Intrakul, Ekskul, dan Kesiapan Berkarier

Wakil-Rektor-III-UM-Syamsul-Hadi-2RcKO

oleh Dr. Syamsul Hadi, M.Pd., M.Ed.

“Setelah lulus ingin bekerja di mana?”
Di era yang penuh dengan perubahan, kata bekerja pada pertanyaan itu lebih tepat jika diganti dengan kata berkarier. Kesuksesan seseorang di zaman ini tidak lagi dilihat pada pekerjaannya, tetapi diukur dari seberapa cepat kariernya tumbuh. Karena itu, menempuh pendidikan tinggi tidak lagi tepat kalau hanya ditujukan untuk bekerja, akan tetapi harus diarahkan untuk berkarier. Kemampuan yang harus dimiliki tidak lagi cukup kalau hanya mancakup kapabilitas teknikal akademik (hard skills), tetapi harus diimbangi dengan kemampuan untuk tumbuh dan berkembang di dunia kerja dalam bentuk soft skills. Untuk mengembangkan kapabilitas yang pertama, setiap mahasiswa harus sungguh-sungguh dalam mengikuti aktivitas intra-kurikuler (intrakul) dalam bentuk  akademik formal seperti perkuliahan dan aktivitas penelitian. Sementara yang kedua, menuntut mahasiswa aktif secara informal dalam interaksi sosial dan pemecahan masalah di kehidupan nyata yang banyak terfasilitasi melalui aktivitas ekstrakurikuler.
Persoalannya, sampai hari ini masih banyak  yang memandang sebelah mata terhadap peran kegiatan ekskul. Bahkan, tidak sedikit yang memosisikan aktivitas ekskul pada satu ujung kontinum yang dihadapkan dengan kegiatan intrakul pada ujung kontinum yang lain. Pandangan dikotomis ini kemudian memunculkan pemikiran yang mengategorikan mahasiswa menjadi kelompok aktivis dan akademis. Pemilahan semacam ini tidak jarang membuat mahasiswa berada pada posisi dilematis. Kalau mau hebat di akademis, jangan jadi aktivis dan anggapan sebaliknya.
Pandangan semacam ini memang tidak sepenuhnya salah. Ada beberapa kasus yang karena terlalu asyik berkegiatan ekskul, mahasiswa tidak punya cukup waktu untuk kegiatan akademik sehingga tidak dapat menyelesaikan kuliah tepat waktu. Akan tetapi, fenomena semacam ini hanya merupakan implikasi jangka pendek. Dalam jangka panjang, mahasiswa yang berprestasi secara akademik maupun ekskul akan memiliki keunggulan masing-masing. Sejumlah penelitian menemukan bahwa keunggulan akademik berkontribusi besar terhadap kecepatan daya saing seseorang dalam memasuki dunia kerja, sementara peningkatan karier ketika berkiprah di dunia kerja berkorelasi dengan aktivitas ekskulnya ketika di bangku kuliah.
Menyadari hal tersebut, UM berupaya memfasilitasi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman belajar yang seluas-luasnya melalui kegiatan intrakul maupun ekskul. Mahasiswa didorong untuk berprestasi akademik dan menyelesaikan studinya tepat waktu. Bersamaan dengan itu, melalui kegiatan ekskul, mahasiswa diberi kesempatan  untuk mengembangan potensi diri yang kurang terfasilitasi melalui kegiatan intrakul.
Dalam beberapa tahun terakhir, kegiatan kemahasiswaan UM telah mengalami perkembangan signifikan. Meskipun tingkat partisipasi mahasiswa dalam kegiatan ekskul masih harus ditingkatkan, akan tetapi prestasi yang ditorehkan cukup membanggakan dan menyebar pada berbagai bidang kegiatan, seperti penalaran, bakat-minat, keagamaan, kewirausahaan, dan kesejahteraan. Indikator utama peningkatan itu terlihat pada skor kegiatan kemahasiswaan pada pemeringkatan perguruan tinggi yang dibuat oleh Kemenristekdikti. Selama tiga tahun terakhir, skor Bidang Kemahasiswaan UM mengalami peningkatan. Dari 0,03 pada 2015 meningkat menjadi 1,07 pada 2016, dan sedikit turun pada angka 1,02 pada 2017. Dengan angka-angka itu, kegiatan kemahasiswaan UM berada pada peringkat 11 pada 2016 dan 12 pada 2017 di antara 3.300 perguruan tinggi di tanah air.
UM telah dan akan terus berupaya meningkatkan keunggulan lulusannya melalui penyelenggaraan kegiatan intrakurikuler yang berkualitas dan memfasilitasi mahasiswa untuk mengembangkan potensi dan prestasi nonakademik melalui kegiatan ekstrakurikuler. Harapannya, lulusan UM merupakan sumber daya manusia yang paripurna, unggul hard skills sekaligus soft skill. Begitu selesai studi di UM, mereka memiliki daya saing yang kuat untuk memasuki dunia kerja dan ketika sudah berada di dunia kerja, mampu berakselerasi tinggi dalam berkarier. Lulus cepat, IPK tinggi, cepat dapat kerja, dan gaji tinggi belumlah cukup kalau tidak diikuti dengan perkembangan karier yang akseleratif.
Penulis adalah  Wakil Rektor III
dan Penanggung Jawab Majalah Komunikasi Universitas Negeri Malang

Bagikan informasi ini: