Fikih Medsos: Menyikapi Berita ‘Hoax’ dan Ujaran Kebencian oleh Yusuf Hanafi

AGAMA copy

Keseharian kita hampir tidak bisa dipisahkan dari media sosial (medsos). Tentunya, banyak fasilitas kemudahan yang kita peroleh saat berkomunikasi dan berinteraksi lewat medsos itu. Namun, tidak dipungkiri bahwa medsos mempunyai sisi gelap yang mesti diwaspadai. Antara lain, menjadi media penyebaran hoaks dan ujaran yang mengandung kebencian.
Kondisi memprihatinkan di atas semakin diperparah oleh media massa yang tidak berkomitmen pada kode etik jurnalistik yang tidak segan memublikasikan informasi gosip yang tidak jelas kebenarannya tanpa didukung oleh investigasi yang mendalam. Akibatnya, informasi yang diberitakan itu seringkali mengarah kepada fitnah, ujaran kebencian bahkan pencemaran nama baik. Tulisan ini hendak mengajak pembaca untuk menelaah kembali tuntunan agama dalam menyikapi persoalan di atas.
Tabayun Sebelum Men-share Informasi
Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk berhati-hati saat menerima informasi dengan mengecek kebenaran berita itu terlebih dahulu. Dalam bahasa agama, perintah tersebut diistilahkan dengan tabayyun, yakni melakukan validasi secara ketat dan teliti. Kita tidak boleh gegabah menyebarnya sampai mempunyai bukti yang kuat bahwa informasi tersebut sahih. Terkait dengan hal ini, Allah SWT mengajarkan kepada kita: “Wahai kaum beriman, jika datang kepadamu orang fasik dengan membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti (sebelum menyebarluaskannya), agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum sebab ketidaktahuanmu itu. (Jika kamu mengabaikannya), hal itu akan menyebabkanmu menyesali perbuatanmu itu” (Q.S. Al-Hujurat: 6).
Penting pula untuk dipahami bahwa informasi hoaks itu sesungguhnya hanya didasarkan pada asumsi dan spekulasi semata. Padahal Islam mengajarkan kepada kita untuk menghindari prasangka buruk terhadap orang lain
Kita dilarang berlaku tajassus. Tajassus adalah mencari-cari keburukan pihak lain. Selain tajassus, ada juga istilah tahassus yang bermakna menguping kabar perihal aib dan cacat orang lain.
Mari Peduli terhadap Kehormatan Sesama
Mengapa kita harus menjaga diri sekaligus menjauhi informasi dan berita hoaks? Jawabannya adalah karena kehormatan sesama harus dihormati dan dipelihara. Pada saat Haji Wada’ di Padang Arafah, Nabi Muhammad SAW mengingatkan kita semua: “Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan saudara kalian itu dijamin dan haram (untuk dinodai), sebagaimana kemuliaan hari ini, kemuliaan bulan ini, dan kemuliaan negeri kalian ini” (HR. Bukhari, No. 67 dan Muslim, No. 1679).
Terlebih lagi, jika informasi hoaks itu mengarah kepada tuduhan dan dakwaan keji yang berpotensi mencemarkan nama baik seorang muslim, seperti gosip perzinahan. Kita harus menyikapi dengan hati-hati. Sebab, menuduh sesama muslim berselingkuh dan berzina memiliki konsekuensi hukum yang sangat serius dan berat, baik di dunia maupun di akhirat.
Jangan Asal Nge-share Informasi!
Seyogianya kita tidak ceroboh dan gegabah dalam menyebarkan gosip lewat medsos. Sebab, jika yang kita share itu berisi berita palsu, dipastikan kita akan mendapatkan dosa. Terkait dengan hal ini, Rasulullah SAW mengingatkan: “Cukup seseorang dikatakan dusta jika ia menceritakan dan menyebarkan segala yang ia dengar” (HR. Muslim, No. 5). Berpijak dari hadist di atas, seseorang dapat dikatakan berdusta jika ia men-share setiap info gosip yang ia peroleh, meski ia bukanlah produsen berita hoaks tersebut.
Jika kita cermati secara seksama, informasi dan berita hoaks yang marak beredar lewat medsos itu tidak hanya berisi fitnah semata, tetapi juga mengarah pada merendahkan, mencela, dan menghina pihak lain. Celaan yang ditujukan kepada pihak lain itu sesungguhnya mencerminkan derajat kepribadian si penyebar berita hoaks itu sendiri. Karena itu, tepat kiranya jika kita merenungkan pernyataan Ibnul Qayyim al-Jauziyah Rahimahu Allah: “Setiap celaan yang ditujukan kepada saudaramu, maka itu akan kembali kepadamu. Artinya, Engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut” (Madarijus Salikin, 1: 176).
Sebagai penutup, kita harus ingat bersama bahwa individu atau kelompok yang jadi korban informasi dan berita hoax itu sesungguhnya adalah pihak yang terzalimi. Sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah SAW, doa orang yang terzalimi itu dikabulkan oleh Allah SWT.
Karena itulah, kita harus waspada agar tidak menzalimi pihak lain. Justru, jika ada saudara kita yang jadi korban kezaliman berita hoaks, kita harus mendoakannya agar senantiasa dilindungi oleh Allah SWT, dan mendapat keberkahan hidup. Sebagai catatan, pahala mendoakan saudara kita yang terzalimi itu juga akan kembali kepada kita sendiri, sebagaimana dinyatakan dalam hadis Nabi berikut: “Doa seorang Muslim untuk saudaranya (saat dalam kesunyian) itu merupakan doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya, ada malaikat (yang bertugas mengamini doa tersebut). Saat ia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, malaikat berseru: Amin, Engkau akan mendapat kebaikan yang semisal dengannya” (H.R. Muslim, No. 2733).
Last but not least, waspadalah terhadap berita hoaks dan ujaran kebencian (hate speech)!
Penulis adalah dosen Jurusan Sastra Arab, Kepala Pusat Pengembangan Kehidupan Beragama (P2KB), dan anggota dewan redaksi
Majalah Komunikasi

Bagikan informasi ini: