Gagas Ide Kebat, Keke Jadi Wakil I Raki Jatim

Rangkaian puncak acara Pemilihan Raka Raki Jawa Timur 2019 digelar pada (15-18/3) di Taman Chandra Wilwatikta, Kabupaten Pasuruan. Mahasiswa Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Inggris Universitas Negeri Malang (UM), yakni Fitrinda Wieke Dwie Putri menjadi salah satu kandidat Raki terpilih dan menjadi Wakil I Raki Jawa Timur 2019. Kepiawaiannya dalam mengangkat wisata dan budaya tradisi Jawa yang disuguhkan melalui vlog berhasil membawanya menjadi pemenang.

 

Tujuan diselenggrarakan pemilihan Raka-Raki Jawa Timur sebagai bentuk marketing tourism. Dengan terpilihnya sumber daya manusia yang berkompeten, akan tercipta pelayanan di bidang pariwasata yang berkualitas. Perempuan yang akrab disapa Keke ini menceritakan pengalaman berharga ketika grand final. Ia menjadi salah satu kandidat yang berhasil mewakili potensi wisata yang ada di daerahnya Dusun Ngukir, Desa Torongrejo, Kec Junrejo, Kota Batu.

 

Kelihaiannya dalam menggunakan bahasa Inggris ketika presentasi dan interview mengenai topik ciri khas budaya dan tradisi Jawa, membuat Keke melaju ke babak lima besar. “Keke di pemilihan Raka-Raki mengangkat Kampung Edukasi Budaya Alam dan Tradisi (Kebat) karena tempat tersebut mengenalkan objek wisata dan budaya tradisi Jawa. Jadi, Keke membuat vlog tentang kampung tersebut yang diunggah di youtube . Kebat kaya akan filosofi kehidupan, khususnya wisata yang berbaur dengan alam sehingga menjadi salah satu hal yang spesial dari kontestan lain,” tegasnya.

 

Masuk dalam lima besar, Keke mendapat pertanyaan tentang saran untuk pengusaha pariwisata di Jatim dalam menghadapi industri 4.0 agar dunia pariwisata tetap berkembang. Tanpa ragu, ia menjawab pertanyaan tersebut menggunakan bahasa Inggris dengan sangat baik. Tak luput pula, ia memberikan harapan bagi generasi milenial agar lebih inovatif dan kreatif dalam mengembangkan ide-idenya, salah satunya dalam mendukung pariwisata di Jawa Timur.

“Harapan untuk generasi milenial dalam menggunakan sosial media jangan hanya digunakan untuk berkomentar negatif dan menyebarkan berita hoaks, tetapi mereka juga bisa memunculkan ide-ide dalam membantu pemerintah, khususnya di daerah asalnya dalam sektor pariwisata dan dapat memanfaatkan teknologi dalam mengembangkan ekonomi kreatif,” pungkasnya.

Pewarta: Karina Okta Bella

Bagikan informasi ini: