapak. Sampai jenjang perguruan tinggi aku tak terpisah dari perempuan yang aku dambakan hingga aku lulus dan mendapat pekerjaan tetap.
“Bapakmu lebih sayang padamu daripada emak,” Aku terhenyak ketika suara emak terlintas begitu saja.
Memang benar bapak terlalu memanjakanku, membuatku selalu menuruti semua perkataanya tanpa berani membantah. Mengingat dulu bapak selalu mengantar menggunakan sepeda onthel untuk pergi sekolah lalu menjemput ketika pulang. Meninggalkan pekerjaanya yang berbuah pelototan Pak Mu’am. Didera terik sang surya sama sekali bukan halangan baginya. Teringat kala musim penghujan datang, mungkin karena kami hidup serba kekurangan. Bapak mengambil kresek besar bekas baju kotor, lalu dicucinya. Setelah bersih ia memotong setiap bagian dan digabungkan. Mantel bercorak merah putih pemberian bapak sampai sekarang masih kusimpan. Semestinya bapak tidak melakukan itu, emak sampai emosi karena harus dimarahi tetangga. Baju yang mereka cucikan pada emak harus kembali tanpa wadah. Itulah sebabnya bapak rela hujan-hujanan tanpa mantel hujan demi kelanjutan bisnis emak.
Aku sudah seperti anak konglomerat diantar jemput dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama. Dahinya yang berkerut dimakan usia tak pernah menegang karena marah atas kenakalanku. Nyaris aku menjadi anak yang kurang ajar kalau saja tak belajar dengan giat. Otakku memang pas-pasan tapi aku berusaha semampuku untuk terus belajar. Ketika menginjak Sekolah Menengah Atas aku meminta gantian membonceng, tapi bapak menolak dan beralasan masih kuat. Suatu kali aku pernah menyelinap pagi-pagi keluar rumah dengan seragam yang sudah lengkap setelah subuhan. Nyatanya bapak sudah siap di depan rumah tersenyum ke arahku.
“Bapak antarkan Akram, nanti kalo bapak sudah tak kuat bisa kau pakai sepeda bapak,”
Aku mengusap air yang turun di pipiku karena mengenang masa dahulu. Emak datang membawakan teh lalu memandang ke arahku penuh iba. Emak sangat tahu apa yang aku pikirkan sekarang.
“Akram, kau ingat saat bapakmu mengantar ke masjid agung yang ada di kota?”
Aku mengangguk mengiyakan, saat itu umurku masih sepuluh tahun. Pikiranku melayang pada 15 tahun silam. Kala itu bulan suci Ramadan, teman sebangkuku mengatakan ada makanan gratis di masjid agung Kota Blitar. Di sana terdapat takjil enak yang bahkan keluargaku tak sanggup membelinya. Aku merengek pada bapak agar mengantarku padahal jarak yang harus ditempuh adalah 30 kilometer dan bapak lagi-lagi menuruti kemauanku. Selepas asar bapak sudah bersiap dan mengantarku ke sana dengan menggunakan sepeda onthel-nya.
“Mak, untuk kali ini bapak pasti menuruti kemauanku lagi, kan?” selorohku pada emak. Bukanya menjawab, wanita yang melahirkanku itu hanya tersenyum sembari mengusap punggung tanganku.
Rautnya yang tak lagi muda melembut ke arahku dan menatap mataku dalam. Jika boleh aku mengartikan  memberikan tanda merah tapi tak diungkapkan. Lalu ia menggeleng pertanda tidak tahu menahu akan jawaban bapak. Aku menepis anggapan emak, mengesampingkan pemikiranya untuk tak ingin lagi peduli. Setahuku bapak sangat menyayangiku dan menginginkan aku bahagia. Aku yakin bapak menyetujui keinginanku lagi.

***

Tadi pagi tanpa sepengetahuan Akram, Umi mendatangi Waluyo, tidak biasanya ia mengendap-endap lalu bicara sambil berbisik. Umi menangis tersedu dalam diam hingga Waluyo tak tahu apa yang mau dikatakan istrinya. Umi tiba-tiba bercerita mengenai arti nama anak mereka, Akram Ziyad, yang penuh makna. Umi menjelaskan nama itu diambil dari ayat suci Alquran artinya laki-laki paling mulia yang diberi keistimewaan oleh Allah.
“Pak, mereka berbeda,” Setelahnya ia terdiam pada kata berbeda lalu pergi meninggalkan Waluyo untuk menyiapkan sarapan.
Burung-burung berarak menuju peraduanya, siluet kuning keemasan di langit berubah menggelap. Waluyo terus memikirkan perkataan istrinya. Setelah ia menyelesaikan urusan di sawah, laki-laki berambut ikal itu langsung bergegas mengayuh sepeda berlawanan arah dari rumahnya. Setibanya di balai desa, Waluyo berhenti mengayuh dan melihat plakat pada gerbang balai desa. Pelatihan warga Desa Pakisrejo, begitulah ia dapat membaca. Berkat Divya dan Akram anaknya yang kembali dari rantau untuk kuliah.
Di era modern seperti sekarang masih ada saja orang-orang buta huruf yang rentan akan penipuan. Divya yang notabene anak kepala desa memiliki peluang untuk melakukan pelatihan di kantor papanya tanpa ribet mengurus perizinan. Apalagi sebentar lagi akan ada pemilihan kepala desa baru, maka kegiatan Divya adalah prospek bagus bagi Kades Chang. Mengingat singkek itu akan mencalonkan lagi membuat desa yang katanya akan semakin sejahtera jika dia terpilih.
Waluyo tidak langsung bergabung dengan yang lainya. Ia membersihkan diri lalu mengganti pakaian bersih dan sarung yang selalu ia siapkan. Selanjutnya mengambil air wudu untuk salat dahulu. Akram menyalimi Waluyo, mereka bertemu saat Akram baru menyelesaikan kewajibanya. Selanjutnya Akram membagikan buku gratis pada warga yang mengikuti pelatihan sembari menunggu bapaknya dan Divya beribadah. Gadis bermata sipit itu menghadap penciptanya sebanyak tiga kali, saat pagi, siang, dan sore.
Kali ini Waluyo tidak terfokus pada pelatihan yang diberikan anaknya. Gelagat Akram pada Divya membuat Waluyo merasakan reruntuhan tebing yang terhantam tsunami dengan keras. Ingatanya kembali memutar pada perkataan istrinya pagi tadi. Sesak tiba-tiba datang menghambat nafasnya untuk bernafas normal. Wajahnya berubah merah padam menahan amarah yang sudah lama tak keluar darinya. Ia ingin meledak saat itu juga tapi Waluyo paham betul mengenai etika. Diam-diam ia mengundurkan diri dari kerumunan orang dan berjalan cepat ke arah sepeda miliknya lalu pergi dari sana tanpa sepengetahuan Akram.
Waluyo ingin menanyakan perihal dugaanya pada Umi. Dia bukanlah tipe orang pengekang dan otoriter. Ia hanyalah lelaki tua yang ingin menghabiskan sisa hidupnya di desa. Kaki rentanya mengayuh pedal sepeda dengan brutal sesekali terpeleset karena tak tepat menekan pedal. Hatinya uring-uringan memikirkan kebenaran perkiraanya. Bahkan Ia mengesampingkan penglihatan mata tuanya yang tidak berfungsi secara baik ketika petang tiba. Apalagi sepeda onthel-nya juga tak bersahabat mengingat sudah cukup baik jika dibuang saja.
Umi mendengar suara keras barang yang digeletakkan asal. Pendengaranya menangkap langkah kaki tergesa menuju pintu dengan cepat ia membukanya. Matanya melihat Waluyo terengah dengan bulir keringat membasahi kening. Nafasnya yang tidak beraturan membuat tanda tanya besar bagi Umi. Waluyo melangkah masuk ke rumah lalu mendudukkan dirinya di kursi ruang tamu dan melihatnya tajam. Umi hanya bisa menelan ludah karena tenggorokannya terasa mengering.
“Kalung omkara, aku melihat dia memakainya. Apa Akram buta?”
Umi berjingkat kaget, Ia baru menyadari arah pembicaraan Waluyo. Omkara yang dibicarakan suaminya adalah simbol suci agama Hindu. Umi sangat mengerti ketidaksukaan Waluyo pada Kades Chang. Karena tingkahnya yang arogan dan menjual sapi untuk orang-orang Islam dan di kurban.
“Akram memang buta pak, tak tahukah bapak selama ini aku menyukai Divya lebih dari segalanya,” tiba-tiba Akram berada di tengah ketegangan orangtuanya.
“Beraninya kau menantang Allah, Nak, kau ingin seperti singkek yang melawan Hyang Widhinya?”
Penulis adalah alumni mahasiswa Probis Jurusan  Public Relations dan Komunikasi Bisnis, Universitas Negeri Malang

Bagikan informasi ini: