Duta Pancasila dan Ilustrator Penakluk Dunia

Temukan passion dan menekuni hobi, melangkah sedikit demi sedikit. Jangan pernah mundur untuk selalu berkarya dan berbuat baik

1

Berpenampilan menarik, dengan rambut panjang teurai, dan warna kulit sawo matang adalah visualisasi dari Lintang. Bergelut dan berkutat melalui dunia anak dengan cara elegan sudah dilakoni Lintang Pandu Pratiwi selama beberapa tahun terakhir. Skill menggambar yang terus ia asah menjadi modalnya sebagai ilustrator. Perpaduan ilustrasi dan tulisan membawanya dengan bebas berimajinasi menghasilkan cerita anak yang apik.
Lintang ialah pribadi yang tegas, humble, dan komunikatif. Sikap itu selalu ia cerminkan saat bertemu setiap orang. Ditemui dengan dress motif bunga membuat pembawaanya lebih fresh. Perempuan ini sudah hafal lagu-lagu daerah sejak kecil di saat teman yang lain gandrung dengan musik pop. Jiwa nasionalisme sudah ditanamkan sedari dini oleh orangtuanya. Tak ayal jika saat ini setiap hembusan napasnya melambungkan ibu pertiwi. Karya-karya yang diusung menjadi salah satu cerminan kepribadiannya yang lantas membawanya menyabet seabrek prestasi nasional maupun internasional.
Karier yang melejit tak semata-mata ia dapatkan dengan mudah. Bermula dari hobi yang ditekuni hingga akhirnya membuahkan hasil. Alumnus Desain Komunikasi Visual (DKV) ini  berhasil lolos ke penerbit Indonesia yang akhirnya membuka jalan untuk melangkah ke kesempatan-kesempatan lain. Penerbit-penerbit lain juga ia masuki dengan keapikan karyanya.
Hobi yang ia tekuni kini telah diakui Indonesia maupun dunia, salah satunya dengan mendapat penghargaan “72 Ikon Prestasi Indonesia” yang diberikan oleh Presiden Jokowi melalui Unit Kerja Presiden Pembina Ideologi Pancasila. Dalam perhelatan ini, ada 72 ikon berprestasi, baik dari bidang sosial, seni budaya, olahraga, dan teknologi. Penghargaan yang diberikan pada 21 Agustus 2017 itu sempat membuat Lintang speechless karena memang tidak disangka sebelumnya. “Aku langsung dihubungi sama mereka by email dan call,” tegas perempuan asli Wonosobo tersebut. Perlehatan yang berlangsung di Jakarta Convention Center ini dihadiri pula oleh tokoh-tokoh penting negeri ini, diantaranya Megawati Soekarno Putri, Tri Sutrisno, Jenderal TNI Luhut Binsar Panjaitan, serta Dewan Unit Kerja Pancasila (UKP) Yudi Latief. Kehadiran mereka membawa kesan sakral dan bergengsi.
Track record-nya yang memang sudah tidak diragukan lagi dengan seabrek portofolio-portofolio membuat Presiden Jokowi meliriknya. “Karena memang tema nasionalisme yang diusung sesuai dengan value yang ada di buku-buku cerita anak saya,” tegasnya. Goresan tinta saat ia menggambar dan membuat ilustrasi mempertajam tulisannya yang penuh dengan pesan moral. Mulai dari budi pekerti, tolong menolong, dan toleransi ia usung menjadi poin penting dalam tulisannya.
Tidak berhenti di situ, Lintang masih harus mengampanyekan tema nasionalisme melalui karya dan sejumlah schedule yang telah dibuat bersama tim Unit Presiden dan ke-72 Ikon Prestasi. Ia diberi kesempatan untuk public speaking di beberapa kampus Indonesia. “Iya ini baru pulang dari STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara,red.) dalam rangka proyek lanjutan,” tuturnya.
Karya Lintang juga mendapat penghargaan bergengsi di tahun 2016. Ia berhasil menyabet prestasi “40 Anak Bangsa Penakluk Dunia Versi Media Indonesia”. Ia tak diragukan lagi bersanding dengan rekan yang sudah melejit di kancah nasional maupun internasional dengan karya masing-masing.
Mengusung tema nasionalisme dari setiap kemasan cerita membawanya melalang buana hingga Amerika, Eropa, dan Asia. Karya-karya ilustrasinya telah menghiasi penerbit mancanegara. Studio komik Multitude Comics Amerika telah meliriknya sebagai ilustrator hingga menjadi bestseller dengan karya Walker Hound of Park Avenue.
Tentunya jatuh bangun yang ia hadapi selalu ada dan tidak bisa dihindari. Nilai dalam diri yang ia pegang teguh tidak mengkhianati hasil usaha yang diraihnya. Lintang yang piawai menulis dan lihai menggambar selalu memadukan imajinasi untuk mewujudkannya. Talenta yang ia miliki dan sudah diasah sejak kecil membawanya dalam muara kesenangan tersendiri untuk menemukan passion yang dimiliki. “Sering mengikuti kompetisi menggambar sejak TK,” ungkap Duta Pancasila tersebut. Tak heran jika alumni SMA Negeri 4 Malang ini mengambil jalan di dunia seni.
Skill menggambar dan membuat ilustrasi juga diiringi dengan tulisan yang kece. Pengalaman menulis ketika di bangku SMP tak pernah ia lupakan. “Sempat nggak dipercaya sama guru ketika mengikuti kompetisi menulis, kesannya tulisan saya seperti dibuatkan orangtua,” kelakarnya. Tulisan Lintang yang berhasil menyabet juara satu se-Kabupaten Wonosobo ketika di bangku menengah pertama memunculkan kecurigaan besar dari para penyelenggara karena genre yang diusung berbeda dengan anak-anak seumurannya. Ia mengusung tulisan dengan nilai-nilai humanis dan nasionalis di usia yang sangat belia. Hingga akhirnya nama Lintang digugurkan dalam kompetisi tersebut dan hanya tinggal judul tulisan yang terpampang. “Dewan juri sempat bilang ke ayah saya saat mengetahui segalanya dan memberi selamat,” kenangnya sambil tertawa geli.
Tak hanya itu, Lintang yang mengagumi keeksotikan alam Indonesia juga memiliki hobi fotografi dan modeling. Lelah dan kebosanan ia lunturkan sejenak dengan berpose di depan kamera. Tak luput pula ia jeprat-jepret sana-sini view yang menurutnya indah. “Aku memang suka alam dengan pemandangannya, mungkin karena memang berasal dari pedesaan,” tutur perempuan pengagum bunga ini. Sesekali ia masih mencari murbey hutan di sekitar rumah ketika pulang ke Wonosobo sembari mengenang keceriaan masa kecilnya. “Jalan-jalan dan langsung lihat pemandangan sering memunculkan ide-ide baru untuk berkarya,” imbuh perempuan yang suka berteater ini.
Pencapaian yang sudah banyak tidak membuat Lintang berhenti di satu jalan. Ia masih ingin mengeksplor karya-karyanya selain menulis dan ilustrasi. Ia tetap bersemangat untuk mengepakkan sayapnya seperti penuturannya. “Mungkin nanti bisa merambah ke dunia film.” Walaupun begitu, Lintang tetap memegang nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh orangtua. Ia tidak luput untuk berbagi melalui karya-karyanya. Prinsipnya agar selalu ­­­berguna bagi orang lain selalu ia pegang dengan kuat.
“Salah satu impianku lagi, ke depannya buku-buku yang telah aku buat nantinya bisa langsung aku salurkan ke anak-anak dengan membangun perpustakaan buat mereka. Berharapnya anak-anak bukan sekadar gemar literasi, tetapi juga bisa mengambil nilai yang terkandung di dalamnya,” imbuhnya. Penulis buku yang produktif ini berhasil menciptakan tiga puluh buku kompilasi Indonesia dan luar negeri, salah satunya buku tentang Michelle Obama yang didedikasikan untuk mengenang masa akhir jabatannya sebagai First Lady. “Kalau dari aku sih temukan dulu passion dan jangan pernah mundur sedikit pun. Maju dan mulai dari yang kecil dan sederhana untuk membuat hal yang bisa mengesankan,” kata ilustrator Majalah Bobo ini. Sosoknya yang tidak gampang menyerah dan selalu berpikir positif mampu membawa dirinya untuk terus berkarya.Arni

Bagikan informasi ini: