Guru Budi Tetap Abadi

Kamis (08/02) Universitas Negeri Malang (UM) menggelar peringatan dan doa bersama untuk almarhum guru Budi. Kepergian Ahmad Budi Cahyanto, S.Pd. yang merupakan alumni UM Fakultas Sastra, Pendidikan Seni Rupa angkatan 2009 dan lulus tahun 2014 ini telah meninggalkan luka yang mendalam bagi dunia pendidikan Indonesia.IMG_6426

Berdasarkan hal tersebut, UM menggelar doa bersama. “UM mengungkapkan rasa duka yang mendalam seiring doa semoga almarhum mendapat tempat yang baik dan ilmu yang terus mengalir dan bermanfaat. UM mengutuk keras peristiwa menurunnya penghormatan terhadap pendidikan. UM menggelar aksi peringatan dan doa bersama agar guru Budi tetap abadi di dunia pendidikan Indonesia,” tutur Dr. Syamsul Hadi, M.Pd., M.Ed., Wakil Rektor III.
Meninggalnya guru Budi menyisakan keprihatinan mendalam. Khususnya di lingkungan pendidikan. Indonesia yang menjunjung budaya sopan santun antara murid kepada guru, kini tercoreng akibat peristiwa tersebut. “Mudah-mudahan ini bukan fenomena gunung es. Apakah sudah sebegitu jauh seorang murid kehilangan hormatnya kepada guru? Apakah sudah sebegitu jauh anak-anak tidak menyadari pentingnya menghormati ilmu pengetahuan? Pentingnya menghormati orangtua, pentingnya menghormati guru,” tambah Wakil Rektor III tersebut. Ia lantas mengusulkan dibentuknya peraturan mengenai perlindungan, bukan sekadar perlindungan fisik, tetapi juga profesi.
Lantunan zikir memenuhi seisi Gedung Sasana Budaya. Setiap mahasiswa yang hadir tertunduk, khusyuk memanjatkan doa kepada guru Budi. Setidaknya 75 mahasiswa dari setiap fakultas hadir dalam peringatan ini. “Terdapat lebih dari 300 mahasiswa yang hadir dalam aksi peringatan ini, terdapat juga penggalangan dana peduli guru Budi yang akan diserahkan kepada keluarga guru Budi. Dari Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Sastra (BEM FS) telah ada perwakilan yang datang ke Madura. Dalam peringatan ini akan ada pernyataan sikap deklarasi dari BEM FS dan doa bersama yang akan dipimpin oleh Dr. H. Moh. Khusyairi, M.Pd. dan pembacaan puisi oleh M. Leo Zaini, S.S. M.Pd.,” tutur Dr. H. Kholisin, M.Hum.  selaku Wakil Dekan III FS.
Pembacaan puisi yang berjudul Obituari Guru Budi karya Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd. oleh M. Leo Zaini menjadi cerminan untuk kita semua betapa adab sangat penting ketika mencari ilmu. “Saya yang mengunggah melalui artikel yang berjudul Pak Budi Memilih Jadi Guru dan Khusnul Khotimah. Di dalam artikel tersebut terdapat puisi karya Prof. Djoko. Saya menulis mengenai pilihan guru Budi menjadi guru yang berperang menghadapi musuh, akhirnya Pak Budi mati syahid tetapi beliau akan tetap abadi. Kita krisis keteladanan. Murid tidak dibekali adab saat menuntut ilmu,” ujar M. Leo Zaini selaku pembaca puisi. Puisi Obituari Guru Budi yang diiringi biola menambah khidmat acara ini yang bertepatan dengan tujuh hari kepergian beliau.
Guru Budi dikenal sebagai mahasiswa yang pandai bermain biola. Sayang, biolanya terpaksa harus dijual karena keterbatasan biaya saat penyusunan skripsi. Guru Budi memiliki keinginan untuk memiliki biola itu kembali, tetapi biola kesayangan guru Budi gagal dimiliki lagi, karena nyawa guru Budi yang terlebih dahulu melayang. “Sebenarnya waktu beliau mau skripsi ada kendala keterbatasan biaya, sehingga beliau menjual biolanya. Kebetulan yang membeli biola teman saya yang di Jakarta. Membeli biola dengan transaksi seandainya guru Budi punya uang biola tersebut akan ditebus lagi,” tambah M. Leo Zaini.Amey

Bagikan informasi ini: