Guru Keliling Jadi Startup Bombastis Kota Malang

gulingApa sih yang nggak bisa diinovasikan oleh generasi milenial? Mulai dari toko online, ojek online, hingga layanan pendidikan online. Salah satu layanan pendidikan online yang tengah menjadi tren di Malang adalah Guling (Guru Keliling). Guling merupakan salah satu aplikasi yang memfasilitasi guru privat dari jenjang SD hingga SMA. Dunia startup di ranah pendidikan ini diprakarsai oleh Fammy Azmy Arrofi, mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM). Berawal dari kiprahnya di website, kini Guling menjadi aplikasi yang bebas diunduh.
Ditemui di Kafe Pustaka di sela-sela kesibukannya, Fammy memaparkan perihal karyanya di tengah-tengah riuh rendah aktivitas kafe. Tidak gampang untuk bisa bertemu dengannya. Sebagai orang Malang yang telah melanglang buana menjadi pembicara berkat aplikasi terbarunya ini, ternyata ia tak akan pernah ditemui melalui akun instagram. Ia tidak seperti generasi zaman now yang sedikit-sedikit mengumbar eksistensi di sosial media. Namun sepak terjaknya di ranah teknologi informasi tak kalah membanggakan.
Saat ditemui, pria berkacamata ini memaparkan mengenai sepak terjak Guling ditemani dengan seduhan kopi di mejanya. Gerimis merayap tak mengurungkan semangatnya untuk berkisah mengenai jalan berliku yang ia lalui. Idenya bermula di tahun 2015, tepatnya saat ia masih menjadi guru honorer di SMK Negeri 6 Malang. “Ngopi dan diskusi dengan beberapa teman hingga menemukan ide-ide, awalnya masih ide kosong,” jelas Fammy. Ia melahirkan gagasan untuk membuat pembelajaran lebih menyenangkan. Belajar dari pengalamannya sebagai guru, ia melihat betapa besarnya beban belajar untuk para siswa. Mulai sekolah dari pagi hingga sore hari ditambah tugas-tugas rumah yang dibebankan. Fammy mulai tergelitik dan ingin segera mewujudkan hal yang lebih bermakna untuk anak-anak Indonesia, khususnya wilayah Malang.
Konsep yang digodok sejak 2015 ini telah melahirkan aplikasi Guling (Guru Keliling). Alumni SMK Grafika ini tentunya tidak sendiri dalam merintis aplikasi tersebut. Bekerja sama dengan teman karibnya, Farid Syafii dan Could Astro, sebagai pengembang media. Trial and error sudah sering ia alami. “Bergonta-ganti teman diskusi saya lakoni, menyiapkan blue print aplikasi, dan melakukan simulasi berkali-kali,” tuturnya. Hingga akhirnya, pada 31 Juli 2017 Guling di-launching dan bisa didapatkan melalui appstore atau google playstore. Warganet bisa mengakses dan memanfaatkan fitur yang telah disediakan.
Mengimbangi kondisi anak zaman sekarang yang tak bisa lepas dari gawai, calon siswa Guling bisa mendapatkan guru privat sesuai kebutuhan dan tempat, selagi masih di Kota Malang. Mereka bisa bebas memilih pelajaran yang mereka butuhkan. “Saya menginginkan ruang belajar yang mudah diakses di mana saja dan kapan saja sesuai dengan kebutuhan masyarakat, khususnya siswa,” kata Fammy. Ia menciptakan ruang belajar yang fleksibel dengan guru yang bermobilitas tinggi tanpa dibatasi ruang kelas.
Selama empat bulan terakhir, setidaknya ada lebih dari dua ratus calon guru yang ingin bergabung menjadi bagian dari Guling. Namun, masih enam puluh orang yang berhasil lolos screening. “Ada beberapa persyaratan juga untuk bisa menjadi guru keliling di sini, sama seperti lainnya,” kata Fammy. Seperti biasa, guru keliling juga mendapatkan fee dari hasil mengajar. Untuk guru SD, fee yang bisa didapat adalah Rp35.000,00 sekali jalan, sedangkan untuk guru SMP Rp45.000,00, dan Rp55.000,00 untuk guru SMA.
“Salah satu upaya dalam membangun ekonomi kreatif di bidang edukasi,” jelasnya ketika ditanya motivasinya menciptakan Guling. Memang tujuan awal dari aplikasi ini sebagai wadah peluang pekerjaan baru. Mulai dari mahasiswa semester 5 hingga guru honorer memiliki peluang pesat untuk menjadi guru keliling, asalkan usianya tidak lebih dari 45 tahun. “Ada kejadian yang menarik dan unik, kami tim Guling harus telaten memberi pengarahan dalam menggunakan aplikasi, terutama kepada bapak atau ibu yang sebelumnya tidak terbiasa menggunakan gadget,” kenang mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia ini. Memang tidak dipungkiri, penggunaan gawai semakin dibutuhkan tetapi tidak untuk ketergantungan.
Aplikasi yang kini telah diunduh oleh lebih dari seribu pengguna menambah eksistensinya di kalangan masyarakat. Tidak hanya siswa, namun juga para orangtua yang menginginkan buah hatinya mendapat pendampingan belajar yang intensif. Jam operasi mulai dari jam 12.00 hingga 21.00 WIB. Pelanggan bebas memilih guru yang disediakan dengan profil yang telah ada. Jika ingin berlangganan, aplikasi Guling menyediakan fitur e-money. Prinsip kerjanya mirip dengan Go-pay yang ada di aplikasi Go-jek. Memudahkan pelanggan dengan memberikan kesempatan untuk mendapat poin.
Fitur di aplikasi Guling kini mulai beraneka ragam. Ada order yang menampilkan kebutuhan calon siswa yang akan mengambil mata pelajaran yang dibutuhkan dengan guru pilihan yang telah disediakan. Di sebelahnya terdapat fitur news. Aplikasi Guling menyediakan news yang berisi seputar berita dan informasi pendidikan. Kemudian ada quiz yang diberikan setiap hari dengan variasi soal yang beragam dengan jenjang kelas yang berbeda pula. Kombinasi fitur ini awalnya hanya menyediakan pemesanan guru dan mata pelajaran, namun kini semakin merambah dan lengkap termasuk e-money. “Ke depannya kita bukan hanya menyediakan mata pelajaran saja, tetapi merambah ke bidang pengembangan lain seperti seni dan sebagainya untuk menjawab kebutuhan siswa yang senang dengan dunia ekstrakulikuler,” jelas alumni S-1 Sastra Indonesia UM.
Jika melihat tampilan aplikasi, kita akan banyak menikmati warna kuning yang mendominasi. Ternyata Fammy memliki filosofi tersendiri dengan warna yang digunakan sebagai brand color produknya. “Kuning menggambarkan kesejahteraan dan menyenangkan. Seperti belajar, tanpa tekanan dan mulai dari kesadaran sendiri,” jelasnya. Ia berharap terlahirnya Guling di Malang dapat membawa suasana baru untuk belajar sesuai dengan kebutuhan. Tingginya animo masyarakat dengan hasil karyanya, membuat Fammy tertegun atas pencapaiannya tersebut. “Ini saya kira yang aneh, kenapa bisa ke blow up aplikasi Guling. Manajemen marketing saya hanya baliho yang dipasang di area stasiun dan memperkenalkan di social media facebook. Ya Alhamdulillah ternyata bisa diterima masyarakat hingga media banyak yang mengeskpos,” tutur Ketua Teater Pelangi tahun 2012.
Fammy berhasil mengambil tempat di hati masyarakat dengan aplikasinya. Program televisi Hitam Putih pun tertarik untuk mengeksposnya. Bukan hanya di acara TV, secara berkala media-media online maupun cetak juga membanjiri tulisannya dengan profil Guling. Mulai dari line today, kompas.com, Radar Malang, Harian Surya, dan banyak lagi. Dengan sendirinya Guling dikenal masyarakat dan diterima sebagai habit sehari-hari untuk anak-anak sekolah. Walaupun sebelum hadirnya media aplikasi Guling telah banyak yang memanfaatkan. “Bulan-bulan seperti ini, ramai-ramainya pelanggan karena menjelang UAS,” ujar Co. Guru Keliling. Guru Keliling debutan Fammy juga berhasil digandeng oleh Bekraf atau Badan Ekonomi Kreatif  yang dinaungi oleh BUMN di 2017.Arni

Bagikan informasi ini: