LUKISAN PENANTIAN

Lukisa Penanitian Sketsa

Oleh: Mochammad Nurfahrul Lukmanul Khakim

Penantian Sahabat
Bersabarlah ketika Tuan naik kole-kole (Perahu kecil khas Sentani)  menuju desaku di Pulau Asei. Kesiur angin danau yang sepoi-sepoi dan bukit-bukit berpohon yang jarang mengelilingi Danau Sentani akan menyambutmu selama berlayar ke kampung kami. Usai menepi di dermaga, amatilah pohon khombouw yang menjadi mata pencaharian kami. Adakah pohon itu kulitnya hilang?
Pohon itu berkah rakyat Pulau Asei. Pohon itu memberi kami kulitnya, dan kami melestarikannya dengan sepenuh hati.
Bersama lima orang lelaki, aku sedang membuat lukisan kayu khas kampung Asei. Kami jemur dan jereng kulit kayu yang masih bergetah dengan sabar. Menunggu matahari mengeringkan getah dari kulit kayu itu. Agar kami bisa melukisinya dengan motif-motif yang dititipkan leluhur sejak ribuan tahun lalu. Cicak, camar, buaya, dan ular ialah motif yang kami buat dengan sapuan kuas yang bergerak di atas pori-pori kulit kayu. Seperti menghias kain untuk diri sendiri, kami lukisi kayu berwarna cokelat muda itu dengan sepenuh hati.
Sudah lama kami tak bisa memasarkan lukisan kami dengan baik. Sebelum Magda mendobrak semua tradisi bagai camar tangguh. Kami bersahabat sejak kecil ketika dia mulai sangat tertarik pada lukisan kayu Asei.
“Peter, kau bawa kulit kayunya kan?” tanya Magda yang saat itu berusia 15 tahun.
“Ya, aku juga bawa cat yang cukup untuk kita berdua.”
“Bagus. Ayo, kita sembunyi. Jangan bilang siapa pun, aku belajar melukis padamu.”
Magda belajar melukis kulit kayu dengan teliti dan giat. Ketika sedang menata corak lukisan, dia tak bisa diganggu sampai selesai melukis. Motif hiasan di lukisannya selalu rapi dan cantik. Tampak seperti bernyawa. Selalu aku terkagum-kagum sendiri dibuatnya.
Magda selalu memberikan lukisannya padaku atas balas budi baikku mengajari dan menyediakan kulit kayu khombouw. Aku lebih suka menontoninya melukis. Diam-diam aku selalu menunjukkan hatiku yang masih wangi padanya saat kami memancing, mencari kayu, atau melukis sembunyi-sembunyi di hutan. Sekalipun dia tak pernah menyadarinya.
Aku tak kecewa padanya. Aku senang bersahabat dengannya dan menjaga semua rahasianya. Tepatnya, rahasia kami. Pelanggan toko suvenir selalu mengincar hasil lukisan Magda. Pemilik toko, Pace (Bapak)  Dion, pamanku sendiri, selalu memuji karyaku yang laris manis. Pace Dion selalu memberiku cat dan kulit kayu gratis agar aku kian giat melukis. Sebagian uang hasil penjualan kuberikan pada ibu dan sisanya kupakai untuk jajan bersama Magda.
Magda tak keberatan lukisannya diakui sebagai punyaku. Aku sering merasa bersalah karena aku tak tega merebut setiap lukisan Magda. Kadang aku ingin menyalahkan adat kampung kami yang melarang perempuan melukis di atas kayu khombouw.
Katanya jika pantangan ini dilarang, maka perempuan itu akan terkena penyakit.
Aku yakin bukan karena penyakit Magda meninggalkan kampung ini setelah dia berjasa bagi kami semua. Aku yakin dia sehat walafiat ketika terpaksa diciduk dari kampung ini. Setahun sudah dia pergi dengan cara paling tercela bagi negara. Peristiwa yang membuat semua orang ingin melupakannya cepat-cepat agar tidak bernasib seperti dirinya.
Kuletakkan kuas dengan lelah. Apakah aku masih punya harapan untuk menantimu, Magda? Entahlah, yang jelas aku ingin pamanku yang pergi dari desa ini. Aku dan semua warga desa benci pada lelaki tambun itu tapi hanya dia yang dekat dengan orang pemerintah.
Lihatlah motif lukisan kami agar Tuan bisa merasakan kami masih punya semangat walau Magda sudah pergi. Tuan tahu motif apa yang sedang kami lukis? Yoniki, artinya kehidupan rakyat Sentani, menjadi motif favoritku dan Magda.
Mataku jadi perih mengingatnya. Aku tak tega mengenang detik-detik mencekam ketika Magda pergi. Tuan, pengunjung kampungku yang budiman, jangan kecewa jika aku tak mau menceritakannya karena begitu menyakitkan hati. Ketuklah pintu rumah tetanggaku saja. Biarlah mereka yang menceritakan pada tuan tentang Magda. Biarkan aku pergi ke hutan tempat biasanya dulu kami melukis diam-diam. Semoga beruntung.
Penantian Tetangga
Wahai Tuan, hati-hati ketika melintas di samping rumah kami. Selain banyak babi berkeliaran, ada rumah Magda di dekat tanjakan menuju gereja tua. Ibunya hanya akan menyambutmu dengan air mata. Kami tak bermaksud jahat, tapi perempuan tua lebih suka mengunci pintu dan menjahit mulutnya dengan benang penyesalan. Kami iba tapi hidup kami juga harus tetap berlanjut.
Satu-satunya hal yang bisa membuat perempuan kurus itu melepaskan selimut kesedihannya adalah kehadiran Magda. Dia sudah menanti putrinya itu lebih dari setahun. Diam-diam, kami juga merindukan gadis cerdas itu. Dulu beberapa di antara kami yang sudah punya putra berkepala dua ingin sekali meminang Magda sebagai menantu.
Bukan hanya karena dia cantik, Magda mengilhami dan mengajak kami untuk menghidupkan corak leluhur dalam seni lukisan kayu yang menawan. Dia pandai berdagang ketika para turis berkunjung dan terpesona dengan segala hal yang kami punya.
Satu hal yang mungkin luput dari perhatian kami adalah dia perempuan. Betapa adat melarang perempuan melukis di kayu khombouw. Bisa membawa malapetaka bagi perempuan itu sendiri. Kami sudah menanyakannya pada Yoel, tetua adat desa mengenai Magda. Setelah perenungan berhari-hari dia menyakini leluhur berbicara padanya melalui mimpi. Kali ini, perempuan juga diizinkan melukis di kayu khombouw. Yoel bilang jika tidak ada yang meneruskan kesenian ini, maka bisa hilang ditelan zaman.
Tak pelak, Magda girang bukan main. Dia melukis sepanjang hari, tak lagi bersembunyi di hutan bersama Peter, sahabatnya. Peterlah yang akhirnya mengaku pada kami semua bahwa selama ini lukisan yang dijual pada Pace Dion ialah karya Magda. Tepat ketika mereka sama-sama berusia 20 tahun, Peter sudah tak tahan lagi berbohong.
Hampir semua warga Asei tak lagi mempermasalahkan Magda atau perempuan lainnya membuat lukisan kayu khas Asei. Dalam sehari mereka bisa membuat satu lukisan kayu beragam corak yang memikat hati. Kaum lelaki sesekali berdecak iri karena kalah rapi dengan lukisan kaum perempuan.
Tapi kami tak pernah mempersoalkan itu. Toh, semua lukisan kayu kami selalu terjual habis. Magda tak pernah bosan mengajari kami, para tetangganya ini melukis dengan rapi dan perpaduan warna yang magis. Hanya satu orang yang tak ikut bersyukur dengan kemajuan kampung kami. Pace Dion mulai terancam dengan kehadiran Magda. Awalnya dialah satu-satunya pemilik toko suvenir yang mahal di Asei. Kami dulu menjual lukisan kami di sana, tapi keuntungannya sangat sedikit. Sekikir senyum Pace Dion pada semua orang.
Magda memutuskan membuat lapak sendiri untuk menampung semua hasil karya warga desa. Kami membagi keuntungan dengan adil. Lambat-laun, para turis lebih suka berbelanja di lapak kami karena barangnya bagus dan murah. Pace Dion mengadu pada kepala desa karena menganggap Magda mematikan bisnisnya. Kami semua tahu itu hanya akal-akal bulusnya yang iri pada keberhasilan Magda. Kepala desa tak berkutik ketika tak punya bukti apa-apa untuk menangkap Magda.
Tuan-tuan, jangan tinggalkan kampung kami dulu sebelum memiliki sebuah lukisan kayu Asei. Berkelilinglah sebentar ke tepi danau terbesar di Papua ini sambil menerka-nerka nada semilir angin dari danau itu barangakali membawa tangis pilu Magda dari seberang sana.
Kami sangat ingin Magda kembali. Dia telah membuat kami berarti dengan mencintai warisan budaya sendiri. Kami tak butuh sekedar uang dari penjualan cinderamata, toh uang itu seperti babi. Sebanyak apa pun, pastilah habis. Entah ide dari mana yang membuat Pace Dion melancarkan fitnah busuk pada Magda. Kami luput ketika Pace Dion sengaja berpura-pura baik pada Magda untuk minta dibuatkan lukisan kayu Asei dengan motif sebuah bendera.
Kami sempat menyangka itu ialah motif bendera partai politik biasa. Dugaan kami meleset jauh. Magda terlampau senang dan tak menaruh curiga apa pun ketika dia berhasil menyelesaikan sepuluh lukisan kayu bermotif bendera itu. Gerombolan tentara itu datang dengan wajah sekeras kerang. Bunyi sepatu mereka menghentak-hentak lantai kayu di dermaga seperti menebar firasat berbisa. Magda sedang asyik menata lukisan kayu bermotif bendera itu di depan rumah ketika Pace Dion dan kepala desa mengekor para tentara itu ke rumahnya.
Sudah, jangan paksa kami mengingat kejadian selanjutnya karena kami harus segera menyelesaikan lukisan kayu ini. Para perempuan tak lagi melukis sekarang karena takut terkena musibah seperti Magda. Harga jual lukisan ini terlalu murah karena kami terpaksa menjual semua hasil karya kami pada Pace Dion tengik itu. Para turis masih menyukainya, bahkan toko Pace Dion semakin besar. Kami hanya bisa menggigit jari dari kejauhan.
Sebelum kembali ke dermaga, tengoklah rumah kecil yang dikelilingi pohon khombouw itu. Tuan akan melihat ibu Magda sedang merajut noken kesedihan di matanya. Duduklah barang sebentar di ruang tamunya yang sempit. Bawalah ikan segar dari danau Sentani kesukaan perempuan itu. Sambil memohon, mintalah dia menceritakan hidupnya dan Magda. Kami yakin dia sudah tak tahan lagi untuk membendung semua kepahitan itu sendirian.
Penantian Ibu
Ketika perayaan pengkabaran injil pada 1 Juli, Pulau Asei ini menjadi ramai. Kami semua bersukacita lalu mengunjungi gereja tua kami yang sederhana. Bangunan suci yang dibangun di tempat tertinggi itu merupakan tempat favoritku dan Magda di pulau ini. Senantiasa kami berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan. Berharap selalu tercurah berkah-Nya pada kami agar selamat menghadapi apa pun. Tanpa bertanya pun, sebenarnya aku sudah tahu satu doa kecil Magda yang tak pernah lekang: ingin bertemu dengan bapaknya.
Sesungguhnya peluh dan air mata ini selalu mengucur demi menanti putri semata wayangku yang malang itu. Tapi aku tak tahu kemana harus mencari Magda. Pace Dion bungkam saat aku dan warga desa menanyakan kemana para tentara itu menggiring Magda pergi seperti memaksa babi masuk kandang dengan kasar. Kami tak pernah tahu keadaan Magda yang sebenarnya: cacat atau sehat, bahkan hidup atau mati.
Lukisan kayu bermotif yoniki ialah favoritku dan Magda. Aku masih menyimpannya dan tak akan menjual satu-satunya kenangan kami yang tersisa. Tuan pasti terkejut ketika tahu lukisan itu bersanding dengan lukisan bendera separatis Papua. Bukan karena aku mendukung gerakan itu. Ini juga kusimpan sebagai bukti kelam penyebab Magda menghilang. Bukti fitnah paling keji yang pernah terjadi di desa ini. Jika orang selicik Pace Dion menemukan lukisan karya Magda itu dan melaporkanku ke pemerintah. Aku siap diringkus keluar dari pulau Asei dan dipertemukan dengan Magda. Magda memang suka melukis, dan aku membutuhkan uangnya untuk hidup sehari-hari. Dulu firasatku sempat melarang Magda  melukis kayu karena memang dilarang adat. Aku tak mau nasib sialku tertular padanya.
Tuan, anda pasti bertanya dimana suamiku? Dulu saat perayaan pengkabaran injil, seorang lelaki datang ke kampung ini untuk meliput acara besar itu. Usiaku delapan belas tahun ketika secara sembunyi-sembunyi aku sering mencuri kulit kayu, arang, bata, dan kerang untuk melukis di hutan. Aku tahu adat saat itu melarang tegas perempuan melukis kayu karena akan membawa penyakit baginya.
Aku bertemu lelaki bernama Johan itu di dekat gereja. Dia memotretku dengan kameranya. Benda berlensa itu membuatku kagum. Saraf bahagia dalam tubuhku terus terhisap olehnya ketika dia bilang berasal dari Jayapura dan belum pernah melihat perempuan secantik aku di tanah Papua. Kami langsung jatuh cinta. Orang tuaku setuju kami menikah. Sebulan kemudian kami jadi sepasang suami istri. Ketika Magda lahir, kami kehabisan uang karena bapak baru saja meninggal. Johan merindukan pekerjaannya sebagai wartawan di kota. Dia tidak punya bakat menjadi nelayan seperti kebanyakan lelaki di desa kami.
Dengan berat hati, ketika Magda berusia sebulan, lelakiku merantau ke kota. Sampai kini dia tak pernah kembali. Tak ada kabar, apalagi surat. Magda tak pernah tahu rupa bapaknya. Aku lebih banyak tutup mulut soal lelaki itu, bahkan sampai Magda juga pergi.
Aku sudah berhenti melukis kayu khombouw. Biarlah tuan-tuan menikmati lukisan-lukisan kayu karya warga desa yang dijual di toko Pace Dion. Belilah satu untuk oleh-oleh tuan. Agar tuan selalu mengingat bahwa di Sentani, kami tidak hanya menyimpan keindahan tapi juga selalu melukis penantian dengan tinta dari peluh dan air mata.

“Kami tak maksud jahat, tapi perempuan tua lebih suka mengunci pintu dan menjahit mulutnya dengan benang penyesalan. Kami iba tapi hidup kami juga harus tetap berlanjut”
Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Sejarah dan
 Juara I Cerpen Kompetisi Kepenulisan Majalah Komunikasi UM 2017

Bagikan informasi ini: