Pilihan Mahasiswa: Driver atau Passenger?

oleh Nuruddin Zanky

Pada kesempatan kali ini, penulis ingin mengajak para pembaca untuk senantiasa menanamkan prinsip dalam kehidupan, yakni “hari ini harus lebih baik dari hari kemarin”. Penulis ingin menyampaikan pesan mental yang pernah ditulis oleh seorang motivator, pebisnis sukses, pengajar, dan penulis buku-buku best seller, yaitu Rhenald Kasali. Beliau dalam buku yang berjudul Let’s Change mengatakan bahwa mental manusia itu ada dua, yakni manusia bermental driver dan passenger.

20171025_085020Untuk menjadi driver, dia harus memiliki suatu keahlian, memiliki SIM, tidak boleh mengantuk, harus selalu terjaga, harus tahu arah, serta memiliki kepekaan dan kecepatan menghindar agar terhindar dari kecelakaan. Bahkan ketika terjadi suatu kecelakaan, orang yang paling bertanggung jawab adalah driver tersebut. Berbeda dengan passenger, dia tidak harus memiliki berbagai macam keterampilan dan keahlian yang dimiliki seorang driver. Passenger bisa tidur nyenyak sewaktu perjalanan, tidak perlu tahu arah, dan tidak memegang risiko ketika terjadi sesuatu dengan kendaraannya. Namun, passenger akan tiba di tempat tujuan pada waktu yang sama dengan driver.
Mahasiswa sebagai manusia yang diharapkan dapat menjadi agen perubahan memiliki pilihan untuk menjadi driver atau passenger selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Ada empat kelompok mahasiswa. Pertama, mahasiswa yang aktivitasnya hanya di kelas, perpustakaan, dan kos. Mahasiswa ini hanya mementingkan sisi akademik, dia fokus untuk mencapai nilai terbaik pada matakuliah yang sedang ia tempuh. Kedua, mahasiswa yang sisi akademiknya terabaikan, tetapi fokus pada kegiatan organisasi.  Mahasiswa ini aktif ketika berorgansisasi, namun lemah dalam sisi akademik. Ketiga, mahasiswa yang lemah dalam keduanya, baik sisi akademik maupun non-akedemik. Keempat adalah mahasiswa yang aktif dalam sisi akademik dan non-akademik. Mahasiswa ini pandai membagi waktu. Dia harus konsentrasi untuk mendapatkan hasil terbaik dalam perkuliahannya dan dia harus menimba ilmu yang tidak didapatkan di bangku perkuliahan.
Penulis ingin mengajak pembaca, khususnya mahasiswa, untuk merenung apakah kita termasuk kelompok mahasiswa pertama, kedua, ketiga, atau keempat? Apakah jalan yang kita pilih saat ini mengarahkan ke posisi mental seorang driver ataukah passenger? Namun, perlu untuk diingat bahwa untuk menjadi agen perubahan selalu dibutuhkan mental driver!
UM sebagai The Learning University selalu mendorong mahasiswanya untuk terus bekembang. Wakil Rektor III sebagai pucuk pimpinan bidang kemahasiswaan memiliki komitmen yang kuat untuk mengembangkan potensi mahasiswa melalui keorganisasian. Salah satu wujud nyatanya adalah adanya “Ormawa of The Year”. Ini merupakan ajang bagi organisasi mahasiswa intra-kampus untuk menunjukkan eksistensinya dalam mewujudkan UM yang lebih baik. Ada lima kriteria penilaian dalam Ormawa of The Year, yaitu kebersihan lingkungan, tertib administrasi, menjalin kerja sama, pengelolaan website, serta prestasi dan kreativitas. Kegiatan ini selain untuk memberikan penghargaan kepada pengelolaan organisasi terbaik juga sebagai sarana evaluasi kegiatan ormawa. Bidang kemahasiswaan menginginkan keberadaan ormawa tidak hanya ada, tetapi juga memberikan manfaat bagi kemajuan kampus.
Keberadaan ormawa sebagai wadah utama membentuk mental driver mampu menjadikan mahasiswa sebagai agen perubahan di masa mendatang. Banyak ilmu yang dapat dipelajari ketika mengikuti kegiatan ormawa yang tidak diperoleh di bangku perkuliahan. Keberanian mengemukakan pendapat, komunikasi, menjalin hubungan dengan orang lain, merencakan strategi untuk mencapai tujuan, semuanya didapat dari kegiatan ormawa. Masalah selalu dihadapi oleh mahasiswa dalam kegiatan ormawa, mulai dari  membagi waktu antara kepentingan akademik dan non-akademik, menghadapi pendapat orang lain, sampai dengan mengatasi keterbatasan anggaran. Adanya masalah tersebut akan menjadikan mahasiswa siap terjun ke lapangan setelah mereka lulus kuliah. Bukankah saat kita ingin menjadi seorang driver, kita pernah jatuh dan terluka, harus meluangkan waktu, bahkan dimaki orang karena keterbatasan kita dalam mengendarai kendaraan? Jika kita menyerah pada saat mengalami masalah, kita hanya dapat menjadi seorang passenger.
Gunakan waktu dan kesempatan dengan sebaik-baiknya. Dua hal itu tidak akan pernah kembali. Empat tahun untuk lulus sarjana terlalu pendek jika kita tidak bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk memberikan yang terbaik bagi diri kita, orang tua, dan lingkungan. Manfaatkan segala fasilitas yang dapat kita gunakan selama kita menjadi mahasiswa dengan sebaik-baiknya. Jadilah mahasiswa yang memiliki keseimbangan dalam bidang akademik maupun non-akademik, keseimbangan dalam kecerdasan spiritual, sosial, emosional, dan intelektual. Satu kalimat untuk mahasiswa: Majulah bersama UM tercinta!
Penulis adalah Dosen  Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi  dan anggota Penyunting Majalah Komunikasi

Bagikan informasi ini: