Sulap Buah Lindur Jadi Penangkal Gizi Buruk

Di tangan dua mahasiswa Ilmu kesehatan Masyarakat (IKM) UM, buah lindur yang semula kurang dimanfaatkan ternyata mengandung gizi yang baik. Buah lindur merupakan buah yang dihasilkan dari tanaman pohon bakau. Muhammad Dwi Hidayatullah dan Fariha Mariroh membuktikannya dengan mengolah buah lindur untuk bubur balita.

P_20171216_161101
Ide tersebut mengantarkan dua mahasiswa IKM untuk meraih juara pertama dalam Call For Paper yang diadakan oleh Fakultas Kedokteran, Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Lomba yang diselenggarakan selama dua hari ini (15-17/12), tidak hanya untuk kalangan  mahasiswa, melainkan diikuti mulai dari SMA hingga praktisi. Call For Paper tersebut menggabungkan antara kepemimpinan, ilmiah, dan kewirausahaan. Selain meraih juara pertama, paper mereka juga akan dipublikasikan dalam prosiding yang memiliki International Standard Book Number (ISBN).
Keberhasilan mereka juga didukung oleh PT Maju Pesat Berkah yang diwakili Ahmad Farid Ary Wardhana, S.Pi. serta CV Monutri Berkah Sukses. “Berpartner dengan PT Maju Pesat Berkah dan CV Monutri Berkah Sukses semakin memperkuat kami di bidang enterpreunership,” ungkap mahasiswa yang biasa dipanggil Dayat tersebut. “Pesaing kami bahkan penjualan produknya sudah melebihi kami, akan tetapi dari segi ilmiah mereka kalah,” tambah mahasiswa angkatan 2013 tersebut.
“Kami mengombinasikan tepung tempe dan rasa-rasa. Jadi kami mengombinasikan potensi yang ada di Malang maupun yang ada di Jawa Timur,” papar Duta Kampus UM 2015 tersebut ketika ditanya caranya untuk mengatasi rasa buah lindur yang tidak enak. Bubur Lindur (Bulin) mempunyai empat varian rasa, yakni pisang, stroberi, original, dan nabati. Rasa nabati diperuntukkan bagi balita yang alergi dengan susu hewani. Ada dua versi kemasan, yakni kemasan 40 dan 120gr yang dihargai Rp5.000,00 dan Rp13.000,00. “Kami juga pernah terjun untuk uji coba pasar di posyandu-posyandu,” kata mahasiswa yang pernah membuat biskuit dari daun kelor tersebut. Bubur dari buah tanaman bakau tersebut dapat dikonsumsi oleh balita mulai usia enam bulan ke atas.
Dayat bersama timnya tidak menggunakan tepung beras dalam pembuatannya karena apabila diberikan terlalu banyak ke balita dapat membuat obesitas. Dengan buah lindur, meskipun diberikan sebanyak apapun masih bisa dikontrol. Buah lindur bukan termasuk buah musiman, sehingga tidak harus menunggu musim untuk diproduksi. “Kami tidak menggunakan bahan pengawet maupun penambahan zat gizi, sehingga ketahananya hanya satu tahun,” tutur mahasiswa yang tergabung dalam tim riset Pemkot Malang. Buah lindur sudah cukup kandungan gizinya. Keunggulan lainnya, Bulin sangat aplikatif dan berpotensi ditanam di lahan basah Jawa Timur yang sangat luas, contohnya saja di Surabaya, Trenggalek, Probolinggo, dan masih banyak lagi.
Buah yang memiliki nama latin Bruguiera Gymnorrhiza tersebut juga bisa dibuat tepung. “Karena angka kurang gizi di Indonesia masih tinggi, maka kami mengolah buah lindur ini sebagai bubur,” jelas laki-laki asal Palembang. Adanya Bulin, diharapkan dapat memperbaiki gizi balita dengan harga yang terjangkau. Cukup diseduh dengan air hangat, bulin sudah dapat dinikmati. “Cocok sekali dengan yang tidak suka ribet,” pungkasnya.Shintiya

Bagikan informasi ini: