Surat Keadilan

Mega merah mulai menghiasi langit kala itu. Ketika seorang gadis belia berdiri di ambang pintu sambil menatap wajah sendu seorang ibu yang tengah berduka. Dia menekan dada kirinya yang terasa sangat sakit, bagai diimpit bongkahan batu. Di kejauhan, tampak seorang wanita paruh baya sedang terduduk lesu pada sebuah bangku rotan yang telah reot. Matanya yang merah dan sembab tak berhenti menitikkan air mata.

Sketsa Surat Keadilan copyKeriput di wajahnya tampak semakin nyata dengan baju lusuh yang dikenakannya. Seorang wanita lain, yang tampak sedikit lebih muda darinya, mencoba untuk menenangkannya,
“Yang sabar, ya Mbok Asih. Yang ikhlas. Biar Nida tenang. Pandongane wae, kareben padang dalane, jembar kubure,” kata wanita itu.
“Nida itu unting-unting, cuma dia yang kupunya setelah bapake seda, duh Gusti kulo mboten kuwawa,” kata wanita yang dipanggil Mbok Asih itu sambil tak henti-hentinya menitikkan air mata.
Semua orang yang datang melayat memandang Mbok Asih dengan iba. Mereka tak menyangka, Nida, gadis cantik yang sangat sopan dan juga cerdas, telah menghadap Sang Pencipta dengan cara yang tragis. Gadis di ambang pintu itu juga hanyut dalam birunya suasana sore itu. Masih segar di ingatannya, bagaimana orang-orang berperut buncit itu berlaku sewenang-wenang di desanya. Mereka datang dengan janji-janji manis, membangun pabrik demi kemakmuran penduduk setempat. Namun semua itu hanya fatamorgana. Apa yang terjadi setelah pabrik itu berdiri tidaklah seindah yang diharapkan. Limbah mulai mencemari lingkungan sekitar, mata air jadi keruh, udara tak lagi sejuk, dan suara deru mesin yang tak berhenti-henti dari pagi hingga pagi lagi. Penduduk sekitar juga diperalat sebagai pekerja dengan upah yang sangat minim dan tanpa asuransi kecelakaan kerja.
Pak Warto, suami Mbok Asih, adalah salah satu di antara sekian banyak penduduk yang bekerja sebagai buruh di pabrik itu. Beliau dipaksa bekerja keras, bahkan sering lembur di usianya yang sudah senja hingga suatu hari beliau mengalami kecelakaan kerja. Alih-alih menanggung biaya pengobatan Pak Warto, pihak perusahaan justru meminta ganti rugi atas mesin yang rusak saat kecelakaan tersebut terjadi. Melihat kejadian itu, Nida naik pitam. Dengan tegas dan lantang dia meminta keadilan untuk bapaknya, bahkan Mbok Asih sampai memohon belas kasihan dari  mereka. Tetapi manusia-manusia keji itu justru melempar kedua wanita itu keluar bak seekor binatang liar.
Keterbatasan ekonomi membuat Pak Warto tidak sanggup berobat ke dokter dan akhirnya beliau hanya diobati dengan pengobatan tradisional seadanya. Beliau tetap berusaha untuk bekerja di ladang tetangga meskipun kondisi fisiknya sudah tak lagi prima. Mbok Asih juga bekerja sebagai buruh pembuat ebek. Nida yang masih duduk di bangku kelas IX, tak mampu berbuat banyak untuk membantu kedua orangtuanya.
Melihat kondisi orangtuanya, Nida tak sanggup bila harus tetap diam dan berpangku tangan saja. Diam-diam, Nida mulai mengumpulkan berbagai informasi mengenai kejahatan dan pelanggaran yang dilakukan oleh pabrik itu berserta bukti-buktinya. Dia bertekad untuk membongkar liang para tikus yang mengeksploitasi warga dengan dalih kemajuan desa tempat tinggalnya demi mencari keadilan untuk bapaknya.
Suatu hari Pak Warto demam tinggi, rupanya luka akibat kecelakaan kerja yang dialaminya sekitar sebulan yang lalu telah mengalami infeksi. Untuk kesekian kalinya Nida mendatangi rumah pemilik pabrik, memohon kebesaran hati sang tuan rumah untuk menolong bapaknya. Namun ketegaran dan kesopanan yang dia haturkan tak juga dapat meluluhkan hati sang cukong yang sekeras batu itu. Nida diusir dengan kasar dari rumah itu. Nida pulang dengan putus asa, tak tahu apa lagi yang dapat ia perbuat untuk menolong bapaknya yang sedang sekarat. Hatinya bertambah remuk saat mendengar jeritan emaknya saat memasuki halaman rumah. Buru-buru Nida menghampiri emaknya ke dalam kamar.
“Apa yang terjadi, Mak?” tanya Nida kala itu.
Mbok Asih tak sanggup berkata-kata, ia hanya memandangi suaminya yang terlentang di hadapannya. Tahulah Nida apa yang tengah terjadi. Dua wanita itu pun menangis bersama meratapi kepergian Pak Warto di malam itu.
Pelanggaran demi pelanggaran yang dilakukan oleh pabrik itu semakin hari semakin bertambah banyak. Jika hal ini dibiarkan terus menerus, maka akan semakin banyak Pak Warto-Pak Warto lain yang akan muncul. Nida bertekad untuk segera mengakhirinya. Dia mengumpulkan semua bahan tulisannya mengenai pabrik itu, lalu ditulisnya kembali dalam lembaran surat yang akan dia kirimkan ke kantor bupati. Dia sadar, statusnya yang hanya pelajar SMP dapat dipandang sebelah mata oleh aparat penegak hukum, namun setidaknya mereka harus tahu apa yang sesungguhnya sedang terjadi di desa yang terpencil seperti ini. Alih-alih sampai ke tangan Bupati, surat itu justru jatuh ke tangan kepala desa. Ternyata, kepala desa telah bersekongkol dengan para cukong dari kota itu. Orang-orang itu geram, mengetahui apa yang telah ditulis oleh Nida. Nida dipanggil ke balai desa saat itu juga, dia bahkan diseret paksa dari rumahnya. Mbok Asih yang ingin melindungi anaknya justru didorong hingga jatuh terjungkal. Warga yang melihat kejadian itu pun berbondong-bondong mendatangi balai desa.
“Kowe iku bocah, ngerti opo?” hardik kepala desa saat Nida telah didudukkan di kursi pesakitan,
“Saya tahu semuanya, saya tahu kejahatan kalian, juga ketidakadilan atas kasus bapak saya,” jawab Nida tegas,
“Diam adalah pilihan terbaik, nak. Jangan memperumit dirimu sendiri!” kata pemilik pabrik.
Nida tak mau menyerah, dia berpegang teguh pada pendiriannya. Akhirnya perdebatan pun tak terelakkan meskipun Nida tak mampu bersilat lidah seperti orang-orang yang mengeroyoknya. Khawatir warga lain akan terprovokasi, akhirnya kepala desa memutuskan untuk mengadili Nida di dalam ruangannya. Ternyata Nida tidak diinterogasi di ruang kepala desa, melainkan dimasukkan ke gudang. Di sana Nida diikat dan dikurung.
Mbok Asih menunggu Nida di depan balai desa dengan cemas, namun hingga larut malam Nida belum juga keluar. Warga yang khawatir dengan kondisi Mbok Asih memaksanya untuk pulang saja ke rumah. Meskipun awalnya tidak mau, Mbok Asih akhirnya bersedia untuk pulang. Sehari, dua hari, hingga hari ketiga Nida belum juga pulang. Selama tiga hari itu Mbok Asih sering ke balai desa, dalam sehari Mbok Asih bisa bolak-balik sampai lima kali ke balai desa untuk menanyakan keberadaan Nida. Akan tetapi Pak Kades selalu bilang Nida sudah pulang sejak sore pada hari dia diinterogasi. Mbok Asih tak percaya. Kalau memang Nida sudah keluar dari balai desa, kenapa Nida belum pulang juga? Pertanyaan itulah yang selalu terlintas di benak Mbok Asih dan pertanyaan itu juga yang selalu disampaikan kepada semua orang yang dia temui di balai desa. Beliau bahkan memohon agar Pak Kades bersedia membantu mencari Nida. Tapi permintaan tersebut ditolak mentah-mentah oleh Pak Kades, bahkan Mbok Asih sampai diusir karena dianggap mengganggu. Mbok Asih tak berhenti begitu saja, beliau terus berusaha mencari anaknya, hingga pada malam keempat Mbok Asih menemukan Nida dalam kondisi yang sangat menyedihkan di depan pintu rumahnya. Mbok Asih mencoba mencari pertolongan, namun ternyata Nida tak sanggup bertahan dan meninggal di pangkuan ibunya. Warga yang hendak menolong hanya bisa tertunduk  lesu melihat semua kejadian itu.
Sekarang jasad Nida telah selesai dikebumikan di samping makam bapaknya. Semua orang yang datang melayat, termasuk gadis yang berdiri di ambang pintu itu, tengah tenggelam dalam kedukaan Mbok Asih yang kini hidup sebatang kara. Gadis di ambang pintu itu tampak sangat iba pada mbok Asih, namun tak ada kata-kata yang dapat ditujukan untuk menghiburnya.
“Dengar kalian semua! Kematian Nida tidak ada hubungannya dengan kami maupun perangkat desa. Camkan itu, Mbok Asih!” kata sang cukong pemilik pabrik dengan nada kasar dan suara yang mengguntur memecah keheningan tanpa ada silah-silahnya.
Mbok Asih yang tengah dirundung duka tak mampu membantah apa-apa, warga yang takut pada para penguasa juga tak berani bersuara. Tanpa basa-basi, para cukong dan perangkat desa itu pun keluar dari rumah itu, melewati pintu di mana sang gadis tengah berdiri tadi. Mbok Asih menatap kepergian mereka. Samar-samar, di antara gerombolan orang-orang kejam itu, Mbok Asih melihat sosok Nida sedang berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan penuh rindu. Semua menjadi semakin samar, mata Mbok Asih mulai berkunang-kunang, kemudian menjadi gelap seluruhnya, yang terdengar hanyalah teriakan warga yang memanggil nama Mbok Asih.
Penulis adalah  mahasiswa
Jurusan  Matematika dan
Juara II Kompetisi Penulisan Cerpen
Majalah Komunikasi 2017

Bagikan informasi ini: