Merunut Kerja Ikhlas Pemimpin, Pendidik, dan Pahlawan Keluarga

“Pendidikan telah jadi prioritas utama
Selaras dengan acuannya beragama
Membangun sumur ilmu untuk ditimba
Tanpa mengharap secuil balas dan laba

Jiwa pemimpin ia pegang teguh senantiasa
Mengemban amanah sebagai wakil walikota
Tak menyurutkan perhatian pada kepentingan negara
Sukses berkat ikhlas dan belajar mengeja peristiwa
demi bersama ia tempa gagasannya,
ia jelma pula sebagai pahlawan di keluarga”

IMG_2145

 

Nama            : Prof. Dr. Drs. Mohammad Zainuddin, M.Pd.
Tempat, Tanggal Lahir    : Blitar, 26 Juni 1957
Alamat            : Jalan Wisanggeni Blok G 87 Kota Blitar

Riwayat Pendidikan
SDN Blitar lulus  tahun 1970
SMPN 1 Blitar lulus tahun 1973
SMAN 1 Blitar lulus tahun 1976
S-1 Pendidikan Matematika, Universitas Negeri Malang, lulus tahun 1982
S-2 Pendidikan Matematika SD, Universitas Negeri Malang, lulus tahun 1998
S-3 Ilmu Sosial, Universitas Merdeka Malang, lulus tahun 2006

Jabatan dalam Pengelolaan Institusi :
Anggota Bidang Penalaran Senat Fakultas MIPA IKIP Malang 1980-1982
Ketua Remas Masjid Agung Malang 1981-1999
Ketua UPP III PGSD Universitas Negeri Malang di Blitar  1998-2001
Wakil Ketua PCNU Kota Blitar 2001-2006
Wakil Ketua PCNU Kota Blitar 2006-2011
Dosen tetap KSDP UM Malang 1992- sekarang
Guru Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri Blitar 1984-1992
Wakil Walikota Pemerintah Kota Blitar 2000-2005
Direktur Utama PDAM Kota Blitar 2003-2004
Penilai Angka Kredit Guru Dinas Provinsi Jatim 2010-sekarang
Ketua Lajnah LPTNU PCNU Blitar 2014-sekarang
KPP 3 Universitas Negeri Malang 2015-sekarang
Narasumber Nasional K13 untuk SD, Kemendikbud 2015-sekarang
Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Blitar 2016-sekarang

 

Prof. Dr. Drs. Mohammad Zainuddin, M.Pd.  sosok yang cukup dikenal di kalangan masyarakat Blitar. Di tahun 2000-2005 beliau mendampingi Djarot Saiful Hidayat memimpin Kota Blitar. Di sela-sela itu, beliau juga menangani PDAM yang hampir bangkrut. Keinginannya untuk mengabdi membuatnya mendirikan sekolah-sekolah. Selain itu, sebagai anak tunggal, beliau tak ingin memiliki anak sedikit. Bagaimana kisahnya? Simak kisahnya dalam wawancara kru Komunikasi  berikut!
Bagaimana Anda mengawali karier?
Saya dulu dari SPG, karena ada peraturan baru, otomatis saya menyesuaikan, harus kuliah lagi. Saya selaku dosen harus menyesuaikan perkembangan zaman.  Saya menjadi dosen tahun 1990. Tahun 1998 kuliah S-2, setelah lulus diangkat jadi Koordinator Pelaksana Program (KPP) kampus 3 selama empat tahun. Otonom pertama, saya cuti karena jadi wakil walikota tahun 2000-2005. Setelah habis masa jabatan, saya kuliah lagi S3. Saya harus mengejar jabatan akademik walaupun luar biasa sulitnya.
Selain menjadi dosen Anda juga mendirikan sekolah-sekolah bahkan perguruan tinggi. Sekolah dan perguruan tinggi  mana saja yang telah Anda dirikan?
Saya sudah mendirikan tiga sekolah. SD Islam Kardina Massa pada 1995, SD Islam Kota Blitar tahun 1998, dan SD Islam Ma’arif Plosokerep pada 2006. Saya juga pernah diminta membenahi MI Nurul Huda Ngadirejo. Untuk perguruan tinggi, saya telah mendirikan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar tahun 2016.
Apa yang mendasari Anda untuk mendirikan itu semua?
Saya hanya ingin mengabdi. Kalau kita mendirikan sekolah pasti ada liku-likunya. Kuncinya ikhlas dan apa adanya. Mendirikan sekolah itu jangan ada rasa ingin memiliki, nanti bisa getun. Seperti UNU, sekarang saya menjadi rektornya, kalau sudah bagus ya nanti siapalah yang bisa meneruskan.
Bagiamana Anda bisa terpilih menjadi wakil walikota Blitar?
Ketika awal dilaksanakannya otonomi daerah, saya menjabat tahun 2000-2005. Untung waktu itu (aturannya,red.) tidak harus mengundurkan diri dari Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Berarti waktu itu mendampingi Pak Djarot Saiful Hidayat?
Iya. Saya menjadi wakil walikota tanpa biaya sama sekali.
Dulu Anda juga pernah menjadi direktur di PDAM, bagaimana Anda bisa menjadi direktur PDAM?
Saat itu PDAM rugi. Saya menjadi wakil walikota sehingga saya ditugaskan walikota menjadi direktur di PDAM untuk membenahi administrasi. Padahal basic saya guru. Saya dapat inspirasi dari membaca otobiografi Gus Dur. Cara belajarnya dengan memanggil. Saya memanggil kepala bagian manajemen keuangan, bagian teknik, marketing, dan peralatan. Saya bilang, silakan buat perencanaan. Kemudian saya diskusi dengan ahli-ahli itu. Saya buat kesimpulan, PDAM itu barang dari air, tidak kolakan, kenapa bisa rugi? Mengapa alatnya sering rusak? Ternyata insentifnya tidak memadai. Sehingga dengan dia (salah satu karyawan) mesin itu dibunyikan seharian. Kalau sudah rusak, dia senang karena biaya kerusakan bisa dibuat ceperan. Akhirnya saya benahi. Setelah satu tahun, akhirnya utang lunas. Karena sudah membaik, saya tidak mau di situ, tugas saya sebagai wakil walikota.
Saat rapat, semua kaget. “Loh Pak Zainuddin kok tahu betul?” Padahal saya belajar dari mereka. Ketika saya menjadi direktur saya tidak usah digaji, karena sudah digaji menjadi wakil walikota. Kerja harus jujur dan ikhlas, rahasianya di situ.
Bagaimana Anda bisa sukses dalam berkeluarga?
Kebetulan saya diberi anugerah anak kandung lima belas. Kuncinya melayani masyarakat atau melayani keluarga. Adanya kerja sama antara ayah dan ibu. Harus penuh kesabaran bahwa semua yang ditugaskan adalah anugerah. Pasti Allah memberi kemudahan, ndak mungkin memberi beban ke umatnya. Kalau sejak awal belum yakin, jangankan punya anak lima belas, anak tiga saja sudah bingung. Itu harus diyakinkan kepada istri karena istri yang biasanya akan mengeluh.
Bagaimana Anda bersama istri mengasuh  lima belas putra-putri Anda?
Setelah 10 hari melahirkan kita titipkan ke tetangga. Setiap minggu kami datangi, beri susu, dan keperluan bayi. Setelah anak berusia lima-enam tahun kami ambil. Kalau kita rawat sendiri ndak mungkin, karena setiap tahun punya anak. Ada lima rumah yang kita titipi.
Apakah istri Anda bekerja?
Bekerja, dulu dia guru TK, karena punya S-1 maka dia mutasi ke SMK. Agar image kepada masyarakat anak tidak menghalangi menuntut ilmu, saya sekolahkan lagi D3 di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Blitar, S-1 di Malang, S-2 di UM Jurusan Bahasa Inggris. Sekarang S-3 di Universitas Sebelas Maret (UNS). Dia memberikan contoh kepada anak-anak, bahwa anak jangan dijadikan beban. Allah akan mengangkat derajatnya bagi yang menuntut ilmu. Menuntut ilmu itu wajib. Kalau sekolah sudah selesai, kita harus tetap menuntut ilmu di mana saja. Menuntut ilmu bagian dari hidup, jangan hanya semacam  pemaksaan.
Pesan untuk mahasiswa UM?
Mahasiswa kalau belajar jangan hanya belajar di kampus. Juga belajar bermasyarakat. Apalagi mempelajari kehidupan beragama itu jauh lebih penting untuk memberikan inspirasi kehidupan masa depan.Shintiya

Bagikan informasi ini: