Organisasi Daerah Unjuk Gigi di Festival Nusantara

20171109_140742

Sebagai upaya memperkenalkan budaya dari berbagai daerah kepada masyarakat, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Negeri Malang (BEM UM) mengadakan Festival Nusantara (Fenus) yang bertempat di depan Graha Rektorat UM selama dua hari (08-09/11). Acara ini merupakan program kerja dari BEM UM dari tahun ke tahun. Pengadaan acara ini selaras dengan slogan UM, yakni “The learning university”.


BEM UM berinisiatif mengangkat budaya-budaya yang mungkin sekarang sudah mulai dilupakan oleh kaum muda. Hal ini sesuai dengan tema dari Festival Nusantara tahun ini, yaitu “Jayalah Negeriku, Lestari Budayaku”. Setidaknya ada beberapa serangkaian acara pada Fenus kali ini, yaitu bazar, parade, fashion show, penampilan dari organisasi daerah, dan lensa nusantara.
Setiap daerah pasti memiliki ciri khas masing-masing, misalnya kuliner antardaerah satu dengan daerah lain yang  berbeda. Pada Festival Nusantara inilah masing-masing organisasi daerah bisa menjajakan kulinernya melalui bazar. Di bazar, tidak hanya menjajakan kuliner saja, peserta juga diperbolehkan menonjolkan sesuatu yang unik dari daerahnya masing-masing, seperti pakaian adat daerah dan kesenian daerah. Misalnya dari Ponorogo  yang menampilkan budaya reog. Selain bazar, ada pula parade. Parade ini bertujuan untuk menunjukkan kepada masyarakat UM maupun luar UM bahwa di depan Graha Rektorat sedang berlangsung kegiatan kebudayaan nusantara.
Acara Festival Nusantara ini mengajak organisasi daerah (orda) untuk memperkenalkan budaya masing-masing. Mulai dari Banyuwangi, Kepulauan Riau, Bima, Ponorogo, dan lain-lain. Penampilan organisasi daerah tidak dibatasi pada ranah kesenian saja, akan tetapi juga pada ciri khas yang ditampilkan dari daerah masing masing yang menggambarkan tentang daerahnya.
Festival Nusantara diakhiri dengan acara lensa nusantara.  Lensa nusantara menampilkan hasil fotografi, baik kuliner dan wisata dari masing-masing daerah. Acara ini memang dikhususkan untuk organisasi daerah dan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi daerahnya. Namun warga UM maupun luar UM diperbolehkan meramaikan acara. Karena acara ini memberikan banyak dampak positif, salah satunya memperbanyak pengetahuan tentang khazanah budaya daerah.
“Harapan saya di sini untuk mahasiswa yang hadir bisa mengetahui keragaman budaya yang satu dengan budaya yang lain. Kedua yakni untuk organisasi daerah yang sudah mengikuti bisa menjalin silaturahim dengan daerah-daerah lain karena kita adalah mahasiswa. Kita butuh komunikasi yang baik, baik itu dari universitas sendiri maupun universitas yang lain mengenai kebudayaan,” ujar Muhammad Wildan, Ketua Pelaksana  Festival Nusantara.
Adapun kesan pesan dari salah satu peserta Festival Nusantara datang dari komunitas mahasiswa Bima. “Kami dari komunitas mahasiswa Bima sendiri bukan bermaksud untuk juara, namun untuk mengenalkan Bima secara umum. Karena ingin Bima dikenal sebagai bagian Nusa Tenggara Barat (NTB), bukan dari Nusa Tenggara Timur (NTT),” ujar Kammil, Ketua Komunitas Mahasiswa Bima.
Selain menunjukkan eksistensinya, peserta Fenus juga berkompetisi untuk meraih juara. Pemenang Festival Nusantara dari kategori Lensa Nusantara diraih oleh  Ikatan Mahasiswa Jombang (IMJ), kategori  Pawai Budaya diraih oleh Ikatan Mahasiswa Banyuwangi (Ikawangi), dan kategori bazar atau stand diraih oleh orda Aceh. Sedangkan untuk juara umum yang pertama diraih oleh Ikawangi dan kedua diraih oleh orda dari Probolinggo.Cintya

Bagikan informasi ini: