Wayang Suket: Dari Rumput Menjadi Aset Budaya

Berlangsungnya Workshop Kebangsaan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Hukum dan Kewarganegaraan (HKn) mendapat antusias yang cukup baik dari mahasiswa HKn. Terbukti dari jumlah peserta yang memadati Aula H.O.S Tjokroaminoto Fakultas Ilmu Sosial (FIS) sebagai tempat penyelenggaraan acara. Kegiatan tersebut dihelat pada Kamis (01/11), dengan menghadirkan Syamsul Subakri atau yang akrab disapa Mbah Jo, seorang Pegiat wayang suket dari Kota Malang sebagai pembicara utama. Tujuan acara ini sendiri untuk mengenalkan dan melestarikan wayang suket (wayang berbahan rumput) sebagai bagian dari budaya Indonesia.

 

Tidak hanya pemberian materi tentang wayang suket, Mbah Jo juga mengajari peserta cara membuat wayang suket dan menampilkan pergelaran wayang suket itu sendiri. Biasanya, rumput yang digunakan untuk membuat wayang suket adalah rumput mendong, jenis rumput yang banyak tumbuh di pinggir sungai dan sering dipakai untuk bahan dasar tikar. Mbah Jo juga menjelaskan bahwa dalam proses pembuatan wayang suket mengandung banyak nilai filosofis. Ia kerap membuat pertunjukan wayang suket sambil memperlihatkan cara pembuatannya. “Saya beri nama Puspasari Rani Darmo Kondo, Ratu Bunga yang cantik,” ujarnya di sela-sela membuat wayang tersebut.

Dewi Ayu Sakdiyyah

Bagikan informasi ini:

Leave a Comment