Usai dari Turki, Ketagihan Ikut Kompetisi

IMG-20170409-00752

Nama Lengkap        : Indra Febrianto
Tempat, Tanggal Lahir    : Jombang, 28 Februari 1997
Alamat            : Desa Gondek, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang
Riwayat Pendidikan    :
SDN Mojowangi 11 (2003-2009)
SMPN 1 Mojowarno (2009-2012)
SMKN 1 Mojoagung (2012-2015)
Universitas Negeri Malang, S1 Pendidikan Ekonomi (2015-sekarang)
Pengalaman Organisasi    :
Forum Silaturahmi Studi Ekonomi Islam (2015-2016)
Komunitas Ekonomi Kerakyatan (2016-sekarang)
Kelompok Studi Pasar Modal (2016-2017)
Lembaga Pengembangan Penalaran dan Penelitian Mahasiswa Ekonomi (2016-2017)
Inovator Nusantara (2018-sekarang)

Prestasi            :
Top 10 Lomba Ketrampilan Siswa se-Jatim 2015
Runner Up Economic Ambassador 2015
Runner Up Economic Development Ambassador 2015
Top 10 Lomba Karya Tulis Ilmiah Universitas Trunojoyo Madura 2017
Delegate of Great Indonesia Leader Summit 2017
Paper Presenter of Internasional Business Management and Science Congress, Istanbul Turkey 2017
Paper presenter at International Student Congress, Balkan University 2017
Paper presenter at East Java Economic Forum 2017
Paper acceptance at International Journal of Scientific and Engineering Research 2017
Paper acceptance at Journal of Business and Economics 2017
Council of Great Indonesia Leader Summit 2018
Mawapres 1 Fakultas Ekonomi 2018
Mawapres 1 Universitas Negeri Malang 2018Mengikuti kompetisi hingga ke negeri orang merupakan pengalaman yang membanggakan. Kompetisinya di Turki menjadi sebuah titik balik untuk mengikuti kompetisi selanjutnya. Bermanfaat bagi orang sekitar merupakan prinsip yang dipegang oleh Mawapres Utama Univeristas Negeri Malang (UM) 2018 ini. Dia adalah Indra Febrianto, mahasiswa asal Jombang. Simak wawancara kru Komunikasi dengan Indra Febrianto berikut!
Bagaimana perasaan Anda ketika terpilih menjadi Mawapres 1 UM?
Tentunya seneng, tidak menyangka juga. Jujur target saya bukan Mawapres 1 UM, tapi Mawapres 1 fakultas.
Apa yang membuat Anda unggul dari peserta lain?
Mungkin dari prestasinya. Prestasi yang saya submit kemarin ada empat yang internasional, individu, dan yang linear dengan jurusan saya. Mungkin itu yang menjadi unggul.
Karya ilmiah yang dibuat tentang apa?
Untuk tema globalnya dari Dikti itu SDGs (Sustainable Development Goals), topik yang saya angkat di sini adalah agro industri. Jadi saya membuat suatu sistem kerja baru yang akan diimplementasikan di agro industri  Jawa Timur. Saya membuat role modelnya Jawa Timur. Goals-nya akhirnya kesenjangan sumber daya manusia agro industri di Jawa Timur. Mengapa role model-nya Jawa Timur? Karena Jawa Timur merupakan lumbung pangan nasional. Setelah saya melakukan analisis, ternyata Jawa Timur belum bisa memaksimalkan sektor pertanian mereka.
Apakah prestasi yang dikumpulkan harus linear dengan bidang ilmu yang didalami?
Sebenarnya ada panduan tentang prestasi yang disetorkan itu kelompok dan individu beda, kemudian linear dengan tidak linear beda juga. Di pedoman Ristekdikti sudah ada panduannya, juara satu nasional individu berapa, juara satu nasional kelompok poinnya berapa. Kalau masalah prestasi itu sudah ada pedoman yang valid.  Dari segi prestasi kira-kira saya dapat poin berapa kita bisa tahu. Kalau saya sendiri, saya usahakan bisa linear dengan jurusan saya sendiri, kenapa? Karena kebermanfaatanya akan lebih bagus dan itu akan dapat saya dukung dari studi saya. Seandainya tidak linear otomatis saya tidak bisa mendukung gagasan saya tersebut.
Menurut Anda, kompetisi mana yang paling berkesan?
Menurut saya ketika ke Turki kemarin. Saya kan dapat dana dari DPRD Jombang untuk tiket pesawat. Karena kita untuk pesawatnya mencari sendiri. Pencarian tiket itu sedikit drama, besoknya berangkat baru nanti malam dapat tiket. Saya baru dapat tiket itu setelah subuh pada hari H. Itu karena kesalahan saya sendiri, saya mintanya uang sejumlah harga tiket yang saya lihat beberapa minggu lalu padahal saat saya mau beli tiket harganya sudah naik. Jadi saya tidak meng-update harga tiketnya. Otomatis uangnya tidak cukup untuk beli tiket itu. Ya belum pasti juga pada waktu itu jadi berangkat atau tidak, sedangkan media sudah mem-publish berita tersebut. Syukurlah sudah bisa teratasi waktu itu. Paginya dapat tiket, malamnya berangkat.
Selain itu, ketika Mawapres. Seleksi Mawapres itu kan harus membuat Karya Tulis Ilmiah (KTI). Nah, flashdisk saya itu hilang padahal semua file ada di situ, di laptop pun juga tidak ada yang sudah jadi adanya yang belum direvisi. Akhirnya saya buat lagi. Eh setelah selesai, flasdisk saya baru ketemu. Setelah itu, juga harus menyetorkan lima eksemplar KTI. Pas itu ketika saya lagi krisisnya, KTI saya itu kan banyak lampirannya, ya jadinya saya harus pinjam teman dulu untuk print semuanya. Hehe.
Setelah menjadi Mawapres, apa tindakan Anda untuk memberi dampak positif bagi mahasiswa lain?
Untuk itu, saya join beberapa organisasi yang di kampus dan di luar. Di kampus sendiri sudah dimintai tolong untuk sharing masalah KTI, masalah kepenulisan, maupun diundang untuk menjadi pemateri. Apa yang saya punya ini, bisa saya bagikan kepada orang-orang di sekitar saya. Jadi yang merasakan bukan hanya saya, tapi orang di sekitar saya juga merasakan.
Pesan untuk Mahasiswa UM?
Jangan menjadi mahasiswa yang apatis. Jangan nyaman dengan zona nyaman kamu, karena jika kamu keluar dari zona nyaman itu, kamu akan menemukan sesuatu yang luar biasa.Shintiya.

Bagikan informasi ini: