Gagasan Terselubung di Balik Absensi Indonesia

oleh Ahmad Junaidi

Judul        : Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia;
Pramoedya, Sejarah, dan 3.Politik
Penulis        : Max Lane
Kategori        : Tokoh dan Sejarah
Penerjemah    : Saut Pasaribu
Penyunting    : Rh. Widada
Ketebalan    : xii + 196 halaman
Tahun Terbit    : 2017
Penerbit        : Djaman BaroeKhazanah kesusastraan Indonesia tidak dapat dipungkiri telah membawa pengaruh besar pada dinamika sejarah, politik, dan budaya. Pramoedya Ananta Toer (1925-2006) adalah salah satu sastrawan besar Indonesia pascakolonial yang namanya masih menggaung sampai sekarang. Tidak hanya di Tanah Air, tapi melesat hingga mancanegara, membelah sekat-sekat budaya. Dari catatan-catatan renungan yang didasarkan pada pengalaman, interaksi, dan kedekatan dengan karya-karya Pram, Max Lane berhasil melahirkan buku terbarunya yang berjudul Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia; Pramoedya, Sejarah, dan Politik.
Max Lane menyajikan sebuah perspektif lain tentang Pram. Betapa tidak menggemparkan, sampul awal dalam buku ini memberikan sebuah kutipan yang sangat mengusik bagi pembaca. Max Lane menuliskan di bawah sampul judul, “Betapa mungkin empat karya yang berbicara tentang asal mula nasionalisme Indonesia yang ditulis lebih dari 2.000 halaman panjangnya tidak sekalipun menyebut nama Indonesia?” Ini adalah sebuah pernyataan fenomenal setelah kita tahu sepak terjang karya-karya Pram yang selama ini kita asumsikan telah mengusung identitas bangsa dan revolusi Indonesia.
Ini bukanlah sebuah pernyataan tanpa alasan, karena Max Lane bukan sekadar penerjemah dari enam karya Pramoedya yang menjadi literatur subversif di masanya. Max Lane adalah adalah orang pertama yang memperkenalkan karya-karya Pram pada dunia di  jaman represi Soeharto. Ia menerjemahkan Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca) ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan oleh Penguin Australia, United Kingdom, dan Amerika.
Max Lane telah melalui fase pergaulan yang sangat intens dengan Pramoedya. Bahkan ia memperkenalkan Pram tidak hanya karya-karyanya, melainkan tulisan-tulisannya sendiri yang membahas Pram beserta karyanya. Hal inilah yang menjadikan aura perspektif tulisan Max di buku ini lebih komprehensif dibanding kajian para akademikus dan peneliti yang lain. Alih-alih kita menganggap sebagai kajian sastra, buku ini bahkan memiliki nuansa antropologis yang sangat menarik tentang bagaimana Max dapat menyelami rekam jejak Pram.
Absennya ‘Indonesia’ di Bumi Manusia dalam buku ini justru menjadi gagasan fundamental yang menunjukkan betapa jenius dan kritisnya Pramoedya Ananta Toer. Buku ini menjadi literatur penting bagi rakyat Indonesia, terutama generasi milenial yang tengah berada dalam negosiasi kultural dan mengalami amnesia berkat banyaknya benturan rekayasa budaya dan literasi yang rendah, agar tidak mudah terprovokasi isu hoaks ataupun pemutarbalikan fakta sejarah. Buku ini adalah salah satu gagasan futuristik untuk dapat memahami apa dan bagaimana Indonesia ke depan.
Dalam buku ini, Max Lane beranggapan bahwa Pram hendak menegaskan soal kebaruan Indonesia. “Bukan hanya bahwa Indonesia adalah barang ciptaan baru di atas muka bumi manusia ini. Bukan hanya baru, tetapi ternyata juga barang atau makhluk ciptaan sendiri! Seri buku Bumi Manusia sampai Rumah Kaca menggambarkan proses di saat penghuni sebuah tempat tertentu, yang bangkit mulai memakai bahasa tertentu, menciptakan sendiri sebuah komunitas baru: menuju sebuah nation,” tulisnya dalam halaman 170. Max mendalami Pram sebagai seorang pemikir yang memiliki kegelisahan luar biasa pada kondisi Indonesia, sehingga memerlukan gagasan yang fundamental untuk dapat berevolusi.
Buku Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia karya Dr. Max Lane ini adalah analisis atas karya-karya Pramoedya, perspektifnya tentang sejarah kemunculan Indonesia dan ide-ide politik yang ia tenunkan ke dalam karyanya. Buku ini adalah hasil interaksi dan kontemplasi penulis dengan Pramoedya dan karya-karyanya, serta dengan para pendiri penerbit Hasta Mitra lainnya, seperti Joesoef Isak dan Hasyim Rachman. Hasta Mitra sendiri merupakan penerbit progresif yang pertama kali berani menerbitkan karya-karya Pramoedya pada era Soeharto.
Esai-esai dalam buku ini antara lain berupa artikel yang berupaya memberi gambaran umum tentang karya-karya Pramoedya, menganalisis berbagai ide Pramoedya tentang sejarah Nusantara, asal-usul Indonesia sebagai bangsa, dan tentang korelasi antara kasta dan kelas. Karya yang didiskusikan termasuk Hoa Kiau di Indonesia, Arok Dedes, dan Bumi Manusia. Tajuk “Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia” dijadikan sebagai subtema terakhir dalam kumpulan esai ini.
Buku karya Max Lane ini adalah literatur penting bagi masyarakat Indonesia, terutama bagi generasi muda yang visioner dan memiliki orientasi jauh ke depan tentang kemajuan dan kesejahteraan sosial. Buku ini mencoba mengupas pesan-pesan terselubung dari Pramoedya untuk pembacanya tentang apa yang harus disadari dalam menghadapi masa depan Indonesia. Buku ini adalah kebekuan tafsir tentang Pram dari sekian sudut pandang yang beragam. Max Lane menjadi seorang penyaji makanan intelektual yang membuka wawasan ke-Indonesia-an. Dengan kontekstualitas kecermatan dan kajian yang elaboratif, buku ini mampu menjawab sebagian besar kegelisahan generasi muda atas problematika di Indonesia, serta menemukan resistensi positif dalam menghadapi dinamika sosial masyarakat.
Penulis adalah mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang

Bagikan informasi ini: