Potret Pendidikan Indonesia dalam Jembatan Pensil

oleh Khuswatul Kholifah

Beberapa waktu lalu, media sosial sempat heboh dan viral dengan berita anak-anak sekolah yang harus bergelantungan di jembatan tali untuk berangkat dan pulang sekolah. Dengan arus sungai yang deras, nyawa para penerus bangsa ini amat dipertaruhkan. Sangat miris ketika hal tersebut masih terjadi di negara Indonesia. Potret tersebut tergambar dalam film Jembatan Pensil.


Bermula dari kisah Inal, Nia, Yanti, Aska, dan Ondeng yang sangat bersemangat untuk belajar di sekolah gratis yang telah dibangun oleh Pak Guru. Inal seorang bocah laki-laki tuna netra dan Ondeng yang menderita ‘keterbelakangan’ tidak mengenal kata lelah dan sangat menikmati masa-masa sekolah dengan riang gembira. Meskipun setiap harinya mereka harus berangkat dan pulang sekolah melewati jalan yang berliku dan berbahaya.
Ondeng memiliki bakat terpendam dalam bidang seni, yakni menggambar. Dia sangat suka membuat sketsa dengan pensil. Dia selalu sibuk dengan bakatnya tersebut, baik di dalam maupun di luar sekolah. Ia juga sering menggambar ayahnya yang seorang nelayan dan jembatan kayu rapuh yang setiap hari dilaluinya bersama teman-temanya.
Impian terbesarnya adalah membangun jembatan rapuh tersebut, bahkan ketika jembatan itu roboh tepat saat mereka melintasinya hingga mereka tercebur ke sungai kotor berarus deras. Semangat belajar mereka tidak hanyut bersama derasnya air sungai. Mereka masih terus berjalan tertatih menuju sekolah dengan pakaian yang lusuh dan basah.
Selain menceritakan perjuangan hebat para calon pemegang kuasa Indonesia, film ini juga melukiskan betapa berartinya seorang sahabat serta bagaimana cara menerima kelebihan dan kekuranganya. Terekam dengan haru bagaimana sikap teman-teman Ondeng dan Inal dalam menerima kekurangan mereka. Persahabatan yang kental di antara mereka semua dapat menguras air mata siapapun yang menonton film ini.
Film garapan sutradara kondang Hasto Broto ini menggandeng sejumlah artis ternama Indonesia yang tak diragukan lagi kemampuanya dalam dunia akting. Sejumlah artis itu ialah aktor muda Kevin Julio,  aktris senior Meriam Bellina, Agung Saga, Didi Mulya, Alisia Rininta dan masih banyak lagi. Film yang diproduseri oleh Grahandika Visual ini telah rilis pada 7 September 2017 lalu.
Latar pembuatan film berada di salah satu Daerah Tingkat II, Provinsi Sulawesi Tenggara. Eksplorasi pesona wisata di Kabupaten Muna ini dilakukan sebagai ajang promosi destinasi wisata agar pulau yang dikatakan mirip Raja Ampat tersebut dikenal oleh masyarakat luas, baik nasional maupun mancanegara. Penayangan film ini diharapkan tak hanya memberikan nilai edukasi kepada generasi muda, melainkan juga sebagai ajang promosi destinasi wisata di Kabupaten Muna.
Penulis adalah mahasiswa Jurusan Sastra Jerman dan Harapan I Kompetisi Penulisan Pustaka
Majalah Komunikasi 2017

Bagikan informasi ini: