Sang Pelaku Kreatif Pengabdi Pendidikan

Menapak ke kediamannya yang asri dan sejuk di tengah-tengah Kota Malang, sambutan ramah dan humble ditunjukkan oleh seorang dosen kawakan Fisika bernama Winarto. Salah satu peraih penghargaan World Invention Creativity Contest (WICC) dari Korea University Invention Association (KUIA) ini kini tak lagi muda. Salah satu karyanya yang tembus ke kancah internasional yakni prinsip cara generator dengan konsep fisika sederhana menggunakan barang-barang bekas. Cukup dengan tempat oli bekas dan papan kursi kayu, sebuah karya tercipta apik dan berdaya guna di tangan Pak Win, sapaan akrabnya.


Usia boleh kepala enam, tapi nyali untuk berkarya masih menggelora. Dosen Fisika UM yang layak dijuluki sebagai dosen segudang inspirasi ini memiliki karya-karya bombastis yang dihasilkan untuk membantu para guru dan mahasiswa. Ia adalah salah satu dosen yang berhasil membongkar gudang Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) ketika UM masih menjadi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP). Dalam gudang tersebut terdapat barang bekas hibah dari Amerika. Itulah salah satu batu loncatan Pak Win ketika melihat rongsokan yang kata orang minim daya jual. Di tangan beliau, rongsokan itu bisa bernilai lebih untuk pelaksanaan pendidikan kreatif.
Ada satu ruangan di rumah untuk workshop karya-karyanya. Mulai dari miniatur proses gerhana bulan dan matahari 3D, lensa loop menarik, teleskop mini, pengaplikasian hukum pascal, generator, dan masih banyak karya lain yang terbuat dari bahan bekas yang ramah lingkungan. “Ini nantinya jadi warisan saya yang bisa diterapkan. Banyak yang nyuruh meng-HAKI-kan (Hak Atas Kekayaan Intelektual, red.), tapi menurut saya buat apa. Ini kan ilmu Allah, kenapa harus diperjualbelikan, bikin standar jadi diri sendiri,” kenang Winarto. Ia juga menuturkan, kasihan jika di-HAKI-kan, nanti jika ada orang yang mengadopsi ide ini akan bingung mencari-cari saya untuk meminta izin. Menurutnya, biarlah dipakai oleh siapapun dan bisa bermanfaat. “Kenapa membuat alat-alat ini ya untuk mempermudah pemahaman, kalau science itu gampang, nggak perlu matik-matik (matematika, red.) dulu, lihat proses baru pusing memikirkan perhitungan. Saya kira lebih mudah untuk anak-anak belajar,” jelas Winarto.
Sosok yang juga memiliki jiwa seni tinggi ini dibuktikan dengan beberapa ornamen di dinding ruang tamunya. Lukisan dan wayang pun hasil kreasi tangannya. “Kalau senggang masih sempat nglukis biar ada hiburannya,” kata bapak dua putra tersebut. Lukisan yang mendominasi ruangan ini diselingi dengan pemandangan wayang di sisi tembok dan sudut ruangan. Bukan hanya wayang punakawan yang ia usung, ada pula Einstein, ibu guru dan apak guru, serta siswa. Wayang-wayang tersebut berpadu dengan apik di ruangan. Ternyata bukan hanya untuk pajangan saja, melainkan sebagai salah satu media Pak Win untuk mengajar di sekolah-sekolah.
Pak Win juga bersedia menampilkan cerita pewayangan yang sesuai dengan siswa SD ketika diminta untuk mempertunjukkan. “Hai anak-anak, namaku Qorin, ‘bukaaaaan itu gareng,’ kalian masih jawa banget, nama lainnya petruk sebenarnya Qorin, kenapa Qorin jalannya susah? Karena apapun biar berjalan dengan hati-hati nggak ceroboh dan grusah-grusuh,” itulah sepenggal kisah yang dituturkan Pak Win dengan intonasi yang menggemaskan sembari kedua tangganya memainkan wayang. “Kepuasan batin tersendiri ketika mengajar, kalau pingin kaya jadi pengusaha saja,” tutur lembut yang terucap dari Winarto.
Winarto menggenggam filosofi punakawan dalam dirinya untuk mengembangkan pendidikan dan menerapkannya. “Layaknya Semar sebagai simbolis tercipta, Qorin atau gareng bermakna bahasa, Petruk yakni karso atau kerja, dan bagong sebagai wujud karya,” jelas Winarto. Perpaduan tokoh punakawan dimaknai oleh Winarto sebagai satu kesatuan yang utuh dan bisa diambil pesannya. Ia pun mengaplikasikan dalam hidupnya dengan selalu menciptakan karya-karya agung di bidang pendidikan dan seni dengan retorika yang apik melalui kerja keras yang sesungguhnya. Terbukti, Winarto memiliki banyak karya dalam bidang edukasi, seni, dan jejaring dengan diplomasinya yang bagus.
Winarto sempat menjadi guru sekolah Indonesia di Arab Saudi pada era 80-an. Ia menjadi guru multitalent untuk para siswa anak pejabat Indonesia yang ada di tanah suci. Mulai dari science, bahasa, maupun seni. Ia dipercaya pula menampilkan tarian tradisional Indonesia di Kerajaan Arab Saudi. “Saya menampilkan tari piring yang baru dipelajari di sana dan mulai belajar musik bersama siswa ketika akan ada pertunjukan,” kenang eyang berusia 61 tahun tersebut. Winarto pun menjelaskan sembari meraih gitar di sebelah kursinya. Beliau sedikit nembang dan nggenjreng untuk membuktikan keahliannya. “Sering main bareng dengan anak laki-laki saya kalau di rumah,” jelasnya.
Darah seninya mengalir dan diturunkan ke anak laki-lakinya. Kreativitas membuat media menjadi salah satu skill yang menular pada anak perempuannya. Napas kreatif dan berdaya seni ternyata tidak lepas dari kisah masa lalunya. Winarto yang berasal dari tanah Jawa ini harus ikut keluarga besar merantau ke Sumba untuk menemani sang nenek sebagai koki tentara Jepang pada zamannya. Winarto kecil sudah ikut bekerja ayahnya yang mempunyai persewaan lampu sokle untuk pertunjukan wayang maupun kegiatan kemasyarakatan. Maklum, tahun 60-an Indonesia masih belum merata jaringan listriknya sehingga lampu sokle menjadi salah satu penolong. Dari hal tersebut, Winarto selalu menikmati pagelaran tradisional dan budaya setempat. Belajar dari mengamati dan menikmati proses dengan tidur di bawah alat-alat musik seperti gendang. Hal ini membuat Winarto tumbuh dengan keberanian dan jiwa seni yang tinggi. Di usia remaja ia telah berhasil membuat pagelaran wayang tunggal dengan peralatan sederhana di Sumba. “Dulu saya membuat pementasan wayang yang mau nonton silakan bayar karet gelang atau kemiri kalau lagi musim. Lumayan bisa buat masak orang rumah,” kenangnya sambil tertawa. Insting Winarto yang kuat telah terasah sedari kecil untuk melihat peluang dalam mengembangkan diri maupun efektivitas ekonomi yang terbatas. “Kondisi yang terbatas buat saya lebih kreatif. Sudah bisa gambar dari dulu dan berani buat wayang-wayangan untuk pertunjukan,” tutur putra Nganjuk tersebut.
Wayang-wayang sederhana hasil karya Winarto bukan hanya dari hasil gambar buatannya sendiri atau kulit pada umumnya. Salah satunya adalah wayang suket yang ia ciptakan. “Saya sempat kaget waktu wayang suket sangat terkenal dan pernah bilang ‘itu dulu saya juga sudah buat sebelum terkenal saat ini’,” kenang Winarto dengan intonasi yang berubah dan menekan.

Winarto menggenggam filosofi punakawan dalam dirinya untuk mengembangkan pendidikan dan menerapkannya. “Layaknya Semar sebagai simbolis tercipta, Qorin atau gareng bermakna bahasa, Petruk yakni karso atau kerja, dan bagong sebagai wujud karya,” jelas Winarto. Perpaduan tokoh punakawan dimaknai oleh Winarto sebagai satu kesatuan yang utuh dan bisa diambil pesannya. Ia pun mengaplikasikan dalam hidupnya dengan selalu menciptakan karya-karya agung di bidang pendidikan dan seni dengan retorika yang apik melalui kerja keras yang sesungguhnya. Terbukti, Winarto memiliki banyak karya dalam bidang edukasi, seni, dan jejaring dengan diplomasinya yang bagus.
Winarto sempat menjadi guru sekolah Indonesia di Arab Saudi pada era 80-an. Ia menjadi guru multitalent untuk para siswa anak pejabat Indonesia yang ada di tanah suci. Mulai dari science, bahasa, maupun seni. Ia dipercaya pula menampilkan tarian tradisional Indonesia di Kerajaan Arab Saudi. “Saya menampilkan tari piring yang baru dipelajari di sana dan mulai belajar musik bersama siswa ketika akan ada pertunjukan,” kenang eyang berusia 61 tahun tersebut. Winarto pun menjelaskan sembari meraih gitar di sebelah kursinya. Beliau sedikit nembang dan nggenjreng untuk membuktikan keahliannya. “Sering main bareng dengan anak laki-laki saya kalau di rumah,” jelasnya.
Darah seninya mengalir dan diturunkan ke anak laki-lakinya. Kreativitas membuat media menjadi salah satu skill yang menular pada anak perempuannya. Napas kreatif dan berdaya seni ternyata tidak lepas dari kisah masa lalunya. Winarto yang berasal dari tanah Jawa ini harus ikut keluarga besar merantau ke Sumba untuk menemani sang nenek sebagai koki tentara Jepang pada zamannya. Winarto kecil sudah ikut bekerja ayahnya yang mempunyai persewaan lampu sokle untuk pertunjukan wayang maupun kegiatan kemasyarakatan. Maklum, tahun 60-an Indonesia masih belum merata jaringan listriknya sehingga lampu sokle menjadi salah satu penolong. Dari hal tersebut, Winarto selalu menikmati pagelaran tradisional dan budaya setempat. Belajar dari mengamati dan menikmati proses dengan tidur di bawah alat-alat musik seperti gendang. Hal ini membuat Winarto tumbuh dengan keberanian dan jiwa seni yang tinggi. Di usia remaja ia telah berhasil membuat pagelaran wayang tunggal dengan peralatan sederhana di Sumba. “Dulu saya membuat pementasan wayang yang mau nonton silakan bayar karet gelang atau kemiri kalau lagi musim. Lumayan bisa buat masak orang rumah,” kenangnya sambil tertawa. Insting Winarto yang kuat telah terasah sedari kecil untuk melihat peluang dalam mengembangkan diri maupun efektivitas ekonomi yang terbatas. “Kondisi yang terbatas buat saya lebih kreatif. Sudah bisa gambar dari dulu dan berani buat wayang-wayangan untuk pertunjukan,” tutur putra Nganjuk tersebut.
Wayang-wayang sederhana hasil karya Winarto bukan hanya dari hasil gambar buatannya sendiri atau kulit pada umumnya. Salah satunya adalah wayang suket yang ia ciptakan. “Saya sempat kaget waktu wayang suket sangat terkenal dan pernah bilang ‘itu dulu saya juga sudah buat sebelum terkenal saat ini’,” kenang Winarto dengan intonasi yang berubah dan menekan.
Tidak salah jika Winarto mengaplikasikan pendidikan dengan pendekatan budaya. Mulai dari tokoh pewayangan yang berada di sekolah yang ia bina hingga karya-karyanya yang menjunjung kearifan lokal sebagai wajah pendidikan. “K-13 salah satu wujud budaya tasawuf yang dirintis oleh M. Nuh,” tegas Winarto. Jika K-13 diaplikasikan, hal tersebut merupakan cerminan dari transformasi budaya yang dileburkan dalam sistem pengajaran.
Obrolan ringan dan berbobot bersama Pak Win tak terasa sebab kami sembari mengenang memori masa muda dengan album kuno yang ia suguhkan. “Saat ini saya masih ingin membuat galeri sendiri di halaman rumah. Biar orang datang dan saya menjadi guide-nya,” tutur Winarto penuh harap dan optimis sembari berjalan menuju pintu gerbang menemani saya menunggu ojek di seberang Kantor Kelurahan Sumbersari.ArniIMG_4388

Bagikan informasi ini: