Jalur Pedestrian yang Terlupakan

IMG_20171212_113345Seiring dengan bertambahnya mahasiswa baru setiap tahunnya, jumlah kendaraan pun semakin meningkat. Hal ini pula yang terjadi di Universitas Negeri Malang (UM). Jalur pedestrian akhir-akhir ini kurang menjadi perhatian warga UM. Pasalnya banyak pengguna kendaraan bermotor yang mengambil jalur berlawanan. Sehingga hal ini menyebabkan kenyamanan pejalan kaki menjadi terganggu. “Banyak pengguna sepeda motor yang melanggar rambu-rambu yang ditentukan oleh kampus. Sering lawan arus dan sebagainya. Sehingga nanti pejalan kaki menjadi tidak nyaman,” papar Ahmad Muam, S.Pd., Kepala Sub Bagian Rumah Tangga.
Jalur pedestrian sendiri sudah dibangun di UM hampir di setiap gedung. Selain itu UM telah menyediakan jalur pedestrian khusus untuk difabel yang sudah ada di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) yang juga akan dibangun di fakultas lain. “Sementara kami membangun di area FIP, untuk ke depannya kami ingin di setiap fakultas juga ada,” terang Ahmad Muam.
Sebagai pejalan kaki, Lely Kusumawardhani merasa bahwa penyebaran jalur pedestrian di UM kurang merata. “Menurut saya sudah lumayan untuk jalur pedestrian di UM. Tapi untuk saat ini yang saya tahu hanya terdapat di beberapa bagian UM saja, belum tersebar rata. Kalau untuk di Gedung D, Fakultas Ekonomi, belum ada tapi di Gedung D Fakultas Sastra ada buat pejalan kaki atau biasa kita sebut trotoar. Kadang juga kita jalan susah soalnya banyak motor atau mobil lawat jalur pejalan kaki,” jelas Mahasiswa Jurusan Manajemen tersebut.
Demi kenyamanan para pejalan kaki maupun pengendara bermotor, pihak kampus telah membuat rambu-rambu lalu lintas bagi keduanya. Namun seringkali mahasiswa kurang memperhatikan akan hal ini. “Sebenarnya untuk menyimulasikan rambu-rambu, di area D itu hanya boleh dari utara saja dan sudah kami pasang spanduk tapi tetap dilewati,” tambah Ahmad Muam.
Jalur pedestrian untuk pejalan kaki di lingkungan kampus seharusnya menghubungkan antara satu gedung dengan gedung yang lain. Hal ini artinya juga harus memerhatikan rute langsung, kenyamanan jalur, dan keamanan jalur. “Saya berharap trotoar di UM ini tidak naik turun, minimal tingginya sama dari gedung satu ke gedung yang lain. Sehingga untuk pejalan kaki juga lebih nyaman digunakan. Lalu jalur pedestrian ramah difabel harapannya bukan hanya di FIP tapi juga di fakultas lainnya,” jelas Novilia Nur Islamiyati, Mahasiswa Jurusan Psikologi.Maulani.

Bagikan informasi ini: