Shovi Maryam, Sang Penjelajah Rimba Talenta

Roda perjalanan melaju padu
Berputar tata jiwa yang baru
Menapak usaha tak sebatas asa
Bekerja keras terselingi bulir doa

Talenta bagai lembar-lembar terbuka
Terisi sajak pengalaman tak terkira
Terpampang jadi prestasi nan mulia
Sembahkan buah cinta ‘tuk Indonesia

Nama Lengkap : Shovi Maryam
| Tempat, Tanggal Lahir : Malang, 18 Januari 1997
| Alamat : Jalan Diponegoro No. 56 Gadungan, Karanganyar, Poncokusumo, Malang

| Riwayat Pendidikan :
MI Nurul Ulum (2002-2008)
MTsN Malang III (2008-2011)
MAN 3 Malang (2011-2014)
S-1 Pendidikan Bahasa Arab, Universitas Negeri Malang (2014-sekarang)

| Pengalaman Organisasi :
Konsultan Kreasi Seni OSIMA Al Qalam MAN 3 Malang (2015-2016)
Anggota TIK Jurnalistik HMJ Sastra Arab UM (2015-2016)
Konsultan Kesehatan dan Olahraga OSIMA Al Qalam MAN 3 Malang (2015-sekarang)
Co. Pemberdayaan Alumni HMJ Sastra Arab UM (2016)
Pengajar Mahad Al Qalam MAN 3 Malang (2014-sekarang)

Prestasi :
Juara 1 Lomba Pidato Bahasa Arab Nasional, Universitas Negeri Jakarta 2014
Juara 1 Musabaqah Syarhil Quran, Universitas Negeri Malang 2014
MC Bahasa Arab IMLA Indonesia, Kedutaan Arab dan Indonesia 2014
10 besar Pesantren Syiar al-AKSI INDOSIAR 2014
Juara 1 Tausiyah RRI Nasional, LPP RRI 2015
Juara 1 Musabaqah Debat Alquran Alquran Bahasa Arab, Universitas Negeri Malang 2015
Harapan 1 Musabaqah Syarhil Quran, se- Jawa, UIN Sunan Ampel 2015
Juara 1 Tausiyah PTQ RRI se-Jawa Timur, LPP RRI Surabaya 2015
Juara 1 Musabaqah Syarhil Quran, Pemerintah Kota Malang, Kota Malang 2015
Juara 2 Pidato Bahasa Arab Nasional, UIN Maulana Malik Ibrahim 2015
Juara 1 Lomba Pidato Bahasa Arab Mahasiswa Nasional, UIN Sunan Gunung Djati Bandung 2016
Pemakalah Seminar Nasional Pembelajaran Bahasa Arab dan Sastra, Universitas Negeri Malang 2016
Juara 3 Lomba Karya Tulis Ilmiah Alquran Nasional, Universitas Negeri Malang 2016
Juara 3 Lomba Debat Bahasa Arab Nasional, UIN Maulana Malik Ibrahim 2016
Juara 3 Lomba Debat Bahasa Arab Nasional, UIN Sunan Gunung Djati 2017
Juara 3 Lomba Karya Tulis Ilmiah Alquran Nasional , Universitas Sebelas Maret Surakarta 2017
Pemakalah International Seminar on Islamic and Arabic Education in Southeast Asia, Universitas Muhammadiyah Malang 2017
Dewan Hakim Tausiyah Pekan Tilawatil Quran, RRI Malang 2016
Ketua Pelaksana MTQ Siswa Nasional, Universitas Negeri Malang 2016
Semifinalis Lomba Esai Nasional, Universitas Negeri Diponegoro 2015

Shovi Maryam mengatakan selalu ada hikmah di balik kegagalan. Mahasiwa Jurusan Sastra Arab ini mencoba terus menggeluti berbagai bidang. Sampai banyak yang mengatakan bahwa dirinya tidak fokus. Namun, baginya mencoba hal-hal baru adalah kesenangan tersendiri.
Dua kali kegagalan ikut Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) tak membuatnya jera untuk mencoba dan mencoba lagi. Sejak semester dua ia telah mencoba mengikuti ajang Mawapres. Hingga di semester enam ia berhasil menempati urutan kedua dalam ajang Mahasiswa Berprestasi 2017. Simak wawancara kru Komunikasi dengan Shovi berikut!
Bagaimana perasaan Anda ketika terpilih menjadi Mawapres 2 UM?
Alhamdullilah, ya senang. Harus bersyukur yang pasti dan harus ditingkatkan lagi. Saya sempat shock.  Karena apa ? mbak Tsania itu perkembangannya sangat bagus. Poin yang didapat langsung banyak setelah yang tahun lalu tidak lolos. Sedangkan di tahun ini saya hanya mengumpulkan poin pada juara ketiga. Selain itu karya tulis ilmiah yang  dikumpulkan pada pemilihan Mawapres juga tidak linear. Memang banyak pertimbangan dan pasti ada hikmah di baliknya.

Apa yang membuat Anda berpikir untuk mengikuti ajang Mawapres?
Awalnya disuruh, disuruh jurusan dan fakultas. Terus yang terakhir ini atas keinginan sendiri. Dulu ketika mahasiswa baru (maba) belum mempunyai bekal sertifikat apapun, tapi tetap disuruh. Pada waktu itu semester dua sampai tahap fakultas belum bisa lolos. Selanjutnya, ikut lagi pada semester empat. Padahal pendaftaran di fakultas sudah ditutup tapi tetap disuruh ikut. Di tahap fakultas saya juara dua dan ternyata sampai tahap universitas saya nggak menyangka kalau masuk lima besar dan saat itu saingannya banyak, jadi saya termotivasi dari sendiri untuk ikut lagi.

Pengalaman apa yang bisa Anda ambil?
Saya bisa kenal dengan teman- teman dari fakultas lain, saya bisa termotivasi dengan mereka juga, saya bisa mendapatkan ilmu dari mereka, mendapat ilmu dari para motivator dan para pembicara dan yang pasti melatih mental saya untuk lebih kompetitif, lebih efektif, dan efisien. Di samping itu, saya belajar untuk menerima segala kehendak Allah untuk saya.

Bekal apa yang Anda persiapkan?
Untuk ke Mawapres saya tidak berpikir “Pokoknya harus menang”, ya sempat berpikir mudah-mudahan menang. Namun, di Mawapres yang kemarin saya tidak begitu menarget harus mengumpulkan poin banyak dan juara satu. Target saya justru saya ingin mencapai apa yang belum saya lakukan. Seperti lomba debat, lomba menulis, dan lomba karya tulis ilmiah. Sehingga untuk pencapaian tahun kemarin, saya memang sering juara meskipun juara tiga dan itu pun beregu akhirnya poin saya tidak begitu naik secara signifikan.

Karya tulis yang Anda buat tentang apa?
Karya tulis yang saya buat judulnya “1 Hour Q-Time: Gerakan Keharmonisan Keluarga sebagai Upaya Preventif Kenakalan Anak dan Remaja untuk Menyiapkan Generasi Indonesia Emas 2045”. Jadi karya tulis tersebut tentang pendidikan karakter di lingkungan keluarga. Saya menganggap hal itu sangat penting dan patut dipublikasikan  karena memang saat ini kenakalan anak dan remaja semakin meningkat serta faktor utamanya ternyata dari keluarga. Dengan karya tulis tersebut saya berharap pemerintah bisa mengetahui ide dan gagasan tersebut atau bahkan saya juga ikut terlibat sehingga pendidikan di dalam keluarga semakin digalakkan. Harapannya, Indonesia memiliki generasi yang unggul sehingga mampu mewujudkan tujuan Indonesia Emas 2045.

Apa fokus kegiatan saat ini?
Kuliah, pengurus mahad, pengasuh mahad, pengajar mahad, ya ngajar ekskul. Jadi juri pidato, pildacil (pemilihan dai cilik, red.), nantinya mau jadi juri fashion show. Bayangkan, Mbak, saya tidak ahli di bidang itu ya jadi MC juga. Kegiatan lain yang sering saya lakukan adalah berceramah di berbagai lokasi, khusunya di Malang. Sebenarnya juga ada KPL (Kajian Praktik Lapangan, red.) tapi pendaftarannya sudah ditutup jadi saya ikut nanti di semester delapan. Di balik itu ada banyak hikmahnya, ternyata saya diterima jadi tutor CLS (Critical Language Scholarship).

Apakah pernah mengalami kegagalan terburuk ?
Kegagalan terburuk saya adalah ketika saya terlalu ambisi dan saya gagal. Seperti MTQMN XV tahun 2017 ini. Saya terlalu ambisi ikut debat bahasa Arab. Dari awal cita-cita saya ingin ikut debat sampai nasional dan menang. Saya tulis dan saya berangan-angan terlalu panjang bahwa bisa ikut MTQ terutama sampai tingkat nasional. Tapi ternyata Gusti Allah berkata lain, alias saya gugur di UM. Hal itu yang paling nyesek. Di balik itu ternyata beberapa abstrak dan paper saya diterima di berbagai konferensi internasional. Kemudian saya disuruh jadi MC pembukaan dan penutupan MTQMN XV 2017 ini.

Apa hal menarik saat berkompetisi yang tidak terlupakan  sampai sekarang?
Hal yang paling menarik adalah bisa menjadi juara, membahagiakan orang lain, dan hasilnya bisa untuk membantu menopang keluarga.
Lalu apa rencana ke depan?
Ingin jadi orang yang bermanfaat apapun itu. Kalau soal cita-cita saya ingin jadi wisudawan terbaik, terus ke depannya lagi saya ingin jadi istri salihah, selanjutnya saya ingin jadi pengusaha dan punya yayasan di tempat saya serta saya ingin jadi penulis. Mungkin target berikutnya ingin keliling dunia.

Apa pesan untuk mahasiswa UM?
Sudah saatnya merenung mengapa Indonesia merdeka. Sudah saatnya membuktikan cinta tanah air kita dengan berbakti dan mengabdi pada Indonesia. Maka buktikan dengan nyata melalui prestasi. Jadi apapun kita, profesi apapun yang kita sandang, mari kita persembahkan untuk bangsa kita tercinta, Indonesia.Shintiya

Bagikan informasi ini: