Perjalanan Si Pemeran Sitkom hingga Penjual Seblak

K10A5567

Gadis berkulit putih kelahiran Bandung yang sering disapa Teh Ajeng ini ternyata memiliki banyak bakat di bidang entertainment. Ajeng yang pernah menjadi pemeran situasi komedi (sitkom) Malang Melintang ini sempat beradu akting dengan aktor ternama tanah air. Salah satunya bersama Teuku Wisnu dan Kadir Bachmid (D’Kadoor). Peringainya yang kalem nan lincah memikat para produser untuk menggandeng Ajeng sebagai pemeran asisten chef brand Malang Struddle. Ajeng melakoni peran sebagai keponakan Teuku Wisnu yang menyebalkan dan centil.

Dalam peran tersebut, Ajeng sukses mendalami karakter yang katanya tak jauh berbeda dari kepribadiannya. “Lebih mudah untuk memerankan karakter asisten chef yang digambarin pulang dari lulusan kuliah luar negeri. Kayaknya memang nggak jauh beda dengan karakter asli,” kelakar Ajeng dengan dengan logat Sunda yang tak begitu kental.
Pemilik nama lengkap Diajeng Widya Pradnyaparamita ini sempat mendapat tawaran sebagai kru oleh penulis naskah Malang Melintang di Inspira TV, salah satu stasiun TV lokal di Kota Bandung. Tawaran tersebut menjadi angin segar untuk dirinya. Ajeng memang tertarik menekuni dunia broadcast sebagai rencana setelah lulus kuliah nanti. “Aku bilang waktu itu, nanti dulu, karena sekarang masih nyelesaiin skripsi,” ujar mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia tersebut.
Keikutsertaannya dalam penggarapan brand kue oleh-oleh Malang tak lepas dari dukungan sang mama. “Mama yang daftarkan aku lewat FB (facebook, red.), sampai akhirnya hari H casting aku baru tahu,” kenang Ajeng. Ada keunikan tersendiri sebelum ia mengikuti casting yang ternyata mamanya lupa dengan jadwal hari H. “Waktu aku cerita ke mama, kok temenku ada yang ikut casting, ya? Baru mama ingat kalau hari itu harus casting dan aku belum siap-siap. Cuci muka dan ganti baju. Tanpa mandi, aku dan mama langsung berangkat,” kenang mantan vokalis Harmoniora Sastra ini.
Ternyata bakat akting bukan hal yang baru bagi gadis keturunan Jawa-Sunda ini. Ajeng telah menjuarai teater nasional sejak SMA. Ia menerima tawaran menjadi pemeran di beberapa penyelenggaran teater. Ajeng juga pernah menjadi talent di video klip penyanyi dangdut Wandra asal Banyuwangi. Bukan hanya itu, Ajeng juga aktif men-cover lagu yang diunggah di channel YouTube. “Kalau cover lagu ada yang iseng dan memang ada yang sudah di-direct,” tutur perempuan berhijab tersebut.
Berbicara mengenai hijab, ternyata ada hidayah tersendiri ketika ia memutuskan untuk berhijab. “Aku pakai hijab baru 2017, setelah meranin asisten chef bareng Teuku Wisnu. Di situ memang semua pemeran perempuan diwajibkan untuk pakai jilbab,” kata perempuan kelahiran April 1996 silam. Mulai dari situ, ia belajar sedikit demi sedikit untuk memakai jilbab. “Setelah aku memutuskan berhijab, entah kenapa aku dipertemukan dengan teman-teman yang  basic agamanya sudah kuat. Aku belajar dari mereka,” tutur Ajeng.
Selain bakatnya di dunia entertainment, Ajeng juga merambah ke bidang bisnis. Usaha seblak dengan brand Geulis telah ia rintis sejak 2016 silam. Usaha kuliner khas Bandung ini terlahir dari buah hasil pulang ke Bandung dan pada waktu itu sedang marak makanan seblak. Kuliner nusantara dengan bahan baku kerupuk serta bumbu kencur dan bawang putih ini memang kini sedang digandrungi sebagai makanan anak muda masa kini. Ajeng mampu menembus pasar dengan berbagai inovasi varian menu. Diawali dengan riset bumbu di area Jalanan Kiaracondong, ia mencoba memadukan resep. “Waktu pulang ke Kiaracondong, Bandung, memang hampir tiap hari aku dan adikku beli seblak sambil lihat-lihat bumbunya,” kata Ajeng.
Tak membutuhkan waktu lama, Ajeng telah mengeksekusi racikan seblak selama satu minggu. Insting memasak yang diturunkan oleh mamanya membuatnya mudah untuk menemukan resep yang pas untuk dipasarkan. Dimulai dari promosi lewat media sosial, ternyata produknya sukses memikat lidah masyarakat Malang. Kini ia telah memiliki booth sendiri dengan brand Seblak Geulis yang dijajakan di daerah Sawojajar yang tak jauh dari kediamannya. “Sekarang memang masak sendiri, buka booth sendiri, juga melayani pelanggan sendiri. Masih merintis,” tegas Ajeng.
Jiwa wirausahanya ternyata diturunkan dari sang ayah. “Kalau buka bisnis memang cita-cita ayah,” tandas Ajeng yang juga menjadi guru privat ini. Tak heran jika sekarang Ajeng sangat getol merintis usahanya. Dukungan penuh dari keluarga pun diberikan padanya. Waktu tinggal di Bandung, Ajeng sudah terlatih dengan hiruk pikuk usaha yang digeluti ayahnya.
Sang ayah memiliki beberapa usaha ketika masih di Bandung, yaitu usaha game  seprai, dan springbed. Usaha tersebut lancar. Namun, saat ia masih SD, perubahan besar menimpa keluarganya. “Waktu aku masih SD semua usaha ayah habis dan bangkrut, rumah dan mobil semua terjual serta masih ada beberapa utang,” kenang Ajeng. Mulai dari situ, kehidupan keluarganya berubah drastis. Mereka memutuskan untuk meninggalkan Kota Bandung dan menetap di daerah pegunungan.
“Ayah bilang, kita menghilang sementara, tapi semua akan baik-baik saja,” kenang Ajeng. Bagi Ajeng, sosok ayahnya lah yang selama ini memberi pelajaran hidup. Mereka yang semula hidup berkecukupan dan tinggal di tengah kota harus bermigrasi ke wilayah pelosok Bandung. Desa Pangauban namanya, wilayahnya asri dan belum terjamah hiruk pikuk kehidupan kota pada kisaran tahun 2006. Jalanan yang belum beraspal dan jauh dari bunyi klakson membawa kedamaian tersendiri baginya.
Kehidupan yang dirasakan Ajeng  berubah drastis. Ia harus pindah sekolah dari SD di Kota Bandung yang elit ke madrasah yang tidak ada satu murid pun yang memakai sepatu. “Aku baru tahu ternyata masih ada sekolah yang kayak gini, teman-temanku tidak ada yang pakai sepatu. Ada yang pakai sandal bahkan banyak yang nyeker. Mereka juga nggak pakai tas, buku-bukunya ditenteng dengan kantong kresek,” kenang Ajeng. Secepat kilat ia mulai beradaptasi dengan teman-temannya. Di hari pertama sekolah, ia masih menggunakan sepatu dan sempat dilarang oleh sang mama untuk berangkat sekolah karena melihat kepiluan yang terjadi. “Awalnya aku pakai sepatu karena memang ada sisa dari Bandung, sempat dilihatin seperti orang kaya dari mana, padahal waktu itu kan bahasa lainnya masih orang nggak punya ya miskin,” tandas Ajeng.
Ia tetap bersekolah hingga lulus MI dan masuk ke MTs setempat. Mama dan dirinya juga berinisiatif untuk membagikan beberapa tas yang dimilikinya kepada teman-teman dekat. Jalanan yang masih berlumpur mengharuskan ia dan teman-teman mencuci kaki setiba di sekolah. Setiap hari ia selalu membantu mamanya untuk menjajakan gorengan ke seluruh kampung sepulang sekolah atau mengaji. “Waktu itu penghasilan utama dari gorengan. Aku yang keliling kampung setiap hari dan tahu sendiri  jalannya naik turun karena pegunungan,” kata anak sulung dari dua bersaudara ini. Ayahnya yang selalu menguatkan dirinya. “Ayah bilang, teh ini hanya sementara, Allah sedang menguji kita,” kenangnya. Dari situ, Ajeng banyak menemukan hikmah dalam perjalanan hidup maupun spiritual. “Karena hal ini, aku jadi bisa belajar salat, dzikir, baca quran setiap hari karena lingkungan yang mendukung. Dulu ketika masih di Bandung, keluarga kami jauh dengan Allah. Aku belum pernah diajari salat oleh ayah maupun mama, tapi dari sini, kami sekeluarga bisa berubah. Mungkin kalau nggak ada musibah sampai sekarang aku masih belum bisa salat,” kenang Ajeng.
Ketika ia menginjak kelas dua SMP,  mereka memutuskan untuk ke Malang yang merupakan kampung halaman ayahnya. Tak banyak berubah, perekonomian juga masih merangkak. Mama berinisiatif untuk jualan bubur di pasar. Mereka tinggal berpindah-pindah. Mulai dari rumah nenek, indekos hingga diusir, serta tinggal di gudang tempat kerja ayah. “Ngekos satu kamar berempat dan diusir karena belum bisa bayar lalu tinggal di gudang tempat ayah kerja. Kami juga terusir,” kenangnya. Saat SMP, ia sempat menjadi korban bully karena miskin. Sampai pada titik sang ayah telah menemukan cara membuat stempel mekanik yang dicoba sendiri. Mulai dari situ, pintu rizki terbuka sedikit demi sedikit hingga 2016 Ajeng dan sekeluarga sudah bisa menetap di rumah kawasan Sawojajar.
“Ayah selalu bilang, selain aku harus manfaat buat sesama, beliau juga memberi tahu bahwa jangan melihat orang itu hari ini, siapa tahu dia akan jadi seseorang ke depannya. Jangan sampai meremehkan orang lain. Kadang orang lihatnya hari ini padahal prosesnya sangat panjang,” kenangnya. Kalimat tersebut yang sampai saat ini ia tanamkan dan pegang dengan perjalanan panjang yang mendewasakan dirinya.Arni

Bagikan informasi ini: