Narasi Perempuan setelah Hujan

oleh Asri Ismail

Perempuan adalah puisi.
Ia yang menciptakan telaga kata.
Dan saat hujan turun, kita yang tak sanggup
menahan gerimisnya.
Lupa pada kata-kata.

Perempuan adalah doa.
Ia yang hadir di setiap lekuk tubuh.
Dan saat hujan turun, kita yang pura-pura melepaskan
dengan tangan menengadah.
Mengintai cemara di matanya.

Perempuan adalah rindu.
Ia yang mengawal kecemasan.
Dan saat hujan turun, kita yang mencabut debar
di dadanya.

Perempuan adalah senja.
Ia yang tak luput dari pandangan, menghuni kalbu.
Dan saat hujan turun, kita melepas lensa dari sorotnya.
menghapus rintik di potretnya.

Perempuan adalah kasih sayang.
Ia yang meracik kopi, meluapkan dahaga dari segala resah.
Dan saat hujan turun, kita yang tak henti meminta kecupan,
menyembunyikan hasrat dari tirai.

Perempuan adalah hujan. Ia membanjiri kenangan dan harapan.
Dan setelah hujan turun, kita belajar dari perempuan,
bahwa keindahan bersumber dari kerumitan.

Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Sastra Indonesia dan
Juara I Puisi Kompetisi Kepenulisan Majalah Komunikasi UM 2017

Bagikan informasi ini: