Lisa Ramadhani Harianti, Ketagihan Ikut Debat

Lisa Ramadhani Harianti, mahasiswa Jurusan Sastra Inggris, bersama rekannya dari Jurusan Teknik Elektro, Feri Kurniawan, membawa nama UM ke kancah internasional. Kecintaannya dengan debat banyak membuahkan hasil meskipun kegagalan turut mewarnainya. Hingga  salah satu ajang bergengsi di bidang debat, yakni NUDC, menjadi tiketnya ke World Universities Debating Championship (WUDC) dengan biaya seluruhnya dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti). Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa akhir, kru Komunikasi berkesempatan untuk mewawancarainya. Berikut rangkuman wawancara dengan Lisa.


Bagaimana pengalaman Anda ketika mengikuti NUDC dan WUDC?
NUDC seru, karena kompetisinya benar-benar ketat. Sebelum NUDC ada seleksi di tiap provinsi jadi yang di sana (NUDC, red.) pada jago semua. Topik debat juga beragam, mulai ekonomi, politik, minoritas, hukum, dan sebagainya. Jadi lombanya itu selama seminggu. Seminggu itu deg-degan terus penasaran dengan round lombanya. Kalau WUDC, semakin asyik lagi. Selain lawan-lawannya yang lebih beragam, kebanyakan peserta dari negara native seperti Amerika dan negara-negara Eropa, tema debatnya juga lebih spesifik.
Waktu WUDC di Mexico, di sana lagi musim dingin. Jadi kita nggak cuma memikirkan tema-tema debatnya, tapi juga cara bertahan agar tetap sehat di sana karena suhu bisa sampai 10 derajat atau bahkan di bawah itu selama seharian dan tingkat oksigennya juga tipis. Jadi kadang kita case building dengan tangan kaku karena dingin atau sambil kehabisan napas karena harus cari gedung yang jauh dan oksigennya tipis.
Saat WUDC, kita juga beberapa kali bertemu dengan tim-tim gede di debat  seperti Oxford, St. Andrew, Australia, dan masih banyak lagi. Jadi kita tahu perspektif mereka dalam sebuah masalah, kita juga tahu cara juri luar negeri menilai debatnya.
Pelajaran apa yang Anda ambil di kedua kompetisi tersebut?
Pelajarannya, kita masih perlu dukungan maksimal dan continues dari kampus, karena dalam debat jam terbang ikut kompetisi itu sangat penting. Mungkin ke depannya kita bisa ikut lebih banyak kompetisi baik di luar maupun di dalam negeri agar lebih terbiasa menghadapi berbagai macam lawan dan lebih mengerti standar-standar penilaian dari dewan juri.
Penilaian juri di luar negeri seperti apa?
Sebenarnya mirip. Kalau di kompetisi luar negeri harus banyak memberi contoh. Contohnya tidak bisa kasus-kasus di Indonesia.
Apa motivasi Anda mengikuti NUDC?
Ikut NUDC karena ingin tambah pengalaman, menambah temen. Apalagi NUDC itu kompetisi paling bergengsi untuk anak-anak debat.
Menurut Anda, yang menarik dari debat itu apa?
Sejak SMA, aku sudah ikut debat. Serunya di debat itu banyak. Dari debat, aku jadi banyak tahu tentang yang sedang terjadi di dunia, bukan cuma berita yang lagi viral, tapi yang nggak viral juga dibahas. Terus kita jadi belajar melihat segala masalah dari banyak perspektif dan orang-orang di dunia debat itu hampir semuanya open minded. Jadi enak kalau ngobrol-ngobrol dan temenan dengan mereka. Selain itu, juga bisa latihan public speaking. Di debat kita juga belajar berpikir dan berbicara secara terstruktur, jadi bantu banget buat kuliah.
Apa tips Anda agar lolos ke NUDC dan WUDC?
Tipsnya banyak latihan, rajin baca berita, dan artikel internasional.
Apa yang Anda lakukan untuk memberikan dampak positif untuk mahasiswa lain?
Dampak positif yang aku rasa sudah kuberikan mungkin lebih ke anak-anak UM yang ada di Valiant. Soalnya banyak pengalamanku yang sesuai dengan yang mereka butuhkan. Jadi aku lebih bisa bantu-bantu mereka latihan dengan topik-topik debat yang mungkin mirip dengan topik debat di lomba yang aku pernah ikut, dan memberikan motivasi ke mereka untuk terus latihan agar bisa tampil maksimal di kompetisi mendatang.
Pesan untuk mahasiswa UM?
Mungkin lebih sering baca-baca berita dan beritanya mungkin yang bervariasi agar perspektifnya beda-beda. Cobalah ikut debat, nanti pasti ketagihan.Shintiya

Bagikan informasi ini: