Inovator Media Pembelajaran

Nama Lengkap        :   Fitrah Izul Falaq
Tempat, Tanggal Lahir    :   Lumajang, 29 Januari 1998
Alamat            : Jalan Danau Luar C4 E18 Perumahan Sawojajar, Kedungkandang, Kota Malang

Riwayat Pendidikan    :
SDN Kebonsari Kulon 1 Probolinggo (2004-2010)
SMPN 5 Kota Probolinggo (2010-2013)
SMKN 2 Kota Probolinggo (2013-2016)
S-1 Teknologi Pendidikan UM (2016-sekarang)

Pengalaman Organisasi    :
Divisi Penalaran HMJ Teknologi Pendidikan (2016-sekarang)
KPU Fakultas Ilmu Pendidikan (2017)
Pusat Pengembangan Kreativitas Mahasiswa FIP UM (2018-sekarang)
Majalah Komunikasi UM (2016-sekarang)

emutuskan untuk memilih Jurusan Teknologi Pendidikan (TEP) bukanlah suatu kesalahan. Ia berhasil melahirkan karya-karya yang luar biasa. Sebelumnya, ia  diterima di dua jurusan di UM, yakni Teknologi Pendidikan dengan jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dan Ilmu Perpustakaan dengan Jalur Mandiri Prestasi. Dengan beberapa pertimbangan, ia memutuskan untuk memilih Jurusan TEP. Ia adalah Fitrah Izul Falaq, mahasiswa asal Probolinggo yang dinobatkan menjadi Mawapres 3 Universitas Negeri Malang (UM). Berikut petikan wawancara langsung dengan Fitrah Izul Falaq.
Bagaimana perasaan Anda ketika terpilih menjadi Mawapres 3 UM?
Perasaannya ya nggak menyangka, tapi alhamdulilah bisa terpilih. Awalnya, di FIP itu dipilih lima besar. Nah, saya terpilih nomor tiga untuk mewakili di tingkat  universitas. Ketika terpilih menjadi mawapres saya lega, setidaknya saya telah memberikan yang terbaik.
Apa yang membuat Anda unggul dari peserta lain?
Kalau menurut saya itu sebuah keberuntungan, tapi keberuntungan versi saya itu hasil kali antara usaha dan doa. Jadi, kalau mau beruntung harus diawali banyak berdoa diiringi dengan banyak usaha. Mungkin Allah menjawab doa saya tahun ini. Bagi saya, mawapres itu bukan sekadar eksistensi, tapi esensi untuk mencari dan berbagi inspirasi. Jadi, kalau orang-orang kebanyakan ingin berprestasi dengan outputnya ia ingin penghargaan, kalau saya tidak mementingkan juara, tapi yang penting mencari pengalaman. Ketika ada orang yang bertanya pada kita, kita bisa memberikan saran maupun motivasi pada mereka.
Karya ilmiah yang dibuat tentang apa?
Saya membuat flipcover tenaga surya. Jadi semacam pengisi daya portabel yang melekat pada handphone dimana sumber energi utamanya berasal dari sinar matahari sehingga kita bisa mengisi HP kita dimanapun dan kapanpun, tanpa takut kehabisan baterai atau ketinggalan powerbank. Teknologi ini ramah lingkungan dan potensinya sangat besar karena intensitas cahaya matahari tersebar secara merata dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.
Bagaimana Anda menemukan gagasan tersebut?
Saya menemukan gagasan tersebut jauh sebelum kuliah. Dulu di SMK, saya Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) berkerja sama dengan anak Jurusan Teknik Instalasi Tenaga Listrik (TITL) sudah sering mengembangkan alat-alat yang seperti ini.
Selama ini, karya ilmiah apa yang selalu Anda buat?
Ketika SMK saya lebih banyak mengembangkan teknologi, setelah masuk kuliah saya tertarik mengembangkan media pembelajaran. Media yang telah saya kembangkan kebanyakan tentang Augmented Reality (AR) dan Board Game. AR yang pertama kali saya buat tentang media pembelajaran lalu lintas. Jadi, kita membuat semacam simulasi. Nah, di simulasi itu, kita buat seolah anak-anaknya berada di jalan dengan menggunakan teknologi AR tersebut. Ada semacam permainan ular tangga berbentuk jalan yang nanti ada barcode-nya. Ketika dia men-scan barcode tersebut, dia akan mendapatkan visualisasi tiga dimensi.
Saat ini, board game yang sedang Anda kembangkan seperti apa?
Board game adalah permainan yang menggunakan papan sebagai medianya, seperti ular tangga, monopoli, ludo, dll. Kelebihannya diintegrasikan dengan teknologi AR. Jadi, sekarang ini saya sedang mengembangkan sebuah game yang bernama VOC Game (Victory of Culture Game). VOC ini terinspirasi dari kisah VOC yang ada Indonesia. VOC datang ke Indonesia untuk mempropaganda. Sejarah VOC sangat menarik. Adanya VOC tersebut melahirkan banyak peperangan, terutama perang saudara. Game ini berusaha menghadirkan kembali sejarah itu ke dalam sebuah permainan papan. Papan diibaratkan sebagai medan pertempuran dan ada lagi komponen tambahan, yakni kartu soal yang diibaratkan sebagai senjatanya. Kartu soal itu berisi soal-soal matematika. Siswa akan lebih tertarik kalau belajarnya dengan permainan, jadi belajar matematikanya dapat, belajar tentang budayanya juga dapat.
Saat Anda gagal, apa yang akan Anda lakukan agar dapat bangkit kembali?
Pertama pasti instropeksi diri dengan mengingat tujuan awal. Kalau tujuan awal di-setting untuk menang berarti kita siap kalah, tapi kalau tujuan awal untuk mencari pengalaman, tidak ada istilahnya gagal, hanya mungkin tertunda saja. Kedua, menyendiri, merenung mengapa bisa gagal, dan menganalisis kekurangan saya di mana, setelah itu diperbaiki. Terakhir mencari penyemangat. Ya, seperti godain temen-temen, bersikap konyol, muter film, dengerin musik, baca buku. Itu cara-cara saya untuk refreshing.
Bagaimana tanggapan keluarga atas capaian prestasi Anda?
Bagi saya, setiap keluarga pasti menganggap baik apa yang dilakukan anaknya. Tahunya beliau hanya “Oh, anakku belajare sungguh-sungguh di kota orang,”. Jadi, saya tidak terlalu membanggakan Mawapres karna keluarga saya tidak tahu dan tidak terlalu berpengaruh. Namun, yang paling berkesan adalah ketika bapak  dan budhe saya hadir di grand final Mawapres. Meskipun awalnya budhe saya meremehkan kenapa saya mengambil Jurusan Teknologi Pendidikan, tapi akhinya sekarang sudah mulai terbuka.
Bagaimana Anda membagi waktu?
Pertama harus rela tidak punya waktu istirahat. Apa yang kita lakukan bukan untuk diri kita sendiri. Cara membagi waktu secara teknis, misalnya hari ini kita mau ngapain ya kita sudah punya pandangan mau melakukan ini. Ya biarkan mengalir. Tugas kuliah dikerjakan malam, pagi untuk organisasi, sore sampai malam untuk berkarya.
Setelah menjadi Mawapres, apa tindakan Anda untuk memberi dampak positif bagi mahasiswa lain?
Harapan saya setelah menjadi Mawapres seperti ini. Kan di FIP sudah ada komunitas untuk menulis, saya ingin komunitas menulis itu terus berkembang. Jadi tidak berhenti di saya, selalu ada regenerasi. Nggak hanya di FIP sih, Mbak, saya ingin orang yang saya kenal juga mencintai literasi. Ketika saya telah menjadi mawapres saya ingin menyampaikan begini, ”Mawapres itu cuma gelar yang akan membuat kita berkembang bukan atas nama besar, tapi kita harus terus mencoba.”
Pesan untuk mahasiswa UM?
Satu petuah dosen saya, ada dua tipe orang di dunia ini. Tipe pertama, orang yang terlahir dengan anugerah tanpa belajar sudah bisa menjadi pintar dan tipe kedua adalah orang yang biasa-biasa saja tapi ia sadar dan mau berusaha. Saya adalah tipe orang kedua. Jadi, kuliah itu kalau hanya datang, dengerin dosen, ngerjain tugas lalu selesai, itu eman. Jadi mending kita cari tantangan baru. Ikut organisasi dan berkarya juga. Semakin kita terdesak, semakin kita cepat belajar. Kalau tidak terdesak, kita tidak belajar.ShintiyaFITRAH

Bagikan informasi ini:

Leave a Comment