Motif Batik Bertajuk Kerinduan

Demi memenuhi tugas akhir mata kuliah Manajemen Kewirausahaan Seni Batik dan Keramik, Mahasiswa Fakultas Sastra (FS), Jurusan Seni dan Desain (Sedesa), Program Studi Pendidikan Seni Rupa (PSR) angkatan 2015 melangsungkan pameran karya seni batik dan keramik. Pameran yang berjudul “Objektivikasi Subjektiva” atau “OS” ini, memamerkan karya-karya gabungan dari mahasiswa konsentrasi batik dan keramik. Bertempat di Sasana Budaya Universitas Negeri Malang (UM) selama tiga hari pada (18-20/12). Tujuan lain dari pameran ini adalah untuk publikasi karya-karya unik penuh filosofis dan meningkatkan apresiasi estetik masyarakat umum terhadap batik.

Sebuah karya lahir atas latar belakang penciptanya, seperti salah satu karya batik milik Dwi Ayu Atika Sari. Tika, begitu sapaan akrabnya, membuat motif batik yang bertajuk “Kerinduan”. Ia menciptakan motif yang diangkat dari alam. Menurutnya, alam itu menenangkan. Inspirasi terbaik adalah alam dan manusia tidak bisa hidup jauh dari alam. Motif yang muncul dalam karya Tika antara lain, motif pisang, bambu, dan jati. Tika mengaku bahwa ia mengangkat ketiga motif itu secara spontan atas dasar kerinduan. Menurutnya, ketiganya sangat dekat dengan kehidupannya.

Karya pertamanya mengangkat pisang sebagai motif. Ia menceritakan bahwa daerah asalnya, Lampung yang terdapat banyak perkebunan pisang.Dalam motif yang ia buat terdapat visualisasi jantung pisang, makna yang ingin disampaikan, yaitu “Jantung adalah fokus kahidupan, tanpanya manusia tidak bisa hidup. Tanah kelahiran seperti jantung, kemana dan seberapa lama pun pergi, ada kalanya manusia pasti ingin kembali,” jelasnya. Motif pisang tersebut disajikan dalam produk berupa jam. Kenapa jam? Ia ingin mengingatkan kepada masyarakat untuk lebih menghargai waktu.

Motif kedua, yakni bambu. Ia mengangkat bambu sebagai motif batik dengan alasan bambu adalah saksi bisu kehidupannya mulai ia kecil sampai sekarang ini, bambu pula yang mengingatkan Tika pada almarhum kakeknya. Sedikit bercerita, satu rumah yang menjadi titik temu keluarga besarnya, yakni rumah nenek dan kakeknya. Di belakang rumahnya terdapat pohon bambu yang sangat rindang. Banyak sekali waktu yang ia habiskan di bawah pohon bambu bersama teman dan keluarganya. Menurutnya jika sudah ada teman, keluarga, bambu, dan hembusan angin, dunia serasa hanya ada di lingkaran itu. Kerinduan inilah yang tidak ditemuinya di perantauan. Berawal dari kerinduan itu, ide motif bambu tertuang pada batiknya dalam produk tirai. Alasan memilih tirai karena tirai adalah awal kehidupan. Bagaimana tidak, meskipun terdapat pemandangan yang sangat indah di luar, kita tidak bisa melihatnya pada tirai tertutup.

Motif ketiga merupakan karya ecoprint dari daun jati. Karya ini, salah satu karya yang sangat ramah lingkungan karena motif dan warnanya tercipta langsung dari daun jati tanpa ada tambahan pewarna sintesis lain. Secara keseluruhan, melalui karyanya, Tika ingin menyampaikan pesan bahwa alam adalah penyumbang ide terbaik. Manusia harus bersyukur akan keberadaannya. Sebagai manusia yang memiliki akal, sudah sepatutnya menjaga apa yang telah Tuhan berikan.

Penulis: Dwi Ayu Atika Sari (Mahasiswa S1 Pendidikan Seni Rupa UM)

Bagikan informasi ini: