Menapaki Jalan Kehidupan

Judul Buku    : Menggapai Cita-cita Imajiner
Penulis         : Sonny Asmara
Penerbit         : UM Press
Tahun terbit     : 2017
Tebal         : x + 209 halaman

oleh : Shintiya Yulia Frantika

“Pantang tolak tugas, pantang kerja tak selesai”. Begitu cuplikan kutipan dalam buku yang tulis oleh Sonny Asmara. Pemilik nama asli Ahmad Sonhadji Kosim Hasan ini adalah seorang guru besar dari Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang (UM).  Jika dilihat, sampul buku terkesan kurang menarik, malah cenderung biasa sekali. Akan tetapi, dengan ketebalan yang pas yakni 209 halaman, tidak terlalu tipis dan tebal, pembaca dapat segera menuntaskan penasarannya tentang akhir cerita dari Menggapai Cita-cita Imajiner ini.

IMG_6358
Menggapai Cita-cita Imajiner mengisahkan tentang seorang Yugo Aji kecil yang berasal dari desa terpencil hingga ia dewasa berhasil menjadi orang besar. Masa kecilnya tidak berbeda jauh dengan bocah desa lainnya. Sejak kecil, Yugo Aji sudah menunjukkan kepandaiannya. Yugo berhasil menjadi juara ujian negara se-kecamatan yang kala itu masih Sekolah Rakyat. Dia pun bukan orang yang gengsian. Menjadi calo cilik ia lakoni dengan senang hati. Dari hasil menjadi calo cilik, dia diberi satu tiket masuk untuk menonton. Menurutnya, menjadi calo cilik ia lakoni untuk belajar mengalami dan menghayati bagaimana orang kecil berjuang mencari uang. Ketika itu dia masih duduk dibangku SMP.
“Masuk ke situasi baru, kebiasaan baru, dan budaya baru. Orang bisa mengalami keterkejutan. Orang bisa mengalami tekanan dalam menghadapi tantangan. Akan tetapi, keterkejutan bisa dicegah, tekanan bisa ditangkal. Manakala orang sabar dan tawakal”. Begitu Yugo Aji bersikap ketika ia harus pindah ke sekolah yang lebih disiplin saat SMP sebab bapaknya dipindahtugaskan.
Setelah lulus SMP, Yugo melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Dia harus dihadapkan pada dua pilihan sekolah, antara STM atau SMA. Karena kebimbangannya tersebut, pada akhirnya ia lakoni keduanya. Kehidupan pesantren turut mewarnai masa-masa SMA. Tidur beralaskan tikar dan makan gembul dengan teman-teman pesantren menjadi keasyikan tersendiri.
Sebagai mahasiswa, ia bukan tergolong mahasiswa yang kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang). Bahkan bisa dikatakan Yugo Aji mahasiswa yang superaktif. Masih menyandang status mahasiswa, ia sudah mengajar di sekolah, terjun menjadi aktivis intra-universitas sampai ekstra-universitas, keagamaan, kewartawanan dan pecinta alam. Di kala liburan, ia menjajakan pakaian ketika menjelang Idul Fitri.
Tidak berhenti sampai di situ, usai lulus kuliah Yugo menerima tawaran untuk menjadi wakil kepala sekolah di usianya yang masih terbilang muda. Dia terus menapaki tangga kehidupan. Melanjutkan pendidikan magister di Ohio State University sekaligus melanjutkan untuk memperoleh gelar Ph.D.
Kariernya semakin cemerlang. Menjadi dekan selama dua periode berturut-turut, kemudian diangkat menjadi guru besar dan menjadi konsultan pendidikan di Departemen Agama RI yang didanai oleh Asian Development Bank (ADB). Sebagai konsultan, Yugo harus berkeliling hampir ke semua MAN Model dan Pusat Sumber Belajar Bersama (PSBB) di seluruh Indonesia. Melibas medan yang sukar tak enggan diterjang demi menuju sekolah yang letaknya di tengah hutan. Tak jarang banyak bahaya yang menghadang. Namun, semua itu berhasil dilalui dengan baik atas ridho-Nya.
Buku yang diterbitkan tahun 2017 tersebut terdiri atas sembilan bagian cerita. Bisa dikatakan, buku ini merupakan autobiografi dari si penulis sendiri. Penulis menuturkannya dengan ringan dan sangat lugas. Sekali duduk membaca, pembaca tidak akan merasa telah berhasil menuntaskannya.
Sangat disayangkan ada beberapa istilah lama yang kurang dijelaskan oleh penulis sehingga pembaca dari kalangan anak muda akan kebingungan dengan istilah tersebut. Serta ada beberapa singkatan yang kurang familiar namun tidak dijelaskan kepanjangannya.
Meskipun begitu, membaca buku ini mengajarkan kita untuk hidup dengan kesederhanaan. Semangat untuk bertanggungjawab mengemban amanah tercemin jelas dalam buku ini. Banyak nilai-nilai kehidupan serta spirit untuk terus menggapai cita-cita setinggi mungkin, sehingga sangat perlu dibaca oleh anak muda zaman now.
Penulis adalah mahasiswa S-1 Jurusan Akuntansi,
Universitas Negeri Malang

Bagikan informasi ini: