Kearifan Lokal Tradisi Suku Tengger

IMG_0021 IMG_9981Pesona Tengger dengan keindahan Gunung Bromo tidak luput dari perhatian masyarakat  sejak dulu.  Sejak zaman Majapahit, dataran tinggi Tengger dikenal sebagai wilayah yang damai, tentram, dan bahkan rakyatnya terbebas dari pembayaran pajak yang disebut titileman. Jenderal  Thomas  Stamford  Raffles  sangat  mengagumi orang Tengger. Dalam The History of Java, ia mengemukakan bahwa pada saat berkunjung ke tempat yang sejuk itu, ia melihat orang Tengger yang hidup dalam suasana damai, teratur, tertib,  jujur, rajin bekerja, dan selalu gembira.  Mereka  tidak  mengenal  judi  dan candu,  perselingkuhan, pencurian, atau jenis-jenis kejahatan lainnya tidak ditemui di dalamnya.
Desa yang termasuk ke dalam desa  Tengger adalah desa-desa yang berada dalam wilayah kabupaten  yang  mayoritas  penduduknya  beragama  Hindu  dan  masih memegang  teguh  adat-istiadat  Tengger. Desa-desa yang  dimaksud  adalah  Ngadas, Jetak, Wonotoro, Ngadirejo,  dan Ngadisari (Kecamatan Sukapura,  Kabupaten Probolinggo), Ledokombo,  Pandansari,  dan  Wonokerso  (Kecamatan  Sumber, Kabupaten Probolinggo),  Tosari, Wonokitri, Sedaeng, Ngadiwono,  Podokoyo (Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan), Keduwung (Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan),  Ngadas  (Kecamatan  Poncokusumo, Kabupaten Malang),  dan  Argosari serta Ranu Pani (Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang). Salah satu desa yang masih memegang adat istiadat Tengger beserta kepercayaannya adalah Desa Wonokitri dan Tosari yang bertempat di Pasuruan.
Orang Tengger kaya akan upacara adat, tetapi hampir tidak memiliki produk kesenian. Upacara adat yang sampai  saat  ini masih diselenggarakan di wilayah Tengger adalah upacara Kasada, Karo, Entas-Entas, Unan-Unan, Pujan Mubeng, Kelahiran, Tugel, Perkawinan, Kematian, Barikan, Lilitan, dan masih banyak lagi. Perayaan Kasada atau hari raya Kasada atau Kasodoan yang sekarang disebut Yadnya Kasada adalah hari raya kurban orang Tengger yang diselenggarakan pada tanggal 14, 15, atau 16, bulan Kasada, yakni pada saat bulan purnama sedang menampakkan wajahnya. Hari raya ini merupakan pelaksanaan pesan leluhur orang Tengger yang bernama Raden Kusuma alias Kyai Kusuma atau Dewa Kusuma, putra bungsu Rara Anteng dan Jaka Seger, yang  telah merelakan dirinya menjadi kurban  demi  kesejahteraan ayah,  ibu, serta para saudaranya. Kasodoan  merupakan sarana komunikasi antara  orang Tengger dengan Hyang Widi Wasa dan roh-roh halus yang menjaga Tengger. Komunikasi itu dilakukan melalui dukun Tengger yang disebut sebagai dukun pandita, pewaris aktif tradisi Tengger. Perayaan Karo  atau  hari  raya  Karo  orang  Tengger  yang jatuh pada bulan ke-2 kalender Tengger (bulan Karo)sangat mirip dengan perayaan Lebaran atau hari Raya Idul Fitri yang dirayakan  umat  Islam. Pada hari berbahagia tersebut, orang Tengger saling berkunjung,  baik  ke  rumah sanak saudara maupun tetangga untuk memberikan ucapan selamat Karo. Perayaan ini berlangsung selama satu sampai dua minggu. Selama waktu itu berpuluh-puluh ternak, kebanyakan  ayam,  kambing, sapi, dan babi disembelih untuk dinikmati dagingnya. Bagi  keluarga  yang  kurang  mampu,  pengadaan  ternak  yang  akan disembelih dilakukan secara patungan. Bagi orang Tengger, hari raya Karo adalah hari yang ditunggu-tunggu. Perayaan yang berlangsung hampir dua minggu tersebut merupakan saat yang penuh suka cita dan pesta pora, seolah-olah orang Tengger ingin menebus seluruh kelelahan dan kejenuhan kerja seharian penuh di ladang yang telah mereka jalani selama satu tahun. Seluruh lapisan masyarakat Tengger, tua-muda, besar-kecil, Hindu, Kristen, Buddha maupun Islam menyatu dalam sukacita perayaan Karo. Hari raya Karo akan makin meriah apabila hasil panen orang Tengger bagus.
Upacara Unan-Unan diselenggarakan sekali dalam sewindu. Sewindu menurut kalender Tengger bukan 8 tahun, melainkan 5 tahun. Upacara ini dimaksudkan untuk  membersihkan desa dari gangguan  makhluk halus dan menyucikan para arwah yang belum sempurna agar dapat kembali ke alam asal yang sempurna, yaitu nirwana. Kata  unan-unan berasal dari kata  tuna rugi, maksudnya upacara  ini  dapat  melengkapi kekurangan-kekurangan yang diperbuat selama satu windu. Dalam upacara ini orang Tengger menyembelih kerbau sebagai kurban. Ada pula Upacara Entas-Entas. Upacara ini dimaksudkan  untuk  menyucikan  roh orang yang telah meninggal dunia pada hari ke-1000 agar dapat masuk surga. Biaya upacara ini sangat mahal karena penyelenggara harus mengadakan selamatan besar-besaran  dengan  menyembelih  kerbau. Sebagian  daging  kerbau  tersebut dimakan dan sebagian dikurbankan.
Upacara Pujan  Mubeng diselenggarakan  pada bulan kesembilan atau Panglong  Kesanga, yakni pada hari kesembilan  sesudah  bulan purnama.  Warga  Tengger,  tua-muda, besar-kecil, berkeliling desa  bersama  dukun mereka  sambil  memukul  ketipung. Mereka berjalan dari batas  desa bagian timur mengelilingi  empat  penjuru  desa. Upacara ini dimaksudkan untuk  membersihkan desa dari gangguan dan bencana. Perjalanan keliling tersebut diakhiri dengan makan bersama di rumah dukun. Makanan yang dihidangkan berasal dari sumbangan warga desa.
Kebiasaan masyarakat Tengger menggunakan sarung dalam kesehariannya menjadi ciri khas yang menarik. Udara dingin dan sejuk menjadi primadona utama wisatawan untuk menikmati keindahan alam suku Tengger. Pada  awalnya,  jagung  adalah  makanan  pokok  orang  Tengger.  Pada  saat  ini mereka  kurang  suka  menanam  jagung  karena  nilai  ekonominya  rendah  dan menggantinya dengan sayur mayur yang nilai ekonominya tinggi. Meskipun begitu, sebagian  lahan  pertanian mereka masih  ditanami jagung  karena tidak semua orang Tengger mengganti makanan pokoknya dengan beras. Hanya saja, untuk memanen jagung,  orang  Tengger  harus  menunggu  cukup  lama,  hampir  satu  tahun.  Sampai sekarang nasi aron Tengger atau nasi jagung masih tercatat sebagai makanan tradisional dalam kuliner nusantara.Amey

Bagikan informasi ini: