Populerkan Bahasa Indonesia di Prancis dan AS

Sejak tahun 2010 sampai sekarang, Nissa Rahma Nur Aprilia menjadi pengajar BIPA di Universitas Negeri Malang (UM). Memiliki motivasi yang kuat mengenai diplomasi bahasa dan budaya Indonesia, mengantarkan ia terbang ke Amerika Serikat (AS) dan Prancis dalam misi menginternasionalkan bahasa Indonesia sebagai kebudayaan Indonesia. Kecerdasan dan keberanian diri untuk meraih mimpi di BIPA, AS, dan Prancis ia dapatkan tidak dengan mudah seperti membalikkan telapak tangan.


Perempuan yang biasa dipanggil Nissa ini mulai bercerita menembus waktu ke masa kecilnya. Berawal dari ayahnya yang berprofesi sebagi dosen Sastra Indonesia di UM sekaligus menjadi pegiat BIPA UM pada masanya. Ayah Nissa yang bernama Alm. Widodo HS. sering mengajak Nissa kecil yang terlihat mempunyai bakat terpendam dalam inteligensi bahasa bermain dengan mahasiswa asing yang menjadi mahasiswa di BIPA UM. Peran ayah dalam mengenalkan bahasa ke Nissa sangat berarti hingga sekarang. Hal tersebut mengantarkan Nissa pada masa perjuangan meraih beasiswa. Ia pernah mencoba beasiswa untuk sekolah SMA di Singapura dan beasiswa AFS (pertukaran pelajar ke Amerika, red.). Meskipun itu gagal, tapi Nissa tidak menyerah. Lalu ia mencoba beasiswa Fullbright untuk S-2, tetapi gagal lagi. Nissa pun memutuskan untuk kuliah di jurusan Sastra Inggris UM pada tahun 2007. Di awal perkuliahan, ia merasa bosan dengan ritme perkuliah yang monoton. Lantas, ia mengambil keputusan untuk kuliah disambi dengan mengajar les bahasa Inggris. Setelah memasuki semester lima, Nissa membuat gebrakan baru untuk hidupnya dengan mengikuti BIPA di tahun 2010 sebagai peer tutor di progam Critical Language Scholarship (CLS) Amerika. Peserta CLS berasal dari berbagai universitas di Amerika yang sedang menempuh pendidikan S-1 sampai dengan S-3. Dimulai dengan hanya menjadi peer tutor atau rekan bicara mahasiswa asing, Nissa memulai karirnya. Berkat ketelatenan dan kesabarannya, tahun 2011 ia direkrut secara tetap menjadi pengajar BIPA sampai sekarang.
Kecintaan terhadap bahasa tidak berhenti di situ saja. Setelah menyelesaikan skripsi pada tahun 2012, Nissa melanjutkan pendidikan S-2 Sastra Inggris di UM. Pada tahap penyelesaian tesis, Nissa mendapat kabar bahagia bahwa ia diterima menjadi teaching assistant di Ohio University AS untuk mengajar Bahasa Indonesia bagi mahasiswa Ohio dalam berbagai level. Nissa memutuskan untuk cuti kuliah S-2 di UM dan mengambil kuliah S-2 di Ohio University. “Setelah itu saya diterima kuliah S-2 di Ohio University dengan jurusan Asian Studies pada 2014, disana saya antara belajar, mengajar dan survive. Saya menjadi teaching assistant dan mengajar bahasa Indonesia” tambah Nissa. Kegigihan Nissa dalam mengajar dan mengenalkan budaya Indonesia terhadap mahasiswa asing sangat tinggi. Di AS dan Prancis, ia mencari dan merekrut mahasiswa asing agar tertarik dan ikut kelas bahasa hingga membuat perangkat pembelajaran sendiri. Kegigihannya membuahkan hasil dengan didapatkannya penghargaan Center for International Studies Teaching Award pada tahun 2015.
Perempuan yang mempunyai hobi menonton film dan mendengarkan musik ini juga sosok yang ramah. Ia bisa dengan mudah beradaptasi dengan lingkungan baru di AS. Di luar negeri, ia berusaha survive dengan bekerja sambilan di food court kampus untuk menambah penghasilan.
Ketika ditanya tentang kesannya menjadi pengajar mahasiswa asing, perempuan asli Malang ini mengatakan bahwa mengajar mahasiswa asing mempunyai tantangan tersendiri. Salah satu tantangannya, yaitu menghadapi semangat belajar mahasiswa asing yang fluktuatif. Beberapa siswa terlihat antusias belajar dan beberapa siswa terlihat tidak merespons dengan baik. Akan tetapi, hal itu tidak menjadikan motivasi Nissa menurun. Ia berusaha menarik minat mahasiswanya dengan mengenalkan budaya dan indahnya wisata di Indonesia. Pengalaman menjadi teaching assistant dan mahasiswa ketika di Ohio University sangat berharga karena ia dapat memperkenalkan berbagai kebudayaan Indonesia. Setelah dua tahun berada di Amerika Serikat dan menyelesaikan final project di kampusnya, Nissa kembali ke Indonesia dengan membawa segudang pengalaman yang siap dibagikan kepada teman-temannya.
Tidak cukup puas hati dengan kesuksesan yang ia raih di Amerika Serikat, tahun 2016 ia menyelesaikan tanggung jawabnya di pendidikan S-2 Sastra Inggris UM. Setelah menuntaskan pendidikannya, Nissa kembali memperjuangkan bahasa Indonesia ke ranah internasional melalui progam Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan (PPSDK) dari Kemendikbud Indonesia untuk menjadi instruktur bahasa (2017-2018). Setelah melewati tahap seleksi, Nissa lolos dan ditempatkan di Prancis. Ini menjadi pengalaman kedua mengajarkan bahasa Indonesia kepada mahasiswa asing setelah di AS. Tidak tanggung-tanggung, di Prancis Nissa dipercayai mengajar di tiga tempat sekaligus. Ia ditugaskan di Aix Marseille Universite, Universite Nice Sophia Antipolis, dan Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) di Marseille, Prancis. Menjadi instruktur bahasa di tiga tempat sekaligus dalam satu minggu bukanlah hal mudah. Nissa harus bolak-balik menggunakan transportasi umum dengan jarak yang jauh. Perjuangan itu ia lakoni semata-mata demi tetap menjadikan bahasa Indonesia sebgai mata kuliah tetap di beberapa universitas di Prancis.
Kemampuan berbahasa Inggris yang dimiliki tentu sangat membantu dirinya dalam beradaptasi di setiap negara, termasuk Prancis. Berbeda dengan mahasiswa di AS, menurut Nissa, karakteristik mahasiswa Prancis lebih tertutup. Selama dua semester Nissa menjadi instruktur bahasa Indonesia di Prancis, ia kembali mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Terlebih, ia tidak hanya mengajari mahasiswa, tetapi juga para bapak/ibu warga asing yang sudah pensiun dari pekerjaan mereka. Latar belakang kehidupan mereka yang unik menambah cerita tersendiri dalam hidup Nissa. Nissa baru saja tiba dari Prancis pada bulan Juni lalu.
Hubungan Nissa dengan mahasiswanya tidak berhenti sampai di sini. Perempuan berkacamata dan berpenampilan sporty ini tetap menjalin komunikasi dengan mahasiswanya, bahkan terdapat beberapa mahasiswa asing yang akan mengunjungi Nissa ke Indonesia akhir tahun nanti. Pengalaman menarik tidak hanya ia dapatkan ketika berada di AS dan Prancis saja, ketika di Indonesia Nissa sangat antusias dengan mahasiswa asing yang mengikuti progam CLS. Ia mengajar di level pemula dengan materi awal seperti perkenalan, cara menyapa dan bertanya, menghafal angka, hingga lancar presentasi di depan kelas. Kebanggan tersendiri baginya adalah ketika ada salah satu mahasiswanya di kelas pemula yang bernama Bill Wang berani melakukan stand up comedy di kafe dengan menggunakan bahasa Indonesia. Menurut Nissa, hal tersebut bisa memotivasi mahasiswa lain untuk berani kooperatif dan proaktif mempraktikkan bahasa Indonesia dan mencoba hal baru di depan umum. “Kuncinya kerja keras, nggak gampang menyerah, dan tetap semangat,” tutup Nissa. Amey.

Bagikan informasi ini: